
Semoga nggak bosan yah nungguin kelanjutan ceritanya, mohon maaf deh kalau telat mulu upnya, selamat membaca.
***
Walau sebenarnya Nabila masih sangat kesal dengan Tama, tapi hatinya tak bisa untuk berkata tidak. Ia pun juga ingin mendengar suara lelaki itu, mendengar penjelasan atas kesalahan yang sudah ia lakukan pada Nabila hari ini.
Boleh.
hanya satu kata, sangat singkat. Tak menunggu lama, lelaki itu langsung melakukan panggilan padanya.
"Sayang, tolong maafin aku."
"Aku maafin kok."
"Tapi kamu, marah kan?"
"Nah itu tau?"
"Tadi Mama ngajaknya mendadak, sayang... tadi itu urusannya penting banget."
"Ya udah deh, nggak usah di bahas lagi."
Obrolan mereka tidak hanya membahas kesalahan Tama hari itu. Banyak yang mereka bahas hingga panggilan berlangsung selama satu jam. mood Nabila sudah membaik, Tama memang ahli dalam hal itu. Hanya dengan kata-kata saja ia bisa membuat Nabila terhanyut dan tidak mampu untuk menahan senyumnya.
Setelah panggilan berakhir, Nabila memejamkan matanya, tidur dengan tenang dan melupakan kejadian yang ia alami hari ini.
----------------
Nabila sudah bersiap dengan setelan kerjanya. Hari ini, ia mengenakan kemeja berwarna merah muda ia padukan dengan rok span panjang selutut. Sangat sempurna setelan itu melekat pada tubuh indahnya. Sangat jarang Nabila bisa mengenakan rok, mengingat ia harus naik ojek berangkat ke kantor, dan sudah pasti repot jika mengenakan rok pendek seperti itu. Tapi karena hari ini Tama akan menjemputnya, maka dengan senang hati ia mengubah penampilannya.
"Nabila berangkat ya, Ma."
"Iya, tumben kamu pake rok lagi? biasanya kamu ngeluh repot kalau naik ojek?"
"Iya Ma, hari ini berangkat bareng Tama." Ucapnya sambil nyengir.
"Udah nggak berantem lagi?" Jawab Mama dengan nada mengejek.
"Ah Mama, ya biasalah... salah paham. Nabila pergi ya." ucapnya kala Tama sudah tiba di depan rumahnya.
----------------
"Pagi sayang," ucap Tama dengan seulas senyuman yang meluluhkan hati Nabila.
"Pagi," jawab Nabila.
"Cantik banget kamu hari ini," Pandangannya tertuju pada penampilan Nabila yang berbeda, terlihat sangat anggun. Rambut panjangnya yang biasanya ia kuncir, kini ia uraikan ke belakang. Tentu saja itu membuat Tama tergila-gila, tidak sabar untuk segera menjadikannya istri. Meski usianya masih tergolong muda untuk menikah, namun ia tak mau menyia-nyiakan Nabila yang sudah bertahun-tahun ia kejar.
"Makasih, kamu juga hari ini ganteng kok." Tak mau kalah, Nabila juga memberikan pujian kepadanya. Membuat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan.
Disaat sedang bahagia seperti ini, tiba-tiba Tama mengingat kesalahan yang ia lakukan pada Nabila kemarin. Rasa bersalahnya tak hanya sebatas lupa.mengabari Nabila bahwa mereka tidak jadi pergi, tapi juga karena ia telah melakukan hal gila bersama Citra. Bagaimana jika Nabila mengetahui hal itu? bisa mati. Pikirnya.
Ting. Pesan masuk di ponsel Tama, ia sengaja mengabaikannya, pesan yang ia anggap hanya dari operator provider atau pesan-pesan spam lainnya.
"Kamu udah sarapan?" tanya Nabila.
"U-udah, kamu?"
"Udah juga."
"Iya, kata Clara ada klien yang udah nungguin aku."
Tama menambah kecepatan laju mobilnya, meski Nabila tidak memintanya untuk cepat. Tapi ia paham bagaimana Nabila menghadapi pekerjaannya, wanita itu sangatlah profesional dan harus selalu terlihat sempurna dalam menjalani pekerjaan.
--------------
Setengah jam kemudian, Mereka sudah tiba di kantor. Keduanya langsung menuju keruangan dimana rekan-rekan lain berada. "Dimana klien nya Clara?"
"Diruang konsultasi, Bu." Setelah meletakkan tasnya ia pun segera pergi menuju ruangan khusus untuk klien berkonsultasi yang sudah disediakan di Kantor itu.
Nabila melangkah dengan cepat, suara heels yang beradu dengan lantai terdengar jelas. Saat Nabila mendorong pintu ruangan, betapa terkejutnya ia melihat dua orang yang sudah menunggunya di ruangan itu.
