Not Yet Yours

Not Yet Yours
Chapter 47



Lucas menginjak pedal gas semakin dalam hingga laju mobil yang ditumpanginya bergerak semakin cepat. Raut wajahnya yang kaku penuh amarah, membuat Patrick dan John hanya bisa terduduk kikuk di kursi belakang dan di samping kemudi.


Keterdiaman mereka itu bukan karena mereka ketakutan, melainkan pasrah akan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya.


Namun John diam-diam berdoa dalam hati agar mereka selamat. Ia tidak pernah melihat Tuannya, Lucas segila ini dalam mengemudikan mobil. Mungkin lebih tepatnya, ia tidak oernah melihat Lucas semarah ini sebelumnya.


Mereka -baik itu Patrick maupun John- bahkan tidak berani bersuara ketika dengan kerasnya mobil yang mereka tumpangi yang dibawa oleh Lucas menabrak gerbang masuk mansion Bryan dengan sangat kuat. Gerbang itu seketika rusak dan terlepas dari besi penahannya.


Tidak ada yang berani bersuara, karena saat ini Lucas lebih dari sekedar seram untuk ditakuti. Laki-laki itu tengah murka. Sangat-sangat menakutkan.


Begitu sampai di depan pintu utama, Lucas langsung keluar dari mobil, berjalan ke arah pintu dan mendendang pintu itu dengan kuat sampai terbuka lebar dan menimbulkan suara yang keras.


“LINDSEY!!” Teriak Lucas.


Teriakan itu menggema di seluruh mansion Bryan. Perasaan Lucas saat ini sungguh tidak karuan. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalanya.


Apa Bryan sudah tahu kalau istrinya sedang hamil? Apa lelaki itu sudah menggugurkan anaknya? Sial, saat ini Lucas sudah tidak bisa berpikir jernih. Ia marah. namun di lain sisi ia juga ketakutan jika apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi.


"LINDSEY!!!" teriaknya lagi.


Namun pandangan Lucas seketika beralih pada ubin yang ditetesi darah yang sudah mengering. Lucas kembali mengarahkan pandangannya memperhatikan ruang tamu Bryan berantakan.


Seketika itu juga jantung Lucas seakan diremas sangat kuat. Kenapa ada darah di sini? Kenapa rumah ini kacau? Apa yang sudah terjadi? Apa ini darah Lindsey?


Sial! Sial! Sial!!


"LINDSEY!!!"


Kaki Lucas memasuki setiap ruangan yang ada di rumah itu dengan tergesa-gesa.


Panggilan Patrick terhadapnya juga diabaikannya. Yang ada di otak Lucas saat ini hanya Lindsey. Yang ia inginkan saat ini hanya satu, mendapati istrinya baik-baik saja.


Damn it!!! Kenapa rumah ini kacau! Dan kemana istrinya?!


Nihil. Semua ruangan di lantai satu nihil, tidak ada istrinya.


Lucas naik ke lantai dua dan langsung mengecek setiap ruangan yang ada di lantai itu. Lucas bahkan langsung mendobrak setiap pintu yang terkunci.


Sedikit rasa syukur muncul di benaknya karena ia memiliki tubuh yang besar kuat. Olahraga raga yang selama ini dilakukannya akhirnya tidak sia-sia.


Ketakutan Lucas semakin menjadi-jadi karena hampir setiap kamar dan ruangan yang ada di rumah Bryan hasilnya nihil. Tidak ada Lindsey.


Ia sudah mengacak-acak setiap ruangan. mendobrak setiap pintu dan hasilnya nihil. Lucas sudah tidak peduli lagi jika nanti Bryan akan melaporkannya pada polisi karena masuk tanpa ijin dan merusak rumahnya.


Tidak. Lucas tidak peduli. Uangnya sangat banyak, ia bisa membeli seratus rumah seperti rumah lelaki sialan ini. Bahkan lebih bagus dari ini.


“Sir!” Bentakan Patrick membuat Lucas langsung berbalik.


Ia menatap raut wajah Patrick yang serius. Tanpa berbicara ia langsung mengikuti langkah Patrick dari belakang. Melihat raut wajah serius Patrick, Lucas mulai kehilangan kewarasannya.


Sial!!