
Satu hari setelah akad nikah dan resepsi, Tama memenuhi janjinya, ia mengajak Nabila bulan madu ke Lombok yang terkenal dengan pantai yang sangat indah. Rencana ini sudah ia persiapkan sejak satu bulan sebelum pernikahan mereka. Nabila terlihat begitu bahagia, sudah lama sekali ia tidak pergi berlibur seperti ini. Yang ada di pikirannya hanya klien dan kasus-kasus yang sedang ia tangani, menang atau tidak di pengadilan. Bagaimana caranya agar klien mendapat hukuman yang ringan, atau memperebutkan harta gono-gini pada kasus perceraian. Seperti itulah yang berputar-putar di kepalanya.
Tapi berbeda saat ini, ia bisa merasa tenang dan damai. Di dalam pesawat, kini ia sedang bersandar di pundak Tama, mereka berpegangan tangan. Benar-benar seperti pengantin baru. Perjalanan yang akan memakan waktu kurang lebih satu jam tiga puluh menit ini akan ia manfaatkan sebaik-baiknya. Sesekali ia menikmati pemandangan luar, langit biru nan cerah, secerah hatinya.
"Kamu senang?" tanya sang suami, yang sedari tadi selalu mencuri-curi kesempatan untuk mencium keningnya.
"Iya, makasih ya sayang." Nabila mendongak sedikit, untuk mempertemukan wajah mereka.
"Semoga aku selalu bisa menciptakan kebahagiaan untuk kamu, aku sayang kamu." bisik Tama kemudian mencium pipi kiri Nabila. Untunglah di sebelah mereka tidak ada penumpang lain, jadi mereka bisa sedikit bebas.
"Aku sayang kamu juga, Tama." Nabila kembali bersandar, kemudian mencoba memejamkan matanya.
"Untuk beberapa hari kedepan, kamu nggak boleh mikirin apapun selain aku, nggak boleh nerima panggilan dari siapapun, kecuali Mama. Kamu harus fokus sama aku, oke?" Tama menginginkan waktu yang berkualitas untuk mereka berdua, tanpa memkirikan orang lain, apalagi pekerjaan.
"Hem, aku usahakan." Jawab Nabila, dengan mata yang masih terpejam.
"Jangan lupa full service nya," mendengar kalimat itu, Nabila hanya tersenyum geli. Entahlah seperti apa nasibnya setelah tiba disana. Yang sudah pasti terjadi adalah saat kembali ke Jogja, ia sudah tidak perawan lagi.
----------------------------------
Di kamar hotel nan indah dan mewah, Nabila berdiri tepat di belakang jendela, menikmati pemandangan pantai yang luas, langit yang biru. Semuanya terlihat indah. Merasa ada sesuatu yang menyentuh pinggangnya, Nabila langsung menoleh. "Aku lapar, kita makan yuk, sekalian ke pantai." Ajak Nabila, pada sang suami yang sedang memeluknya erat dari belakang.
"Aku udah pesan makanan, sebentar lagi ada pelayan yang ngantar, kita di kamar aja. Besok pagi ke pantai,"
Tama benar-benar ingin menghabiskan waktu dikamar saja bersama Nabila. Ia ingin menikmati sesuatu yang membuatnya penasaran sejak dulu.
"Ya ampun sayang, sekarang masih jam dua siang, kenapa besok pagi ke pantainya? sore aja gimana? sambil menikmati sunset." Nabila berbalik, tidak mendapat jawaban dari lelaki itu, justru bibirnya kini terbungkam. Tama mencium bibirnya dengan rakus, tangannya menyusuri leher jenjang Nabila. Kemudian perlahan turun ke dadanya, hendak membuka kancing blouse yang di kenakan istrinya. Tiga kancing sudah terbuka, jari-jarinya sangat lihai melakukan itu, Seperti sudah berpengalaman.
"Emh..." Nabila merasa kehabisan oksigen, kemudian melepas paksa ciuman itu. "Kamu, biasanya lembut. kenapa jadi gini?" Nabila mendorong pelan tubuh suaminya. "Maaf sayang, aku ingin kamu sekarang." blouse Nabila yang sudah terbuka setengah bagian memperlihatkan belahan yang indah didalam sana, membuat gairah Tama semakin menggila. Ia kecup, his*ap dan memberi gigitan kecil pada leher dan dada Nabila. Lalu Ia menuntun Nabila untuk segera berbaring diatas ranjang.
