
Saat mereka kembali ke Kantor, seperti biasa, Nabila langsung naik ke lantai 2 untuk memberikan laporan pada Pak John. Sementara Tama masuk dan bergabung di ruangan bawah bersama rekan-rekannya yang lain.
"Hemm, perasaan tadi pagi kemeja yang kamu pakai warna nya biru muda, kok sekarang berubah ya?" Tanya Clara pada Tama, yang sadar akan perubahan warna baju yang dikenakan Tama.
"Iya, tadi hujan aku basah kuyup, ganti baju deh" Ucapnya sambil berselonjoran di sofa.
"Hujan? Basah? Kalian kan naik mobil" Clara mulai kepo.
"Pokoknya begitulah. Terlalu ribet untuk di ceritakan, kalau kamu mau tahu detilnya tanya aja sama Nabila" Jawab Tama yang sudah mulai malas meladeni Clara.
"Wah, kamu bener-bener ya, itu namanya aku cari mati" Jawab Clara.
"Lagian, kenapa kamu terlalu kepo dengan urusan orang sih?" Tiba-tiba Evan menimbrung.
"Ish, apaan sih nimbrung aja" Clara sewot.
***
Di ruangan atas,
"Sudah beres om semuanya hari ini" Ucap Nabila sambil menyerahkan surat kuasa yang sudah bertanda tangan diatas materai ke hadapan Pak John.
"Terima kasih Nak" Ucap Pak John tersenyum kepada Nabila.
"Sama-sama Om, ini kan emang tanggung jawab Nabil"
"Oh iya sepertinya jadwal berangkat kalian ke Malang di percepat, kalian harus berangkat satu hari sebelum jadwal sidang" Jelas Pak John sambil mengirimkan E-Tiket ke email Nabila yang sudah di bookingnya.
"Loh kenapa dipercepat Om, jarak Jogja-Malang kan gak jauh" Kata Nabila sambil mengecek email yang barusan dikirim Pak John.
"Hah? Naik Kereta Om? yang bener aja" Nabila menggerutu kesal, entah apa yang di rencanakan Om nya itu.
"Iya, anggap aja itu liburan kamu, makanya Om percepat satu hari, supanya kamu nggak terlalu stres" Sebenarnya Om John tidak punya niat apa-apa, ia benar-benar ingin memberikan waktu Nabila agar lebih santai dan menikmati perjalanan.
"Kenapa nggak Om aja yang pergi liburan?" Nabila mulai sewot dan memegang keningnya.
"Kamu ini aneh, Om kasih liburan gratis malah ngomel-ngomel" Pak John pun tak mau kalah, kini mulai lagi debat antara Paman dan Keponakan.
"Tiket pulangnya? Belum Om pesan?" Tanya Nabila saat melihat hanya tiket pergi yang tertera.
"Ya ampun Om" Nabila kehabisan kata-kata. Sebenarnya ia senang mendapat jatah bekerja sambil liburan seperti ini, tapi masalahnya dia harus pergi dengan Tama.
"Kenapa lagi? Sudah kamu jangan banyak protes, mau jadi keponakan durhaka kamu ya? Hahaha" Kali ini benar-benar Pak John yang menang.
"Ini tiketnya udah Om kirim dengan Tama belum?" Tanya Nabila.
"Belum, kamu aja yang kirim"
Mendengar jawaban dari Pak John, Nabila langsung mencari nomor Tama yang semalam mengirimkan nya chat. Kemudian mengirimkan E-Tiket atas nama Tama melalui WA.
Karena Nabila belum menyimpan nomor Tama di kontaknya, ia pun mulai menyimpan dan mengetik namanya 'Satrya Tama F'. Sambil menyimpan nomor Tama ada sedikit senyum yang terukir di bibir indah Nabila.
***
Drtt..drttr..
Tama mengambil ponselnya dari saku, dan membuka chat yang ternyata dari Nabila, tapi tidak ada kalimat apapun didalam chat tersebut, hanya berisi E-Tiket Kereta Api Jogja-Malang atas nama dirinya.
Tama pun tersenyum, dan mulai mengetik...
Ini kita mau kerja atau liburan? 😊
Nabila keluar dari ruangan Pak John, saat mulai menuruni anak tangga, ponsel yang masih dalam genggamannya bergetar, ia membuka chat dari Tama. Nabila pun tersenyum, seketika hatinya bergetar, jantungnya sedikit berdegup kencang.
Dalam waktu yang bersamaan, Tama juga keluar dari ruangan, kemudian mendapati Nabila yang sedang berdiri di tangga sedang tersenyum.
Saat menyadari Tama yang sedang menatapnya, Nabila langsung merubah ekspresinya dari senyum menjadi jutek. Ia tak mau Tama menjadi kegeeran dan salah paham karena hal itu.
Nabila mulai turun lagi dari tangga, dan agak salah tingkah, hal itu jelas terlihat meski Nabila menyembunyikan nya.
"Kamu ngapain disitu?" Tanya Nabila sewot.
"Menurut kamu, aku ngapain?" Jawab Tama pelan dan tersenyum ke arah Nabila, namun Nabila tak mau melirik ke arah Tama sedikit pun.
Walau Nabila mengelak, Tama tahu bahwa sekarang Nabila sedang gugup, mempelajari tingkah dan ekspresi wanita tentu saja Tama sudah mahir dalam hal itu.