My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Kekhawatiran



Pagi harinya, Nabila terbangun lebih dahulu daripada suaminya. Ia tatap wajah lelah Tama, mengusap rambutnya dengan penuh sayang. Bukan Nabila tak paham bagaimana lelahnya menghadapi pekerjaan yang tiada habisnya, terlebih saat ini ia juga tahu bahwa mungkin suaminya itu sedikit terkejut dengan keadaan. Bagaimana berprofesi sebagai pengacara yang sesungguhnya, banyak hal dan tantangan yang memusingkan diluar sana, maka Nabila menganggap wajar dengan sikap Tama selama ini.


Namun, dalam benaknya begitu banyak kekhawatiran. Salah satu ketakutannya adalah suaminya yang selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan muda dan cantik. Sejak mengetahui bagaimana kondisi ruang lingkup pekerjaan Tama kemarin, bayang-bayang wanita penggoda terus terngiang-ngiang dikepalanya. Bukan ia tak percaya pada sang suami. Hanya saja, jika wanita penggoda itu berusaha keras, apa tidak mungkin ada celah untuk suaminya juga tergoda.


Seusai mandi, Nabila menatap pantulan dirinya di cermin. Tahun ini, ia memasuki usia ke tiga puluh tahun. Meski Nabila juga mengakui bahwa dirinya juga tak kalah cantik dengan perempuan-perempuan diluar sana, tapi ia tetap saja kalah dari segi usia. Kekhawatirannya bertambah saat mengingat sampai saat ini ia juga belum di percaya untuk hamil.


Nabila melirik jam dinding, sudah jam tujuh pagi. Ia berjalan lagi menuju ranjang, kemudian duduk di sisi tepat disamping suaminya. "Sayang, bangun," ucap Nabila pelan, sambil memegang pipi Tama.


Sudah tiga kali Nabila membangunkannya, namun lelaki itu masih saja terlelap. Nabila membiarkan, mungkin ia memang terlalu lelah. Pandangan Nabila tertuju pada ponsel suaminya yang berada di atas nakas. Ia raih ponsel itu, karena Nabila merasa sudah lama ia tidak mengecek ponsel Tama. Masih diposisi yang sama, Nabila masih duduk di tepi ranjang.


Namun tiba-tiba saat Nabila baru membuka kuncinya, lelaki itu terbangun, membuka mata dan tersenyum ke arah Nabila. "Pagi, sayang..." suaminya tersenyum sumringah, melingkarkan tangan kirinya dipinggang Nabila.


"Pagi, lelap banget tidurnya," kembali ia letakkan ponsel itu tepat seperti posisi semula.


"Masih mau tidur lagi sebenarnya, tapi aku ada janji pagi ini," Tama mengubah posisinya menjadi duduk, mengucek matanya dan terbuka sempurna.


"Ya udah, kamu mandi, biar aku siapin pakaian sama sarapan kamu," Nabila ingin beranjak, namun Tama menahannya. "Sebentar lagi, aku masih mau peluk kamu," jika tadi hanya satu tangan yang melingkar di pinggang Nabila, kini keduanya.


Nabila mengusap dan memijat lembut kepala suaminya.


"Maafin aku ya sayang," ucap Tama.


"Maaf untuk?" Nabila bertanya.


"Sikap aku akhir-akhir ini," Tama memegang kedua pipi Nabila. "sorry ya," lanjutnya.


"Aku maafin dan aku maklumin," Nabila tersenyum.


"Tapi... boleh nggak aku nyampein kekhawatiran aku akhir-akhir ini?" Nabila bertanya dengan hati-hati.


"Boleh, kenapa?" Tanya lelaki itu sambil berlalu hendak menuju kamar mandi. Begitu juga dengan Nabila, ia berjalan menuju lemari untuk menyiapkan keperluan suaminya.


gimana ya ngomongnya. Nabila memejamkan matanya sekilas, mengapa menghadapi suaminya terasa lebih menegangkan daripada menghadapi aparat hukum di persidangan.


"Sayang?" panggil Tama, lelaki itu mendekat. "Aku nungguin loh, kamu mau ngomong apa?"


"Aku baru tau kalau kerjaan kamu selama ini, dikelilingi sama cewek-cewek muda, cantik dan ehm pakaiannya boleh dibilang seksi."


