
“Apa yang membuatmu bingung?” tanya Lucas penasaran, jarang-jarang Patrick bisa berperilaku seperti ini apalagi sampai merasa bingung.
“Tadi tuan Jonathan menghubungi saya.” ucap Patrick datar, tidak terdengar nada bingung sama sekali. Lucas tersenyum miring. Sedang bingung katanya? Bingung dari Hongkong? Eh, tapi untuk apa Jonathan menghubungi Patrick, tumben sekali.
"Jonathan yang membuatmu bingung?"
Patrick mengangguk. “Tuan Jonathan mengatakan kalau saya membuat nona Evelyn tidak mau bertemu lagi dengannya.” masih tetap datar. Lucas jadi bingung sendiri kenapa Patrick bisa sangat datar seperti ini?
“Memangnya apa yang kau lakukan pada Evelyn? Lindsey juga mengatakan kalau ia tidak jadi wawancara dengan Evelyn siang tadi, tapi malah bertemu dengan Keyla.”
Patrick menoleh pada Lucas dengan cepat. “Saya tidak melakukan apa-apa pada nona Evelyn. Dan maafkan saya sir, saya lupa menghubungi anda kalau perempuan ular itu tadi siang menemui Nyonya.”
“Lindsey mengatakan kalau kau mengusirnya sampai ia terjatuh.”
“Saya hanya menarik tangannya agar ia pergi sir, tapi perempuan ular itu langsung pura-pura terjatuh dan menangis. Membuat Nyonya menatap saya dengan kesal.”
“Kau tahu kalau istriku memang tidak suka kekerasan, membunuh semut saja aku ragu kalau ia akan melakukannya.” Lucas tertawa kecil. Ia jadi ingin menghampiri Lindsey dan memeluk istrinya itu sangat lama. Ah, ia baru ingat kalau Lindsey masih marah padanya. Damn!
“Tapi saya tidak melakukan kekerasan sir, perempuan ular itu yang berlebihan.”
“Aku tahu kalau itu, tidak perlu dijelaskan. Ngomong-ngomong apa yang dikatakan Keyla pada istriku tadi siang?”
“Maafkan saya sir, tapi saya tidak tahu. Tadi saya meninggalkan nona Evelyn dengan Nyonya Lindsey ke belakang sebentar, tapi begitu saya kembali mereka berdua sudah tidak ada dan saya malah mendengar suara perempuan ular itu berbicara dengan Nyonya.”
Lucas mengehela napas rendah, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. penjelasan Patrick tidak membantu sama sekali.
Lucas berdiri dan hendak meninggalkan Patrick dengan kebingungannya yang datar itu.
“Tidak ada.” Lucas meninggalkan Ptrick dan memilih masuk ke dalam mansion menyusul Lindsey ke dalam kamar.
Dengan perlahan Lucas membuka pintu kamar dan tidak mendapati Lindsey di atas tempat tidur, berarti istrinya itu belum tidur. Lucas melangkah ke dalam kamar dan sayup-sayup ia mendengar suara Lindsey. ia mengikuti arah suara itu dan mendapati istrinya itu sedang menelpon seseorang.
Tunggu dulu, melepon seseorang? Lindsey bahkan tidak memiliki kontak siapapun di ponselnya. Satu-satunya kontak yang ada di ponsel istrinya itu hanya kontaknya dan Patrick. Jadi siapa yang sedang berbicara dengan istrinya itu sekarang? Lucas mendengarkan Lindsey yang masih berbicara melalui ponsel.
“Aku sudah menikah.”
Lucas tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu. ia jadi ingin mencium Lindsey sampai wanita itu kehabisan napasnya.
Entah apa yang dikatakan oleh lawan bicara Lindsey di seberang sana tapi kalimat istrinya itu cukup membuat Lucas terkejut.
“Mungkin saja, seandainya kau kembali lebih cepat, tapi mau bagaimana lagi kita sepertinya memang bukan jodoh.” ucap istrinya lalu tertawa.
“Tentu saja kita masih bisa berteman karena bagaimanapun juga aku berhutang nyawa padamu.”
Sudah, Lucas sudah tahu siapa yang sedang menelpon istri seksinya itu. Lucas tetap diam di tempatnya, menunggu apa lagi yang akan di ucapkan oleh istrinya itu.
“Tentu saja, aku juga merindukanmu. Akan aku kabari nanti.”
Itu sepertinya kalimat terakhir karena Lucas tidak lagi mendengar suara istrinya itu. Ia masih berdiri di tempatnya ini dalam diam. Lucas baru sadar kalau Lindsey bisa saja pergi, wanita itu memiliki alasan lain untuk pergi.
Keyla maupun Liliana serta wanita-wanita lainnya, mungkin tidak akan membuat Lindsey pergi. Tapi lelaki sialan itu? lelaki itu memiliki peluang untuk membuat Lindsey pergi meninggalkannya.
DAMN!