"Selamat Pagi, Nabila." sapa Dimas yang tak lain adalah mantan calon suaminya. Dimas memandangnya tanpa kedip, sudah lama sekali ia tidak bertemu Nabila. Sekalinya bertemu dihadapakan dengan penampilan yang seperti itu, membuat hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Pa-pagi." jawabnya terbata, meski ia terlalu malas menghadapi lelaki itu. Tapi karena statusnya kini adalah klien maka ia harus bersikap profesional.
Nabila duduk dihadapan Dimas yang kala itu didampingi dengan asistennya. "Ada yang bisa kami bantu, Pak Dimas?" tanya Nabila sopan, namun tanpa menunjukkan senyumnya.
"Nggak usah terlalu formal, Nab. Seperti biasa aja, kamu bisa panggil aku dengan sebutan 'Mas'." Ucapnya. Nabila hanya membalas dengan senyuman, ia terlalu malas berurusan lagi dengan lelaki ini yang sudah membohonginya, ingin menikah dengannya sementara statusnya masih sebagai suami orang.
"Ya udah langsung aja, apa yang bisa kami bantu?" Nabila mengulang pertanyaannya. Lalu asisten Dimas menjelaskan perihal masalah yang sedang perusahaan mereka alami. Yaitu penipuan terkait investasi dengan salah satu perusahaan besar di kota Jakarta.
Nabila mendengarkan dengan baik, lalu setelahnya ia mulai memberikan beberapa opsi penyelesaian terkait masalah yang mereka hadapi. Nabila berbicara dengan profesional, mengandalkan segala ilmu dan pengalaman yang telah ia dapat selama ini. Saat itu Dimas memandangnya dengan terpesona, dan takjub. Ternyata wanita yang sempat menjadi calon istri keduanya ini sangatlah keren dengan sejuta pesonanya.
Nabila menyadari lelaki itu terus saja menatapnya, dasar nggak tau diri. Udah punya bini masih aja nggak bisa jaga mata. Nabila menggerutu kesal dan merasa jijik dengan laki-laki yang punya sifat seperti itu.
Setelah selesai urusan dan mengatur pertemuan selanjutnya, tentu saja Nabila harus membicarakan masalah ini terlebih dahulu dengan Om John selaku pemilik firma hukum.
Sebelum akhirnya mereka keluar dari ruangan itu, Dimas memberi kode pada asistennya agar keluar ruangan karena ada hal pribadi yang ingin ia bicarakan dengan Nabila.
"Sebentar Nabila, aku mau bicara penting." cegatnya saat Nabila juga hendak keluar.
"Ada apa lagi?"
"Aku tau kamu benci aku, tapi aku benar-benar masih sayang banget sama kamu, Nab. Tolong dong kasih aku kesempatan."
"Maaf saya nggak punya waktu untuk membahas hal seperti ini," Nabila kembali melangkah, merasa ingin muntah mendengar pernyataan lelaki itu. Seketika Dimas langsung menarik lengannya.
"Aku nggak pernah cinta sama istri aku, aku nikah sama dia itu dijodohkan. Aku terpaksa, setelah ketemu kamu, aku benar-benar paham apa itu cinta? tolong Nab." Nabila langsung menepis, tangannya dari cekalan Dimas.
"Itu urusan Anda, tolong jangan ganggu kehidupan saya lagi. Saya udah punya calon suami." jawabnya tegas.
Tama yang sedari tadi penasaran akhirnya bertanya, "Ra, klien yang lagi sama Nabila cewek apa cowok sih?" sambil memangku laptopnya ia bertanya pada Clara, penasaran sudah satu jam lebih Nabila berada diruangan itu.
"Cowok, keren, ganteng. salah satu pengusaha ternama dikota ini, siapa sih namanya tadi?" Clara menjelaskan secara detil, membuat Tama semakin panas.
"Dimas namanya," sahut Evan.
"Eh iya, Dimas." lanjut Clara.
Mendengar itu, Tama memindahkan laptop yang berada pangkuannya, ke atas meja. Lalu ia beranjak keluar ruangan hendak menyusul Nabila. Saat keluar, ia dikejutkan dengan pemandangan yang membuat matanya sakit. Dimas yang sedang berusaha menarik kembali tangan Nabila untuk mendengar penjelasannya lebih lanjut.
Emosi Tama tak tertahan melihat itu, ia menggeram, ingin melakukan tindakan bodoh. Ia pernah sempat mendengar nama Dimas dari cerita Om John. Apa ini Dimas yang dimaksud?
--------------
Sekali lagi aku bilangin, semoga nggak bosan nungguin ceritanya up 😄😄😄