My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Bibir



Lanjut...


***


"Kita bukan anak remaja lagi Tama, cinta itu nggak harus diungkapkan, cukup di jalani dan di rasakan, namun jika kamu merasa cinta itu menyakitkan, maka berhentilah." Kini Nabila membalas kalimat-kalimat Tama tadi, menjadi pujangga dadakan.


"Haha, kenapa kamu manis sekali Nabila. tapi aku nggak setuju di kata-kata terkahirmu, kita nggak boleh saling menyakiti." Menyentuh hidung Nabila dengan jari telunjuknya.


"Oke, kamu bisa berkata begitu sekarang, kita lihat nanti siapa yang duluan menyakiti dan tersakiti," Nabila mengangkat bahunya, menyibakkan rambut panjangnya yang menutupi wajahnya karena angin bertiup kencang kala itu.


"Oke, tapi aku cuma mau memastikan kalau itu nggak boleh terjadi. titik,"


Nabila tersenyum sumringah mencoba mempercayai kata-kata lelaki itu.


Tama kembali menghentikan langkahnya, berdiri tepat dihadapan Nabila, ia mencoba memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang paling penting menurutnya, demi masa depan nya, masa depan mereka berdua lebih tepatnya.


"Sayang, sebelum kita kembali ke Jogja, aku mau minta tolong satu hal sama kamu," Sorot mata nya kali ini menggambarkan keseriusan. mencengkram erat bahu Nabila.


Apalagi ini, mau minta tolong?


"Apa itu?" Nabila mengernyitkan dahinya.


"Setelah kita sampai di Jogja, aku mohon kamu untuk bersedia aku bawa kerumahku, berkenalan denga Mama dan Papaku," Tama serius dengan ucapannya, ini adalah syarat dari Mamanya agar ia bisa memutuskan perjodohannya dengan Citra.


Nabila hanya terdiam tak percaya dengan apa yang diucapkan Tama barusan.


Kenapa secepat ini?


"Apa alasan nya Tama? kenapa terlalu cepat? maaf aku nggak bisa,"


"Nabila aku mohon, cuma ini satu-satunya cara agar aku bisa memutuskan hubunganku dengan Citra," Masih mencengkram bahunya.


"Jadi benar aku ini orang ketiga di hubungan kalian?" Sorot mata Nabila tajam menatap mata Tama.


"Bukan begitu sayang, kamu selalu yang pertama buatku, dari dulu sampai sekrang, Citra lah yang menjadi orang ketiga diantara kita, aku sama sekali nggak mencintainya," masih berusaha meyakinkan Nabila.


Pandai sekali kamu membolak balikkan kata.


"Nggak, aku tetap nggak bisa Tama, maaf." melepaskan cengkraman Tama kemudian berjalan.


"Nabila please," Kemudian Tama menghadangnya dan berlutut di hadapannya, membuat Nabila tebelalak melihat tingkah Tama.


"Hahaha," Nabila malah tertawa.


"kenapa kamu menertawakan ku?" kemudian bangkit berdiri.


"Aku cuma ingin melihat seberapa besar usahamu," tersenyum sinis.


Tama mendekatkan wajahnya, ke wajah Nabila, kemudian memegang tengkuknya dan dahi mereka sudah bersatu, mata mereka saling bertatapan.


Nabila langsung mundur, menjauhkan wajahnya dengan wajah Tama.


"Kamu mau apa?"


"Udah, udah cukup, oke aku bersedia kamu kenalkan ke orang tuamu." Kemudian Nabila berlari kecil meninggalkan Tama yang masih berdiri.


Nabila gugup, wajahnya memerah ketika Tama mendekatkan wajahnya di tambah lagi mengingatkan apa yang lelaki itu lakukan terhadap Nabila saat mereka berdua di dalam lift hotel.


Haha, ternyata mudah sekali untuk menggodanya.


Kali ini Tama tersenyum menang, kemudian berjalan lagi menyusul Nabila, dan merangkulnya.


"Sayang, ada apa dengan wajahmu?" Tama mencoba menggodanya lagi.


"Kenapa lagi?" Nabila mengusap wajahnya, kemudian bercermin di layar ponselnya. ia tidak mendapati ada yang salah di wajahnya.


"Itu, wajahmu memerah dan merona." masih terus menggoda Nabila, tepat di hadapan nya dengan jalan gerakan mundur, terus memperhatikan wajah Nabila.


Nabila hanya tertunduk malu, ia benar-benar tak bisa mengelak.


"Haha," sekarang gantian Tama yang menertawakannya.


Langkah mereka terhenti,


"Apa menurutmu aku ini lelucon? kejadian di lift itu seumur hidup, aku baru mengalaminya, bersamamu...," kemudian maju selangkah mendekati Tama.


"Tapi aku yakin, kalau bibir ini..., sudah sering melakukannya dengan wanita lain," Menyentuh bibir Tama dengan jari telunjuknya.


"Kamu salah Nabila, bagiku kamu juga yang....," Kalimatnya terhenti ketika mengingat Citra pernah menciumnya secara paksa.


Citra, wanita itu, ah sial.


"Tuh kan, kamu nggak berani nerusin kata-kata mu kan? itu karena kamu ragu, bukan aku yang pertama, sudah lah Tam, playboy sepertimu, udah nggak diragukan lagi," Nabila menaikkan alisnya dengan ekspresi mengejek.


Tama terdiam, tak bisa berkata-kata lagi.


"Maafkan aku sayang," hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya.


"Ayo kita kembali, sebelum hujan." Nabila tersenyum, ia sama sekali tidak marah.


Itukan hanya masa lalunya, mulai sekarang aku akan mempercayaimu.


Cuaca panas terik saat mereka tiba di pantai, berubah menjadi mendung, matahari mulai tertutup oleh awan-awan hitam yang mulai berdatangan di tambah angin yang bertiup kencang.


Kemudian Nabila menghampiri Tama yang masih terdiam, kini Nabila memberanikan diri untuk menggandeng lengan Tama, melingkarkan tangan kirinya di lengan kekar itu. menyandarkan kepalanya dengan manja.


Tama tersenyum lebar,


Ah wanita ini memang sulit di tebak, ternyata kamu bisa bersikap manis juga.


***


Bersambung...