My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Dari Siapa Ya?



Nabila mengerang dan mendesah kuat kala mendapatkan pelepasan dari lihainya jari sang suami dibawah sana. Ini adalah awal dari permainan kedua, setelah beristirahat sejenak karena lelah dan hebatnya permainan pertama mereka. Satu jam yang lalu, Tama berhasil membobol pertahanan Nabila meski ia berulang kali mengatakan tidak sanggup meneruskan, namun hasrat lelaki itu sudah tak bisa di tahan lagi.


"Tama ... "


"Ya sayang?" suara Tama tertahan, karena wajahnya ia benamkan pada leher Nabila.


"Udah dong, aku nggak kuat kalau kamu gini terus ... " dengan pandangan sayu, ia tatap suaminya yang terlihat sangat senang memberikan kenikmatan-kenikmatan padanya.


Tama tersenyum menang berhasil membuat Nabila tak berdaya, ia berhasil menaklukan wanita pujaannya ini, bukan hanya soal hati dan perasaan, tapi urusan ranjang juga ia merasa menang.


"Love you sayang, aku mulai lagi ya?" Tama mengubah posisinya, ia buka kedua paha Nabila selebar mungkin, kemudian melu*mat bibir Nabila disertai gigitan kecil. Nabila melingkarkan tangannya pada leher Tama, membalas perlakuan itu sebisanya. Karena ia memang tidak terlalu mahir seperti yang dilakukan suaminya.


Nabila sudah mulai bisa mengikuti irama permainan Tama yang kadang cepat, kadang juga ia perlambat. Setelahnya mereka mendapatkan pelepasan bersama-sama, Tama menyemburkan semua cairan miliknya ke dalam Nabila. Kini benda berharga miliknya telah menemukan tempatnya, tempat yang seharusnya. Jadi ia tidak perlu lagi membuang-buang benih itu di kamar mandi seperti yang biasa ia lakukan di masa lajang. Meski dulunya nakal, ia masih bisa menjaga diri. Tidak melewati batas sampai harus melakukan se*ks bebas. Jadi impas, Tama dapat perawan dan Nabila dapat perjaka. 😂


---------------------


Sekitar jam sembilan malam, permainan mereka selesai. Nabila merasa sekujur tubuhnya kaku, ia tidur berbaring miring, merapatkan kedua kakinya.


"Sayang, kamu nggak mandi?" pertanyaan Tama yang sudah selesai membersihkan diri, melihat Nabila masih meringkuk, seperti orang kedinginan.


"Hem, aku capek..."


"Maafin aku sayang, gara-gara aku ya?"


"Nggak kok," Nabila mengubah posisinya, bangun dan duduk bersandar di ranjang. Tubuhnya yang masih polos ia tutup dengan selimut, hingga ke lehernya.


Tama mengecup kening dan pipi Nabila. "Kita jalan-jalan malam ini?" menyibakkan rambut panjangnya yang berantakan.


"Aku mau di kamar aja sayang," Nabila membuka selimutnya, ia berdiri berjalan menuju kamar mandi, tak peduli dengan Tama yang tergiur kembali saat menyaksikan tubuh polosnya. Tentu saja membuat salah satu bagian tubuhnya kembali menegang.


Besok lagi deh ya, kamu udah dapat jatah dua kali malam ini, kasihan istriku udah lelah. oke? please jinak dong. 😂 Berbicara pada adik kecilnya yang mulai membesar dan sulit dikendalikan.


Satu harian ini mereka benar-benar hanya berada di dalam kamar hotel saja. Setelah selesai mandi dan makan malam, Nabila kembali berbaring di ranjang begitu juga dengan Tama. Nabila bersandar manja di bahu lelaki itu.


"Maaf kalau aku terlalu kasar tadi," Tama mengecup pucuk kepala Nabila, ia merasa bersalah karena ulahnya Nabila seperti tak berdaya seperti ini.


"Kamu ... kayaknya udah pengalaman banget ya?" Nabila menatap tajam kearah Tama.


"Aku curiga kayaknya ini bukan malam pertama buat kamu," lanjut Nabila.


"Udah nggak usah di terusin lagi, tapi... tapi kenapa kamu bisa tau banyak hal tentang itu?"


"Naluri lelaki, belajar dari film, soal teori aku udah tau banyak tentang itu, dan aku senang ternyata kamulah partner ku dalam mempraktekkan aktifitas indah itu sayang,"


"Hem..." Nabila tersenyum ia malu tidak tau harus berkata apa.


"Kamu suka kan?" berbisik tepat di telinga Nabila. Wanita itu tidak menjawab, ia memilih mengambil ponselnya agar punya kesibukan lain dari pada harus membahas hal itu lagi, membuatnya menjadi salah tingkah.


Kini mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Kamu ngapain?" Tama mengalihkan pandangannya pada layar ponsel istrinya. "Dari pagi tadi aku nggak pegang hape sama sekali, banyak banget panggilan sama chat masuk." jelas Nabila.


"Ini siapa sih nelpon sampe lapan kali?" Nabila mengernyitkan dahinya menatap nomor ponsel tanpa nama, nomor itu begitu asing.


"Orang mau konsultasi kali," sahut Tama.


"Mungkin juga sih,"


Lalu Nabila mengecek pesan masuk, ada satu pesan notifikasi dari m-banking. Membuatnya heran, karena ia sama sekali tidak melakukan transaksi apapun kenapa bisa ada pemberitahuan?


Nabila membulatkan matanya kala notifikasi itu sudah terbuka, ada transferan masuk ke rekeningnya dengan jumlah yang tak terduga. "Ya ampun, ini beneran? siapa yang ngirim?"


"Ada apa sayang?" Tama menoleh ke Nabila, "Ini kamu liat, siapa yang transfer banyak banget sayang, atau jangan-jangan kamu ya? mau ngasih kejutan ke aku?" Tama melihat apa yang ditampilkan Nabila, transferan masuk ke rekening Nabila senilai seratus juta. "Bukan aku sayang, aku nggak punya saldo sebanyak itu." Jawab Tama jujur.


"Jadi siapa ya? Kalau Om John nggak mungkin kan? dia kan udah ngasih hadiah mobil, masa iya uang juga? sebanyak ini lagi. " Nabila berpikir keras, siapa yang memberikan nya uang sebanyak ini.


"Itu rejeki kamu, ada orang baik yang mau berbagi ke kamu, atau mungkin kado pernikahan? tapi dari siapa?"


"Aku juga nggak tau, sayang. Tapi kalau pun ini kado, bukannya terlalu berlebihan?"


Nabila diam memikirkan, otaknya berpikir mengingat siapa saja orang-orang terdekatnya yang kemungkinan mengirimkan uang sebanyak itu kepadanya.


----------------------


Udah tuh nggak di skip, biar puas kalian 😂