
Tubuh Lindsey menegang. Lucas menyadari itu dan ia mendongak untuk menatap istri Lindsey.
“Benar, itu bukan salahku.” ucap Lindsey tiba-tiba berhenti menangis, ia menatap Lucas penuh makna.
“Itu salahmu.” ucapnya tajam.
“Sayang?” tanya Lucas tidak mengerti.
“Itu salahmu Lucas, seandainya kau tidak berbohong padaku, aku tidak akan pergi.” Lindsey menatap Lucas tajam. “Kau berbohong padaku, kau menipuku!”
“Lindsey sayang, apa yang kau bicarakan?”
“Semuanya salahmu! Kau menipuku! Kau yang membuatku kehilangan anakku!” Lindsey mulai berteriak histeris. “Kau pembunuh! Aku membencimu Lucas! Aku membencimu!!” Lindsey memukuli Lucas yang menatapnya kaku.
“Kau membuatku kehilangan anakku!” Lindsey masih memukuli bahu Lucas dengan menangis histeris.
“Sayang,”
“Seandainya kau tidak membohongiku, aku tidak akan pergi dan anakku masih akan bersamaku. Bersama kita Lucas,” suara Lindsey kembali memelan. Ia merasa sangat sakit. Dadanya terasa sangat sesak.
Benar, tidak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana rasa yang ia rasakan saat ini. sakit, sesak, kecewa, hancur, sedih. Semuanya tidak bisa menggambarkan betapa sakit yang ia rasakan saat ini sudah diluar pikiran. Tapi rasa itu nyata, seakan mampu membunuhnya.
Apakah seperti ini rasanya kehilangan? Anak yang bahkan belum diketahui keberadaanya namun memilih pergi. Apa anaknya kecewa padanya sehingga memilih untuk pergi? Ya Tuhan rasanya sakit sekali.
Jiwa dan raga Lindsey rasanya sangat lelah. Ia tidak sanggup lagi jika harus merasakan rasa ini lebih lama lagi. Rasanya Lindsey bisa mati karena rasa ini sakit sekali.
Sedangkan Lucas, lelaki itu hanya terdiam tidak membantah maupun menyela ucapan Lindsey sedikitpun. Ia tahu Lindsey begitu kesakitan. Ia memilih diam dan membiarkan Lindsey menyalahkannya. Itu terasa lebih baik jika harus melihat istrinya yang menyalahkan dirinya sendiri.
Lucas menghela napasnya panjang. Ia memang merasa sakit ketika istri yang begitu dicintainya mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Tapi bisa saja psikis istrinya itu jadi sedikit terganggu karena rasa kehilangan yang amat sangat besar membuat Lucas menjadi lebih bisa sabar dan lapang dada.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Lucas. Ia memandang lurus pada Erick dan Patrick yang berjalan memasuki ruangan Lindsey.
“Ada apa?” tanya Lucas serak. Berbeda dengan Lindsey yang lebih memilih diam tanpa menoleh pada mereka sedikitpun.
Patrick menatap Lucas prihatin dan serius sekaligus. “Ada sedikit masalah, sir.”
Lucas menatap Patrick sendu. “Masalah apa?” tanyanya. Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi? Dan kenapa harus datang sekarang? Sialan!
“Kayla.”
Mendengar nama itu Lindsey langsung mendengus tidak suka. Lucas menoleh pada istrinya itu ketika merasakan Lindsey yang tiba-tiba enggan di dekatnya.
“Dia hamil anakmu.” ucap Lindsey, “kau masih menidurinya kan? Sekarang dia sedang hamil anakmu.”
Lindsey menatap Lucas dingin, “kau tidak mengakui anakmu sendiri? Beruntung sekali anakku pergi kalau begitu, anakku ternyata tahu kalau ayahnya tidak akan mengakuinya jika seandainya ia bertahan.”
“Baby, itu memang bukan anakku. Percaya padaku, kumohon.” Mohon Lucas frustasi.
“Setelah kau membohongiku kau ingin aku kembali percaya pada kebohonganmu?”
“Baby please,” rengek Lucas frustasi.
“Kita sudah bisa bercerai sekarang. Kau bisa kembali pada jalangmu yang sedang mengandung anakmu itu.”
“Berapa kali harus ku katakan kalau kita tidak akan bercerai!” Lucas berbicara pelan namun penuh ketegasan dan penekanan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya.
“Apa kau lupa? Kau memintaku mengirim surat perceraian kita ke kantormu. Aku akan mengirimkannya lagi.”
“TIDAK! Kita tidak akan bercerai!”
“Untuk apa mempertahankan sesuatu yang memang sudah tidak bisa dipertahankan, Lucas? Itu hanya akan menyakitimu dan aku. Kau membohongiku, anakku sudah pergi, semuanya sudah selesai.”
“Aku tidak pernah membohongimu, aku benar-benar mencintaimu. Ku mohon jangan seperti ini, aku tidak bisa tanpamu sayang. Aku membutuhkanmu, aku sangat mencintaimu. Kita bisa memperbaiki dan memulai semuanya dari awal.” Lucas benar-benar frustasi.
Bagaimana lagi ia harus meyakinkan istrinya itu kalau ia tidak berbohong?
“Kenapa baru memintanya sekarang setelah luca yang begitu besar ini, Lucas?" air mata Lindsey kembali terjatuh.
Lucas menatap Lindsey dalam. Ya Tuhan kenapa rasanya sakit sekali? Lucas menyerah, Ia menyerah untuk meyakinkan istrinya.
Biarlah Lindsey terus meminta cerai yang pasti ia tidak akan pernah mengabulkannya. Lucas berdiri dan mengecup pucuk kepala Lindsey lembut.
“Aku sangat mencintaimu, baby.” ucap Lucas pelan sambil memejamkan matanya lalu meninggalkan Lindsey yang bahkan tidak menoleh padanya.
Lindsey mendengar suara pintu ruangannya yang terbuka kemudian kembali tertutup. Sunyi dan hening. Ia menutup matanya dan air matanya kembali terjatuh.
“Aku juga sangat mencintaimu.” ucapnya pelan. Tapi Lucas tidak bisa mendengarnya, lelaki itu sudah pergi.
*****
**Maaf ya bikin kalian nunggu lama cerita ini. Dan aku berterima kasih banget, masih ada yang mau nungguin :')
Love banget sama kalian ❤**