
Lucas menahan setiap kobaran amarah dalam dirinya. Seharusnya ia memang membunuh Bryan saat ada kesempatan. Bukan malah melepaskan lelaki sialan itu begitu saja. Apalagi saat ini Lucas sudah tahu kalau lelaki sialan itu yang juga sudah membunuh salah satu anaknya.
Rasa bersalah kembali menghantui Lucas. Rasa bersalah pada anaknya yang sudah pergi lebih dulu. Pergi sebelum anaknya sempat bernapas ataupun melihat dunia. Pergi sebelum mereka belum melihat kedua orangtuanya. Sialan! Bryan akan menanggung semuanya! Lelaki ******** itu harus merasakan kesakitan seperti yang ia rasakan. Lucas bersumpah kalau Bryan tidak akan pernah hidup tenang.
Pandangan Lucas kembali pada Kayla dan perut besarnya. Melihat wanita hamil itu entah kenapa membuat Lucas merasakan sedikit penyesalan. Apalagi mengetahui kalau Kayla mengandung anak kembar. Dadanya terasa sesak mengingat Lindsey yang seharusnya juga akan memiliki perut seperti itu.
Lucas memejamkan matanya sejenak. Mencoba mengatur napasnya agar lebih rileks, setelah merasa lebih tenang Lucas membukan matanya. "Pergilah Kayla." ucal Lucas.
Dengan segera Kayla langsung berjalan menjauhi mereka. Wanita itu langsung pergi meninggalkan Lucas dan orang-orangnya. Setelah Kayla menjauh Lucas menoleh pada Patrick.
"Awasi perempuan itu." ucap Lucas lalu berjalan meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju mobilnya. John membukakan pintu untuk Lucas.
Patrick mengangguk lalu memerintahkan beberapa anak buah Lucas yang ada ditempat itu untuk mengawasi setiap pergerakan Kayla. Patrick menyuruh mereka untuk melaporkan setiap kegiatan Kayla. Setelah itu ia berbalik dan menyusul Lucas yang sudah memasuki mobil. Patrick duduk di depan dan mobil itu langsung melaju meninggalkan rumah besar itu.
Mobil itu lagi-lagi melaju dalam keheningan. Semua orang yang ada di dalam mobil itu memiliki kesibukan tersendiri. Lucas yang sibuk dengan pikirannya, Patrick yang sibuk dengan jadwal-jadwal Lucas dan John yang sibuk menyetir.
"Patrick." Panggil Lucas dengan suara yang sarat kelelahan.
"Yes sir?" Jawab Patrick, tapi ia harus menunggu cukup lama sebelum kemudian Lucas kembali bersuara.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Patrick mengernyit bingung. "Mereka?" tanyanya balik.
"Istri dan anakku."
Patrick tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat lega seperti saat ini. Awalanya Patrick mengira kalau Lucas benar-benar marah padanya. Apalagi melihat ekspresi Lucas yang sebelumnya sangat sulit dibaca. Tapi akhirnya Lucas menanyakan keadaan mereka membuat Patrick sangat lega.
"Mereka baik-baik saja sir," ucap Patrick. "Anda bisa menemui mereka di Lon-"
"Tidak." Lucas memotong kalimat Patrick yang membuat Patrick terkejut dengan penolakan Lucas. Apa perkiraan Patrick salah? Lucas tidak benar-benar membencinya bukan?
"Sir?"
"Dia membohongiku Patrick."
Ha? Patrick tidak mengerti.
"Dia mengatakan kalau kami sudah kehilangan anak kami. Dia mengirimkan surat cerai itu secara rutin padaku. Lindsey menipuku."
Patrick membeku. Apa ia salah langkah karena ikut menyembunyikan kenyataan itu? Dan bukan hanya itu, Patrick juga mengambil bagian untuk mengirimi surat cerai secara rutin pada Lucas dengan mengatasnamakan bahwa surat tersebut berasal dari Nyonya-nya. Oh Tuhan Patrick merasa sangat kacau.
Dan pernyataan Lucas selanjutnya semakin membuat Patrick syok.
"Aku akan menandatangani surat cerai itu saja."
