
Sore menjelang petang, lalu lintas kota Yogyakarta sangat padat, seperti biasanya jalanan di penuhi dengan kendaraan, bahkan tak jarang menyebabkan kemacetan pada jam jam tertentu.
Tama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengemudi sambil menikmati musik dari radio di mobilnya.
Baru satu hari Tama bekerja, ia merasa dirinya sudah sangat sibuk dengan segudang pekerjaan yang diberikan Nabila kepadanya. Tapi itu justru membuat Tama sangat bersemangat bekerja bahkan ia seperti tak sabar untuk menunggu hari esok.
Namun di antara begitu banyak tugas yang diberikan kepadanya, tugas dari Pak John lah yang paling ia sukai yaitu selalu mendampingi Nabila. Sehingga membuatnya terus tersenyum riang dan jari-jarinya sedikit menari-nari di atas setir mobil mengikuti alunan musik yang ia dengarkan.
Setibanya dirumah, dengan wajah ceria, Tama menyapa Mama dan Papanya yang sedang berada di ruang makan.
" Kenapa wajahmu berseri-seri begitu sayang? padahal ini hari pertama kamu kerja, pasti capek kan? " Tanya Bu Irin mamanya Tama.
" Ini semua berkat Papa Ma, makasih ya Pa. Kalau Papa gak nantangin aku untuk bekerja ditempat lain, mungkin aku nggak sebahagia ini"
Jawabnya sambil duduk disebelah Pak Darwin yang sedang menikmati makan malamnya.
" Gak salah kamu? Seminggu yang lalu kamu marah-marah, selalu membantah omongan Papa dan sekarang kamu berterimakasih ? Hahaha dasar anak aneh " Pak Darwin menertawakan Tama yang tiba-tiba bertingkah aneh, berbanding terbalik seperti biasanya.
Mereka selalu saja bertengkar dan berdebat. Bahkan Bu Irin sering menangis menyaksikan perdebatan hebat antara anak dan ayah itu, dan pernah beberapa kali genggaman tangan Pak Darwin nyaris mendarat di wajah tampan putranya itu.
" Sudah lah Pa, intinya sekarang aku sedang bahagia, dan aku lagi nggak mau berdebat sama Papa, oke Pa" Tama pun langsung melahap menikmati makanan yang ada di hadapannya dengan lahap.
Bu Irin tersenyum haru menyaksikan hal itu, rasanya sudah hampir setengah tahun, Tama tidak pernah makan semeja dengan mereka seperti saat ini.
Semoga akan terus seperti ini, tapi aku penasaran apa yang membuat hati Tama menjadi lunak.
Setelah selesai makan, Tama masuk ke kamarnya, membuka seluruh pakaiannya dan melilitkan handuk di pinggangnya, kemudian berbaring sejenak. Karena tubuhnya sangat lelah.
Kemudian Tama mengambil ponselnya, tiba-tiba teringat dengan Nabila, dan berniat untuk mengirimkan pesan untuknya.
"Astaga" Ucap Tama saat melihat enam belas panggilan tidak terjawab serta puluhan chat masuk. Dia lupa sejak masuk ke ruangan Pak John siang tadi, ia menyetel ponselnya tanpa suara dan getaran.
Bahkan setelah keluar dari ruangan Pak John ia tidak lagi mengecek ponselnya karena terlalu sibuk membantu Nabila.
Dia pun kembali melakukan panggilan, kepada Citra kekasihnya yang sejak tadi siang menghubunginya.
Saat panggilan tersambung
" Hallo Citra, maaf sejak siang aku terlalu sibuk dan nggak sempat melihat hapeku, kamu dimana?"
" A..aku dimana ini ya? " Suaranya terdengar samar, seperti orang yang sedang mengantuk.
" Hallo, kamu nggak apa-apa kan ?" Tanya Tama lagi.
" Halo Mas, sepertinya Mbak pemilik ponsel ini sedikit mabuk, sekarang dia berada di bar xxxx"
Tiba-tiba ada orang lain yang berbicara dari ponsel Citra.
" Baiklah, terimakasih Mas". Jawab Tama kemudian bergegas mandi membersihkan dirinya.
Setelah selesai semuanya, Tama mengambil ponsel dan kunci mobilnya, kemudian keluar kamar.
" Udah malam gini mau kemana lagi kamu?" Tanya Bu Irin yang sedang duduk di sofa ruang tv.
" Mau jemput Citra Ma " Jawabnya sambil berlari kecil.
" Malam-malam gini emang dia dimana? " Bu Irin penasaran.
Tapi Tama tidak menjawab lagi karena sudah berada di teras rumah dan segera menuju ke mobilnya, melajukan mobilnya dengan cepat ke tempat tujuannya yaitu bar xxxx.