Tiba-tiba bel berbunyi, Nabila senang bukan main, yang pertama karena rencana Tama untuk menghabisinya tertunda sejenak, dan yang kedua ia yakin bahwa itu adalah pelayan yang mengantarkan makanan. "Buka gih pintunya," pinta Nabila menahan senyum kala melihat tampang kesal dari sang suami yang kini berada diatasnya. Tama hanya diam dan terus memandangi Nabila. "Sayang, buka pintunya itu pasti pelayan yang ngantar makanan, aku lapar banget sekarang," Tama tersenyum kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah pintu.
-------------------------
Mereka duduk berhadapan di kursi dan meja yang berada tak jauh dari jendela, menikmati makanan. Namun hanya Nabila yang terlihat lahap. Tama terus memandangi Nabila sesekali pandangannya turun ke bagian dada istrinya, terekspose belahan yang sangat menggiurkan. Saat menyadari pandangan Tama mulai aneh, "Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" Nabila bertanya, menghentikan kegiatannya sejenak.
"Kamu sengaja ya? biar aku nggak konsen makannya?" Tama tertawa kecil, sepertinya Nabila tidak menyadari itu.
"Itu, sayang. Daripada menyicip makanan ini, kayaknya aku lebih pingin nyobain itu." Nabila mengikuti kemana arah pandang suaminya. Tersadar, ia pun tercengang. Saking antusiasnya karena makanan datang, Nabila sampai lupa mengancingkan kembali pakaiannya.
Seketika pipinya memerah, astaga... lelaki di hadapannya kini benar-bemar berbeda dari biasanya. Kenapa terlihat menyeramkan seolah telah mendapatkan mangsa yang sejak lama diburu.
"Kamu lucu banget kalau lagi malu-malu gitu," Nabila tidak menggubris perkataan itu, ia kembali fokus pada makanannya.
---------------------------
Setelah selesai makan, hal yang ditakutkan Nabila tidak terjadi. Nyatanya ia bisa tidur terlelap di pelukan Tama sekarang. Lelaki itu sengaja membiarkannya beristirahat, mungkin agar tenaganya terisi penuh untuk persiapan kegiatan mereka malam ini.
Dua jam kemudian, Nabila terbangun, ia menggeliat merenggangkan otot-ototnya. Ia meraba seluruh pakaiannya dan ternyata masih lengkap. Pandangannya tertuju pada sisi kosong disebelahnya.
Kemana dia? gumam Nabila.
Tak lama kemudian, Tama keluar dari kamar mandi, melihat pemandangan itu sekarang membuat Nabila lemas dengan jantung yang berdegup cepat. Tubuh atletis yang biasanya hanya bisa ia lihat di drama-drama Korea kesayangannya, kini terpampang nyata. "Sayang, kamu udah bangun?" Pandangan Tama beralih ke Nabila yang sedang menatapanya tanpa kedip.
"Ya?" Nabila bangkit hendak beranjak ke kamar mandi. "Iya, udah. Aku mau mandi." Berjalan tanpa mau menoleh ke arah suaminya yang sedang bertelanjang dada.
Tingkah Nabila sangat menggemaskan menurut Tama, sambil menunggu Nabila, ia duduk di tepi ranjang dengan mengenakan celana pendek andalannya, dan tanpa baju. Sudah hampir dua puluh menit, Nabila tak kunjung keluar. Tama ingin menyusulnya, saat sudah berada tepat di depan pintu kamar mandi, secara bersamaan Nabila membuka pintu.
Mereka saling berpandangan, Nabila mengenakan handuk kimono tanpa mengenakan dalaman, sehingga puncak dadanya tercetak jelas di balik handuk itu.
Tama membawa Nabila, mengangkat tubuhnya perlahan. "Aku nggak tahan lagi, sayang... jangan biarkan aku menunggu lebih lama." ucap Tama sambil berjalan menuju ranjang.
Membaringkan tubuh istrinya diranjang, menarik tali handuk itu dan kini, terpampang tubuh polos Nabila tanpa penghalang apapun. "Tama, aku takut." lelaki itu berkali-kali menelan salivanya.
"Dari dulu, aku selalu penasaran, dengan apa yang ada dibalik kemeja yang kamu pakai saat kekampus, sekarang aku akan nikmati ini,"
"Jadi, kamu dari dulu udah berpikiran mesum ya sama aku?"
"Itulah laki-laki, sayang. Didalam pikirannya cuma ada itu, apalagi dengan perempuan yang dicintai."
Tama mengecup kening, kelopak mata, hidung dan bibir Nabila. Rasanya ia tak ingin melewati satupun yang ada pada tubuh istrinya. Tangan nya sudah menjalar kemana-mana, mulai dari pipi, leher hingga puncak dada. Nabila mendesah tertahan, ini memalukan. Tama menyadari Nabila menerima permainannya, membuatnya semakin menjadi-jadi.
*skip ya, biarkan mereka melanjutkan dengan saksama* 😄