My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Gagal Pulang



Setelah sidang selesai, mereka keluar dari ruang sidang, dan kemudian bersalaman kembali, sebelum berpisah.


"Mas, boleh saya minta nomor hapenya? siapa tahu ada yang ingin saya tanyakan mengenai penyelesaian kasus di Perusahaan kami," Ucap sekertaris Pak Edward pada Tama saat Pak Edward sudah bergeser dari sekitar mereka.


Nabila yang menyaksikan hal itu hanya menghela nafas panjang, kesal.


Dasar ganjen mencari kesempatan, aku tahu itu hanya alibimu. Eh tapi... kenapa aku begitu kesal ya, itu kan urusan Tama, terserah dia mau berhubungan dengan siapa.


"Wah kalau soal itu, Mbak bisa menghubungi Bu Nabila saja, karena beliau lebih mengetahui semuanya," Saat mendengat jawaban Tama, ada sedikit senyum terukir di bibir Nabila.


"Oh begitu, baiklah, kalau nomornya Mbak Nabila saya udah punya, terimakasih ya," Jawab sekertaris itu dengan wajah masam karena rencana nya gagal.


"Iya Mbak, jangan ragu untuk menghubungi saya ya," Kali ini Nabila tersenyum puas merasa menang.


Kemudian mereka pun berpisah, Nabila duduk di lobi kantor bersama Tama. Lalu mengambil ponsel dari tas jinjingnya. Seperti biasa dia akan memberikan laporan kepada atasannya.


Saat panggilan tersambung.


"Bagaimana Nabila?" Tanya Pak John.


"Aman Om, sepertinya ada titik terang," Ucapnya.


"Benar dugaan Om, kamu selalu bisa diandalkan,"


"Tapi Om, sidang selanjutnya itu minggu depan. Masih seminggu lagi, Om tolong pesankan tiket kami untuk kembali ke Jogja besok ya," Jawab Nabila yang sudah tidak sabaran untuk kembali pulang.


"Nabila, seminggu itu nggak lama, ditunggu saja," Jawab Pak John tegas, membuag Nabila memegang keningnya dam menunduk.


"Tapi Om, bagi Nabila itu waktu yang lama..., lalu biaya hotel kami 2 kamar, selama disini, apa itu nggak merugikan Om?" Nabila mengeluarkan jurus-jurusnya agar Pak John nerubah pikiran.


"Itu nggak ada apa-apanya Nak, dibanding apa yang bakalan kita dapat kalau kita memenangkan kasus ini,"


"Tapi Nabila nggak bawa banyak baju Om," Nabila kehabisan alasan.


"Disana masih ada jasa laundry express kan? Atau kalau kamu mau kamu beli aja baju baru, kamu bisa pakai uang yang Om kasih sesukamu,"


"Ya ampun Om," Kemudian Nabila menjauh dari Tama yang sejak tadi mendengarkan obrolannya dengan Pak Johnatan, sambila memainkan ponselnya namun dia memasang telinga dengan baik.


"Om, bagaimana dengan Tama? apa dia bersedia, tinggal disini lebih lama?"


"Itu biar Om yang mengatakannya, dia itu anak yang penurut tidak seperti kamu, hahaha," Nabila semakin kesal, tak tahu lagi harus berkata apa.


"Ya sudah terserah Om saja," Kemudian mengakhiri panggilannya.


"Kenapa?" Tanya Tama.


"Kita belum dibolehkan pulang sama Om John, sampai minggu depan, menunggu jadwal sidang selanjutnya, tanggung katanya," Dengan wajah kesal, Nabila menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Berbeda dengan Tama yang merasa senang, ini menjadi kesempatan baginya untuk bisa berudaan dengan Nabila lebih lama.


Sedikit senyum tersungging dibibirnya.


Setelah selesai semua urusan, mereka kembali ke hotel. Nabila yang merasa sangat lelah dan mengantuk karena tidurnya sangat kurang semalam. Padahal perasaannya sedang campur aduk, karena ternyata harus bertahan di kota Malang selama seminggu kedepan.


Tapi Nabila tidak mau terlalu memikirkannya, ia lebih memilih tidur siang.


***


Berbeda dengan Tama yang sedang sibuk dengan ponselnya, mencari-cari sesuatu disana. Tama merencanakan sesuatu yang menurutnya luar biasa, menguras pikiran dan membangkitkan keberanian.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, kemudian Tama mengirimkan chat kepada Nabila.


Malam ini aku mau traktir kamu makan malam, yah meskipun kamu yang sedang berulang tahun, tapi kali ini aku yang traktir. Jam 7 malam aku tunggu kamu ya, jangan sampai telat.


Chat terkirim bercentang dua, namun belum berubah menjadi biru, itu artinya Nabila belum membacanya.


Sore hari Nabila masih tertidur dengan nyenyak, hingga deringan ponsel membangunkannya. Dengan mata yang berat ia mencari-cari dimana ponselnya.


"Hallo Ma...," Suara serak khas bangun tidur.


"Kamu tidur?"


"Iya Ma, ngantuk banget,"


"Ya sudah, lanjutin tidurnya,"


"Ada apa Ma?"


"Nggak apa-apa sayang, cuma mau tahu kabar kamu aja, besok jadi pulang kan?"


Nabila langsung benar-benar terbangun mendengar pertanyaan Mamanya. Ia lupa mengabari Mama jika dia masih harus bertahan disini selama satu minggu.


"Nggak jadi Ma, aku harus nunggu seminggu lagi untuk sidang selanjutnya,"


"Yah, ya sudah anggap aja bekerja sambil liburan ya," Ucap Mamanya memberi semangat ke Nabila.


"Iya Ma," Panggilan berakhir.


Nabila membuka chat dari Tama, sekali membacanya ia tak percaya, kemudian ia mengulangi lagi membaca chat tersebut.


"Nggak salah nih? kenapa dia seolah-olah memerintahku?" Nabila tak percaya dengan kalimat yang di kirim Tama kepadanya apalagi pada kata-kata terakhir.


***


Bersambung...