***
" Ayo kita pulang " Kata Tama sambil merangkul Citra, membawanya keluar dengan pelan.
" Kamu? kok kamu bisa tahu aku disini" Katanya sambil tersenyum dan menyentuh dada Tama.
Tama tidak menjawab, ia terus membopong tubuh Citra untuk keluar menuju mobil.
" Kenapa kamu mabuk-mabukan seperti ini?" Tanya Tama sambil melajukan mobilnya menuju rumah Citra.
" Jangan tanya kenapa, aku hanya kesepian. Tidak ada yang mau menemaniku. Bahkan pacarku saja tidak mau menerima panggilanku, membaca chat ku" Jawabnya sambil memukul-muluk lengan kiri Tama.
" Maafin aku hapeku silent dan aku benar-benar lupa menyalaka deringnya lagi" Ucap Tama.
Tidak ada jawaban lagi dari Citra, dia benar-benar tertidur, sepertinya pengaruh alkohol yang di minumnya.
Setelah setengah Jam perjalanan, tibalah mereka disebuah rumah besar, namun sangat sepi hanya ada seorang Satpam dan seorang 2 orang asisten rumah tangga.
Tama menggendong tubuh Citra yang tidak sadarkan diri, membawanya masuk ke dalam rumah dan langsung ke kamarnya, meletakkan tubuh Citra di ranjang.
Kemudian Tama membuka heels yang dikenakan wanita itu, saat Tama ingin beranjak keluar memanggil salah satu asistern rumah tangga yang bekerja dirumah Citra, tiba-tiba Citra menarik tangannya.
" Sayang, aku mohon jangan pergi, temani aku disini malam ini saja" Katanya dengan nada memohon.
" Gak mungkin aku nginap dirumah mu, sudahlah sebaiknya kamu istirahat sekarang aku pulang" Jawab Tama sambil melepaskan cengkraman tangan Citra dari lengannya.
Namun tiba-tiba Citra bangun dan menghadang Tama, agar tetap tinggal, beberapa detik kemudian Citra langsung menempelkan bibirnya pada bibir Tama kemudian beraksi disana, tangan nya pun tak tinggal diam, ia membuka resleting jaket yang dikenakan Tama.
Tama langsung mendorongnya hingga Citra terbaring di ranjang.
" Apa mau mu, hah?" Sambil mengelap bibirnya yang bau alkohol akibat ulah Citra.
" Aku ingin kamu malam ini, sudah hampir dua tahun kita pacaran, tapi kenapa kamu tidak pernah sekali pun menyentuhku" Ucap Citra kemudian menangis dan mengacak rambutnya.
" Kamu gila ya, kita kan belum menikah, aku gak mau melewati batas" Jawab Tama keras.
" Kalau begitu segera nikahi aku !"
" Kamu kira nikah segampang itu, emanganya mama dan papa kamu yang kaya raya itu mau nerima aku yang cuma pengacara magang ini, hah?" Tama mencari berbagai alasan, padahal dia memang tidak berniat sedikitpun untuk menikahi Citra.
"Itu bukan masalah bagi mereka, yang penting aku gak kesepian lagi saat mereka tinggal keluar negeri seperti ini, bahkan mungkin mereka bisa memberikan salah satu perusahaannya ke kamu" Jawab Citra sambil mendekati Tama lagi dan memegang pundaknya, kemudian Tama menepisnya.
" Emangnya aku lelaki matre? Gak segampang itu Citra " Jawab Tama kemudian langsung pergi dari kamar Citra dan mencari asisten rumah tangga nya yang masih berada di dapur.
" Bi, saya permisi dulu ya, tolong dilihat-lihat ya Citra nya siapa tahu dia butuh sesuatu, dia juga sedang sedikit mabuk " Kata Tama pada Bi Inah.
" Iya Den, nggak nginap disini temenin Non Citra sepertinya dia sedang sedih dan kesepian karena sering ditinggal Tuan dan Nyonya " Jawab Bi Inah.
" Wah maaf Bi, saya nggak bisa, saya permisi ya "
Tama langsung pergi meninggalkan rumah tersebut, dan 15 menit kemudian selama dalam perjalanan kembali dari rumah Citra. Kemudian berhenti karena lampu merah, dari kejauhan Tama tak sengaja melihat seorang wanita yang menurutnya tidak asing, membawa sekantong plastik berwarna putih, sepertinya dari swalayan terdekat. Tama terus memperhatikan wanita itu yang tidak lain adalah Nabila, kemudian masuk menuju sebuah gang di antara pertokoan.
Apa rumahnya disekitar sini ya?
***
Bersambung