
Maaf ya, novel ini selalu telat updatenya. 😌
————————
Saat sudah dilantai dasar hotel, Tama keluar dari lift dan melangkah menuju lobi. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Marsha asistennya sedang duduk di salah satu sofa yang berada disana. Wanita itu pun menyadari kehadiran atasannya, dan segera menghampiri Tama.
“kamu, kenapa disini? saya pikir kamu di restoran nemanin klien kita.”
“Tadinya gitu, Pak... tapi saya takut, soalnya disana banyak cowok-cowok nakal, ngeliatin saya terus.” jawab Marsha kemudian menekukkan wajahnya.
“Ya udah, ayo kita kesana!”
Tama mengambil langkah terlebih dahulu, tapi Marsha mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Tama. Tiba direstoran, mereka langsung disambut oleh klien yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Bersalaman dan berkenalan, saling bertukar senyum.
“Ini asistennya Pak?” tanya Fandy salah satu klien mereka.
“Iya Pak Fandy,” jawab Tama.
“Cantik sekali, Bapak nggak salah pilih asisten,” jawabnya. Tapi Tama hanya menampilkan senyumnya saja, tidak memperpanjang pembahasan soal Marsha yang menurut mereka cantik.
Dan Tama langsung saja mengalihkan pembicaraan kepada apa yang menjadi tujuan mereka bertemu. Tama sengaja tidak mau berlama-lama agar tidak terlalu lama meninggalkan istrinya yang sedang kurang sehat. Fandy langsung menjelaskan duduk perkara permasalahan perusahaan yang ia alami.
Sekitar satu jam lamanya, mereka berbincang soal permasalahan dan membahas bagaimana solusinya. “Pak Tama, buru-buru kah? atau mau ikut kita ke lounge yang ada dihotel ini? kata orang, minum-minum bisa bikin kita lebih akrab,” ajak Fandy dengan ramah.
“Oh, maaf Pak. Silahkan dilanjutkan tanpa saya, dan kita juga bisa akrab tanpa minum-minum.” Tama tertawa setelah mengatakan itu, tentu saja ia menolak. Nabila sedang menunggunya saat ini.
“Begitu, ya Pak? sepertinya Pak Tama hanya ingin berdua saja dengan asisten cantiknya,”
“Bukan begitu Pak Fandy, Anda salah. Saya mau nyusul istri saya, dia pasti sedang nungguin saya di dalam kamar,” Jelas Tama, ia menekankan kata istri.
“Wah ternyata Bapak sudah beristri, terlihat masih muda Pak saya kira masih single.”
“Sudah Pak, terimakasih pujiannya. Saya duluan, nanti kalau ada info lanjut mengenai solusi, akan dihubungi oleh asisten saya.” Tama berjabat tangan dan langsung mengakhiri pertemuan.
“Baik, Pak dengan senang hati saya jika Ibu Marsha mau menghubungi saya duluan,”
———————————————
Keluar dari restoran, Marsha meminta izin kepada Tama untuk pergi bertemu dengan temannya. Ia mengatakan bahwa ada temannya yang sedang berada disini. “Silahkan, kenapa harus minta izin saya saya?” tanya Tama.
“Hehe, siapa tau Bapak nggak ngizinin.” jawab wanita itu, Tapi Tama hanya tersenyum dan segera berlalu. Tujuannya adalah kamar, Nabila pasti akan senang jika ia kembali lebih awal.
Sampai didepan pintu kamar, Tama tidak bisa membuka pintu. Tentu karena dikunci dari dalam oleh Nabila. Berulang kali ia melakukan panggilan telepon pada Nabila, tapi tidak ada jawaban. Berulang kali juga ia memencet bell. Akhirnya setelah lima belas menit, pintu pun terbuka.
“Kamu nggak lagi nyimpan cowok kan didalam?” itulah pertanyaan yang dilontarkan Tama saat pintu terbuka.
“Ya ampun sayang, kamu tuh... maaf aku ketiduran, kok cepet?” Saat sudah didalam kamar, Tama membuka kancing kemejanya satu persatu. “Iya, ngapain lama-lama. Ada istri yang aku tinggalin sendiri, ayo kita makan diluar,” ajak Tama.