Tama masih mendengar setiap kata yang diucapkam istrinya secara saksama. "Aku khawatir, kamu bakalan tergoda sama salah satu dari mereka," Nabila berpura-pura mencari sesuatu didalam lemari, ia tak berani menatap lelaki itu, kemudian menundukkan pandangannya.


Namun seketika Nabila menoleh ke arah suaminya kala mendapat respon tertawa dari lelaki itu. "Kamu aneh, berlebihan, ehem... posesif. Udah ya aku nggak mau kita bahas hal yang nggak penting kayak gini!" Tama berlalu dan meninggalkan Nabila begitu saja.


"Menurut kamu itu lelucon? aku khawatir---"


Tama langsung menyangkal kalimat Nabila yang belum selesai. "Nggak ada yang perlu kamu takutkan, mereka cuma rekan kerja aku, nggak lebih. Pikiran kamu tuh jangan kearah sana terus, dasar posesif!"


"Aku milik kamu, selamanya milik kamu. Jadi, nggak usah khawatir berlebihan. Okey?" tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Tama langsung beranjak ke kamar mandi.


Sementara Nabila, setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali duduk di tepi ranjang. Merenungi setiap perkataan sang suami padanya.


Aku dibilang posesif? nggak ada salahnya kan? aku istrinya, khawatir kalau suami tergoda wanita lain, wajar bukan? Gumam Nabila sambil memijat pelan pelipisnya. Ingin sekali ia menangis saat ini tapi, tentu hal itu hanya akan memperkeruh keadaan.


lima belas menit kemudian, Tama keluar dari kamar mandi. Tanpa menghiraukan istrinya sedikitpun.


Nabila keluar kamar untuk menyiapkan minuman dan sarapan. "Itu semuanya udah aku siapin," ucap Nabila sambil menunjuk ke arah ranjang, dimana ia letakkan seluruh pakaian Tama yang sudah ia siapkan.


"Makasih," jawab Tama.


Nabila sudah duduk dikursi makan, menunggu lelaki itu keluar. Namun saat yang ditunggunya tiba, Tama malah langsung berjalan menuju pintu keluar.


"Sayang, sarapan dulu!" Nabila mengejar lelaki itu.


"Di kantor aja ntar, udah jam lapan. Aku ada janji," Tapi Nabila masih mencegah Tama untuk tidak langsung pergi.


"Sebentar aja kok, udah aku siapin loh," dengan tatapan memohon, namun tak juga membuat Tama berubah pikiran.


"Sorry banget sayang bukannya aku nggak mau, tapi aku beneran buru-buru," Nabila menghela napasnya kasar. Tak pernah Tama bersikap seperti ini.


"Okey," hanya satu kata yang mampu ia ucapkan, kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya seperti biasa.


"Nabila, hari ini ikut Mama yuk?" Suara Bu Irina menyadarkan lamunannya saat menatap kepergian Tama dari ambang pintu rumah.


"Ya Ma? kemana?" Nabila menoleh.


"Makan siang di restoran, ada Arisan keluarga, biar kamu lebih akrab juga sama saudara-saudara Mama, mau ya?"


"Boleh Ma, baiklah," sepertinya menerima ajakan sang mertua ada baiknya. Agar ia ada kegiatan, jadi pikirannya tidak hanya terfokus pada suaminya saja.


Nabila kembali ke kamar, melewatkan sarapannya. Seleranya hilang seketika. Ia tatap kalender di ponselnya. Mengingat perkataan dokter bahwa harus menandai tanggal masa suburnya. Tapi Nabila hanya bisa menatap tanpa melakukan apapun.


Gimana aku bisa nentuin masa subur, jadwal haidku aja berantakan. Mungkin memang udah nasib aku kayak gini.


Kemudian pandangannya beralih pada bingkai yang berisikan foto pre-weddingnya dengan Tama dua tahun yang lalu. Di foto itu terlihat Tama sedang menggendong Nabila ala bridal style mereka saling tertawa lepas. Seolah tak akan ada rintangan didalam pernikahan mereka nantinya.


Seketika air mata Nabila menetes, padahal ia sudah berusaha menahan. Namun kini ia malah menangis sejadi-jadinya.


--------------------


Rumah tangga Nabila sedang diuji, mampukah Nabila melewatinya? 😳😳😳