Lidah Patrick kelu. Ia merasa kalau saat ini ia sudah berada di dalam sebuah gua yang gelap tanpa ada jalan keluar. Patrick sudah salah langkah dan membuat kesalahan.
"An-Anda ti-tidak boleh me-menceraikan Nyonya sir, be-beliau sedang hamil." Ucapnya terbata-bata. Ini adalah kesalahannya. Shitt!
"Ta-tapi sir,"
"Berhenti membelanya Patrick! Lebih baik sekarang kau siapkan pertemuanku dengan Jonathan, dan jangan ganggu aku sampai kita sampai di tempat Jonathan. John kita ke tempat Jonathan saja." ucap Lucas lalu memejamkan matanya.
John mengangguk dan melajukan mobilnya ke kantor Jonathan. Sedangkan Patrick terduduk kaku di sebelah John. Merasa teramat sangat bersalah. Ia terlalu bersemangat membuatkan Lucas surat cerai itu. Meski surat itu tidak sah, tapi tetap saja Lucas sudah terlanjur salah paham. Oh, untuk pertama kalinya Patrick menjadi sangat bodoh.
____________
Jonathan sedang menelepon seseorang ketika dengan tidak sopannya Lucas masuk dan langsung duduk di sofa ruangannya dengan raut wajah yang muram. Bahkan lebih muram darinya. Jonathan tidak buta, berita perceraian sepupunya itu sudah menyebar dengan dahsyatnya di media-media.
Apalagi sekarang? batin Jonathan. Ya Tuhan, kenapa sepupunya yang satu ini memiliki banyak sekali permasalahan yang rumit, Sedangkan dirinya juga masih harus berjuang mencari Evelyn yang sedang mengandung anaknya di luar sana.
"Ada apa denganmu?" tanya Jonathan setelah ia menutup panggilannya dengan salah satu detektif yang disewanya untuk mencari keberadaan Evelyn dan calon anak mereka.
"Aku dengar kau bekerja sama dengan perusahaan Bryan Adams."
Jonathan mengernyit. "Memang, aku berinvestasi pada beberapa perusahaannya dan juga menanam saham yang cukup besar di sana. Tapi sepertinya aku akan menarik semua kerja sama ku itu."
"Kenapa?"
"Masa depan perusahaannya ternyata tidak terlalu bagus."
"Kalau begitu tarik semua saham dan investasimu dari perusahaannya sekarang."
"Memangnya kenapa?" tanya Jonathan tidak mengerti.
"DIa yang mengirimkan rekaman sialan itu pada Lindsey, lelaki ******** itu juga yang sudah membuat salah satu anakku pergi."
Jonathan menatap Lucas syok. "Bagaimana bisa? Memangnya kenapa ia melakukannya?"
Lucas akhirnya menceritakan semuanya mengenai Bryan si 'penyelamat' Lindsey yang tersobsesi pada istrinya itu. Lucas juga menceritakan mengenai Kayla dan ancaman lelaki itu, kebenciannya pada perempuan hamil dan anaknya menjadi salah satu korban dari kebejatan Bryan.
Jonathan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Lucas dengan ekspresi jijik. Ia harus segera menarik semua saham dan investasinya. Dia juga akan membatalkan setiap kerja sama yang akan dilakukannya pada dengan perusahaan milik Bryan tersebut. Ia tidak mau berurusan dengan lelaki psikopat seperti Bryan.
Patrick lalu masuk ke dalam ruangan Jonathan dengan tergesa-gesa. Lucas dan Jonathan menatapnya bingung.
"Ada apa?" tanya Lucas.
"Tuan, saat ini Kayla berada di tangan Bryan."
Lucas dan Jonathan sontak mengumpat mendengar berita itu. Bagaimana tidak? Kayla sedang hamil dan Bryan adalah lelaki sakit jiwa yang sangat membenci perempuan hamil.
"Di mana mereka?" tanya Lucas.
"Di apartemen Kayla sir."
"Ayo temui lelaki sialan itu. Aku masih harus memberinya pelajaran." Ucap Lucas lalu berdiri. Setelah ini, Lucas pastikan Bryab tidak akan bisa tertawa lagi!