“Iya, ayo... aku lapar banget. Tapi, bukannya kamu udah makan bareng klien-klien kamu tadi?” Nabila merapikan rambutnya yang berantakan, layaknya orang bangun tidur.
“Uh so sweet banget kata-katanya, segitunya? bohong nggak tuh?” tanpa ragu, Nabila membuka pakaian tidurnya untuk menggantinya karena mereka akan keluar kamar.
“Aku jujur juga kamu kira bohong, kamu udah nggak apa-apa kan?” Tama memastikan keadaan istrinya. Mendekat, terlebih saat ini Nabila hanya mengenakan pakaian dalam yang berwarna serba hitam, seketika membangkitkan gairahnya.
“Nggak apa-apa, udah istirahat tadi udah agak enakan.” Jawab Nabila sambil meraih satu buah dress yang akan ia kenakan malam ini.
“Beneran? kalau kamu masih belum sanggup keluar, kita dikamar aja. Pesan makanan,” Tapi, kegiatan Nabila terhenti saat merasakan pundak dan punggungnya di sentuh oleh suaminya. Merasakan geli disekujur tubuhnya.
“Enggak apa-apa kok, aku bosan dikamar terus, sayang. Ayolah...” Nabila sudah paham kemana arah ajakan suaminya ini, tapi memang malam ini ia ingin keluar kamar, setidaknya memghirup udara malam. Berjalan-jalan disekitar hotel saja juga sudah cukup.
“Hem, oke.” Tama menyerah, usahanya tidak berhasil.
————————————
Mereka pergi ke tempat makan bernuansa outdoor dan tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap, angin sepoi-sepoi berhembus malam itu. Rasanya, sudah lama sekali Nabila tidak menikmati suasana seperti ini. Disela-sela menunggu pesanan mereka datang, Tama merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebuah box perhiasan dan meletakkannya dihadapan Nabila. Wanita itu terlihat celingak-celinguk melihat keadaan sekitar, belum menyadari apa yang ada dihadapannya.
“Sayang!” suara Tama menyadarkannya.
“Iya? kamu manggil aku?”
“Ya iya lah, jadi manggil siapa lagi, masa iya aku manggil waiters pake sebutan sayang,” gerutu Tama.
Kemudian Tama mengarahkan matanya pada sesuatu yang ia letakkan di atas meja tadi, Nabila tercengang melihat itu. “Ini? kok bisa tiba-tiba ada disini, punya siapa?”
“Punya kamu,”
Nabila meraih kotak mungil berwarna hitam itu, membukanya dan tak percaya dengan yang ada didalamnya. Kalung berlian cantik dengan liontin mungil sebagai hiasannya.
“Kamu suka?” Nabila mengangguk, tapi masih heran dan berpikir. Tidak ada moment apapun saat ini, mengapa suaminya memberi hadiah?
“Makasih sayang, aku suka... tapi, ini dalam rangka apa? kan aku lagi nggak ulang tahun atau, anniversary kita kan udah lewat.” Nabila mengeluarkan kalung itu, begitu cantik dan berkilau.
“Itu... hasil kerja keras aku selama tiga bulan terakhir ini, sekalian permintaan maaf aku karena mengabaikan kamu akhir-akhir ini, itu hasilnya.” Tama bangun dari duduknya dan meraih kalung itu dari tangan Nabila kemudian membantu Nabila untuk mengenakannya. Beberapa pasang mata disekitar mereka tentu mengalihkan pandangannya pada mereka, “Makasih,”
“Tapi ini nggak gratis,” jawabnya setelah kembali duduk.
“Iya aku tau, kamu minta jatah kan?” Nabila memutar bola matanya. Dan mengecilkan volume suaranya setelah mengatakan itu.
“Tau aja kamu,” jawab lelaki itu.
Dari kejauhan ada yang sedang menatap mereka dengan tatapan iri. enak banget ya kalau bisa jadi istrinya dia, ganteng, pintar, baik juga sayang istri. Sayang, aku terlambat.
———————
Bau-bau pelakor mulai tercium nih thor 😂 yang nungguin kabar kehamilan Nabila, sabar ya. Kita ungkap di episode selanjutnya 😝