Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 44



Sinar mentari yang masuk melalui celah-celah kecil cukup mengganggu tidur Lindsey. Suasana yang cukup tenang pagi ini.


Lindsey lalu meraba di sebelahnya dan tidak menemukan apa-apa. Kesadaran langsung menghentak nya, ia terduduk dan menoleh ke sebelahnya. Lagi-lagi ia sendirian.


Rasa sesak muncul di dadanya. Lindsey menatap sekelilingnya. Merasa asing dengan tempat ini. Ini bukan kamarnya dan Lucas.


Mengingat nama itu, sekelebat bayangan muncul kembali di kepalanya. Suara percakapan Lucas dengan Jonathan kembali terdengar di telinganya dengan nyaring. Damn! Rasanya dadanya semakin sesak saja.


Air mata Lindsey kembali turun menyentuh pipinya. Ternyata Lucas memang berbohong. Lelaki itu tidak mencintainya. Ia pergi, dan Lucas membiarkannya pergi. Ia meminta cerai, dan Lucas juga mengabulkannya. Miris sekali.


Kenapa Lindsey bisa jatuh cinta pada Lucas? seandainya ia tidak jatuh cinta pada lelaki itu, Lindsey tidak akan merana seperti saat ini. Demi para dewa! Lindsey mencintai Lucas begitu dalam, sampai rasanya ia ingin mati jika harus hidup tanpa Lucas.


Tapi Lucas membiarkannya pergi.


Suara ketukan pintu membuat Lindsey buru-buru menghapus air matanya. Bryan masuk ke dalam kamar itu dengan sebuah nampan berisi makanan.


Ah iya, ia sekarang berada di tempat Bryan. Sudah beberapa hari ia tinggal di sini, tapi kenapa rasanya ia tidak bisa beradaptasi dengan baik? Berbeda saat dulu ketika masih tinggal di mansion suaminya. Ah, calon mantan suami. Sialan.


“Bagaimana perasaanmu?” Bryan meletakkan nampan itu di atas nakas. Ia mengambil tempat duduk di dekat tempat tidur Lindsey, sedangkan wanita itu masih terduduk di atas tempat tidurnya.


“Aku merasa lebih baik.”


“Syukurlah. Aku membawa makanan, kau harus makan. Kau terlihat lebih kurus.”


“Ini berat badan idealku.”


“Benarkah? Kau justru terlihat seperti orang kekurangan gizi.”


Lindsey tertawa, ini tawa pertamanya setelah melewati beberapa hari yang melelahkan dan menguras air mata.


“Kau hampir setiap saat mengantarkan ku makanan, bagaimana mungkin aku bisa kekurangan gizi?”


Kali ini Bryan yang tertawa,


“Kau benar, tapi kau harus makan lebih banyak. Apa kau masih merasa pusing? Atau mual?”


“Sudah tidak. Aku juga bingung kenapa setiap pagi aku tiba-tiba merasa mual dan pusing, padahal sebelumnya aku baik-baik saja.”


“Aku tidak mungkin meracuni mu my Lind-Lind,” Bryan sedikit tersinggung dengan kalimat Lindsey barusan.


Lindsey kembali tertawa, “Aku sudah pasti mati dari beberapa hari yang lalu kalau memang kau meracuniku, Bryan.”


“Apa kau mau ke dokter? Aku cukup khawatir.”


“Tidak usah, aku sudah merasa lebih baik. Sepertinya aku sudah sembuh.”


“Hampir setiap hari kau mengatakan kalau kau sudah sembuh.” Bryan memutar bola matanya, jengah.


“Sudah berkali-kali ku katakan, ini hanya masuk angin biasa.”


“Masuk angin tidak mungkin setiap hari.”


“Kau yakin?”


“Percayalah padaku, aku yang merasakannya. Dan aku merasa kalau aku sudah sembuh!” Lindsey berucap sedikit garang membuat Bryan lagi-lagi memutar bola matanya.


“Ya, ya, ya baiklah aku percaya. Ngomong-ngomong, apa kau dan suamimu benar-benar akan bercerai?” Ada sedikit nada senang di kalimat terakhir itu.


Suasana hati Lindsey langsung terjun bebas begitu mendengar pertanyaan Bryan barusan. Ia tersenyum kecut. Tentu saja mereka akan bercerai, toh Lucas tidak mencintainya. Walau ia tidak ingin, ia bisa apa memang?


Lindsey hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu.


Melihat itu senyum di bibir Bryan langsung merekah. “Kau ingin aku membantumu membuat surat cerainya? Aku akan menyewa pengacara paling hebat untukmu.”


Lagi-lagi Lindsey mengangguk pasrah. Seperti yang ia bilang, sekalipun ia tidak ingin bercerai, tapi ia bisa apa kalau Lucas mengabulkannya? Lagipula Bryan sepertinya juga ingin agar ia segera terbebas dari Lucas. Jadi ia tidak akan menolak tawaran itu.


“Lindsey aku tahu ini berat untukmu, tapi percayalah selalu ada pelangi sehabis hujan.” Bryan mendekat dan mengelus puncak kepalanya.


Bryan masih sangat baik padanya walau Lindsey sudah mengingkari janji yang pernah mereka buat dulu.


“Percayalah, kau akan bahagia setelah ini.” Bryan tersenyum sambil mengeluh puncak kepala gadisnya.


Tentu saja setelah ini ia akan mendapatkan Lindsey sepenuhnya. Wanita ini akan menjadi miliknya sepenuhnya.


“Aku akan menghubungi pengacaraku untuk membantumu. Kau tenang saja, aku akan mengatur segalanya.” Ucapnya lagi.


“Terima kasih.” Ucap Lindsey lemah, walau dadanya sesak tapi ia harus tetap bertahan.


“Tidak perlu sungkan.”


Merasa kalau Bryan sudah terlalu lama mengelus kepalanya, Lindsey mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Ngomong-ngomong apa yang kau bawa? Aku lapar,” sejujurnya ia merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan lelaki itu.


“Ah, aku membawa bubur. Makanlah.” Bryan beralih mengambil nampan itu dan memberikannya pada Lindsey.


Bryan sudah dalam posisi untuk menyuapi Lindsey, tapi Lindsey langsung menolaknya dengan halus. Semakin tidak nyaman. Ia hanya ingin Lucas yang menyuapinya.


Namun penolakan halus itu membuat Bryan tersinggung. Jadi secepat kilat Lindsey langsung ber-akting.


“Aku bisa sendiri Bryan. Aku bukan anak kecil lagi.” Ucap Lindsey dengan nada merajuk.


Raut wajah Bryan yang awalnya pias kembali seperti semula. “Aku lupa.” Ucapnya lalu tertawa. “Aku akan keluar sebentar untuk berbicara dengan pengacaraku.” Ia mencium puncak kepala Lindsey.


Sedangkan Lindsey sudah membeku di tempatnya. Ia merasa tidak nyaman dengan perilaku Bryan.


Bukan tanpa alasan tadi ia berbicara dengan nada merajuk, ia tahu lelaki itu tersinggung pada penolakannya jadi sebisa mungkin ia langsung berubah. Sejujurnya ia sedikit merasa takut pada lelaki itu, ia merasa Bryan berubah.


Tapi bukan hanya itu, setiap kali Bryan mendekat padanya, ada bagian dalam dirinya yang tidak ingin lelaki itu mendekat padanya.


Bagian dirinya itu seakan tidak suka dengan keberadaan Bryan, tapi ia tidak tahu apa dan kenapa.