Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 63



Pesawat yang ditumpangi Lindsey mendarat dengan mulus di bandara internasional John F. Kennedy.


Kota New York masih siang ketika Lindsey mendarat. Penerbangan dari London menuju New York memakan waktu 8 jam lebih. Tapi berhubung waktu London lebih cepat lima jam dibandingkan kota New York, Lindsey tetap sampai di siang hari.


Lindsey menelusuri jalan keluar mencari keberadaan ayahnya, yang kata ibunya sudah menunggu kedatangannya. Pandangan Lindsey masih mencari ketika ia merasakan tepukan di pundaknya dengan pelan. Ia berbalik dan menemukan yang dicarinya ternyata sudah menemukannya terlebih dahulu.


Senyum Lindsey mengembang, “Ayah sudah lama menunggu?” tanyanya.


“Tidak juga, sudah lama ayah menunggu seperti hari ini, menjemput putri ayah.”


“Bagaimana kabar ayah?”


“Ayah baik-baik saja, dan merasa jauh lebih baik lagi setelah bertemu denganmu.” Erick mengelus puncak kepala Lindsey dengan sayang.


Lindsey tersenyum tipis, seketika ia mengingat Lucas. “Apa ayah sudah bertemu dengan Lucas?”


“Belum, tapi kau akan segera bertemu dengannya.” Lagi-lagi Lindsey tersenyum. Mereka lalu berjalan ke arah parkiran. Seorang supir sudah menunggu mereka di sana.


Setelah kejadian di rumah sakit beberapa bulan lalu, Lindsey memang menjadi lebih akrab dengan ayahnya. Erick juga lah yang menyuruhnya pulang saat itu, dengan berbagai bujukan dan kata maaf hingga akhirnya ia mau pulang dan bertemu dengan ibunya.


Saat itu Lindsey memang cukup terkejut atas perubahan sikap kedua orang tuanya. Namun berbeda dengan Liliana, adik angkatnya itu menjadi lebih pendiam padanya. Liliana tidak akan bersuara jika tidak ditanya terlebih dahulu. Entah apa yang sudah terjadi, Lindsey tidak tahu.


Atau mungkin juga karena akhirnya Liliana diberi tahu kalau ia bukan anak kandung seperti yang Lindsey kira selama ini. Yah, Lindsey akhirnya tahu kalau Liliana adalah anak angkat ibunya. Ia memang cukup terkejut mengetahui hal itu, di mana selama ini ia mengira kalau dirinya lah yang merasa sebagai anak angkat.


Ditambah lagi dengan adanya pernikahan dadakan antara dirinya dan Lucas, semakin besarlah kesalahpahaman itu.


Ayahnya mengatakan kalau ia menikahkan Lindsey dengan Lucas karena saat itu Lucas menginginkan seorang istri. Dan kondisi di mana Perusahaan mereka yang kala itu akan segera bangkrut, membuat Erick mendapatkan sebuah rencana.


Tujuan awal Erick menawarkan Lindsey pada Lucas bukan karena ingin suntikan dana, ayahnya itu hanya tidak ingin melihat Lindsey hidup susah karena mereka bangkrut. Tapi kemudian Patrick, tangan kanan Lucas menawarkan bantuan. Mereka kemudian sepakat karena mau bagaimanapun juga mereka akan menjadi keluarga.


Tapi Lucas saat itu menolak untuk mengambil alih perusahaan milik mereka dengan alasan perusahaannya sudah banyak. Sombong memang, tapi lelaki itu bersedia menutupi setiap kerugian yang mereka buat. Dan kesepakatan itu akhirnya tercapai dengan Lindsey sebagai jaminannya.


Erick dengn jaminan bahwa putrinya tidak akan hidup sengsara, sedangkan Lucas dengan jaminan Lindsey dapat diandalkan selamanya. Kesepakatan itu akhirnya berbuah baik, Erick dan Lucas sama-sama diungtungkan. Erick yang mendengar kalau putrinya bisa beradaptasi dengan baik, dan Lucas yang mendapatkan cinta dari Lindsey.


Namun kebaikan itu tidak bertahan lama, sejak Liliana datang hingga Bryan yang mencoba membunuh bayinya. Sungguh itu semua benar-benar drama yang menyakitkan, tapi disini lah Lindsey sekarang, dengan harapan yang baru. Ia akan membuka lembaran baru dengan Lucas. Melupakan masalah yang sudah lewat, menganggap semuanya sebagai proses pendewasaan diri.


“Apa Lucas tahu kalau aku masih mengandung?” tanya Lindsey setelah mereka sudah di jalan untuk keluar dari kawasan bandara.


Erick menoleh menatap putrinya. “Patrick sudah memberitahunya.”


Lindsey menoleh dan menatap ayahnya dengan semangat. “Bagaimana tanggapannya?”


Erick menghela napas, “Ayah tidak tahu, Patrick belum memberitahu ayah. Lagipula sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Kita akan tahu nanti.”


Lindsey mengangguk paham.