
Malam ini, entah sudah berapa kali Nabila terbangun dari tidurnya. Wanita itu berulang kali melihat jam yang ada dilayar ponselnya, seolah tak sabar menunggu pagi untuk memastikan apakah dirinya memang sedang berbadan dua atau hanya pikiran dan halusinasinya saja.
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul empat pagi, Nabila duduk di atas kloset didalam kamar mandi. Ia menutup mulut dengan tangannya, tak percaya kala melihat hasil yang ditunjukkan oleh tespeck yang berada di tangannya hingga benda itu terjatuh ke lantai. Nabila memungutnya kembali, mulutnya terbuka, menatap tak percaya saat ada dua garis merah berada disana.
Oh Tuhan, aku beneran hamil?
Nabila berjalan keluar dari kamar mandi, menuju ranjang dimana suaminya masih berbaring disana bergumul dengan selimut putih dan tanpa sehelai benang pun. “Sayang...!!” wanita itu berseru sambil menarik selimut yang dikenakan Tama.
“Sayang,” Lagi, Nabila membangunkan lelaki itu, kali ini dengan menghujami ciuman berulang kali pada pipinya.
“Apa sayang? kamu mau lagi? aku ngantuk banget ini,” Tama berkata tanpa
membuka matanya.
“Aku hamil,” tutur Nabila dengan bibir yang bergetar. Jantungnya masih berdegup tidak karuan. Berulang kali ia memastikan dirinya bahwa ia sedang tidak bermimpi, dan ini nyata.
Tidak ada respon dari lelaki itu, Nabila yakin Tama kembali tertidur. “Tamaaaa... aku hamil anak kamu!!” teriaknya agar membangunkan suaminya, memecahkan keheningan kamar hotel pagi itu.
Seketika lelaki itu membuka matanya secara paksa, membenarkan posisinya menjadi duduk. Setelah matanya terbuka sempurna, ia masih memastikan bahwa ia sedang tidak bermimpi mendengar kalimat dari istrinya barusan. Menakjubkan. “kamu nggak bercanda kan?” tanya lelaki itu sambil menatap wajah Nabila yang terlihat kaku.
Nabila mengangguk sambil menunjukkan benda pipih panjang yang berada ditangannya. Setelah Tama melihat itu, ia kembali meyakinkan dirinya “Aku bakalan jadi Ayah?” Tama meraih tubuh Nabila untuk ia dekap erat, rasanya tak ingin ia lepas.
“Iya sayang,” suara Nabila tertahan, air bening mulai menetes dari matanya kini membasahi pipinya.
Sejenak, Tama melepas pelukan. Menatap lekat pada wajah istrinya. “Alhamdulillah, akhirnya kesabaran kita membuahkan hasil, makasih ya sayang udah mau jaga diri kamu sampai ke titik ini, aku janji bakalan selalu ada buat kamu, dan dia,” Ibu Jari Tama mengusap pipi Nabila.
Sementara wanita itu masih sibuk menumpahkan air mata, tak bisa menahan rasa harunya. Kini, kembali ia memeluk erat lelakinya, ayah dari anak yang ada dalam kandungannya. “Iya sayang, Alhamdulillah. Aku nggak nyangka rasanya seperti ini, aku juga janji bakalan jaga dia sebaik mungkin,” Nabila membenamkan wajahnya pada dada suaminya, Tama mengusap lembut kepala hingga ke punggung Nabila. Mencoba meredakan tangisnya.
“Udah jangan nangis lagi, dia pasti nggak suka dengerin mamanya nangis.”
seketika Nabila tersenyum sambil melepas pelukan, ya saat ini dia tidak lagi sendiri. Ada nyawa lain yang akan hidup bersamanya selama beberapa bulan kedepan. “Gitu dong, ini kabar bahagia, masa harus ada air mata sih?” ucap lelaki itu sambil merapikan rambut Nabila yang berserakan.
“Hari ini, kita ke dokter kandungan ya buat meriksa dan memastikan keadaannya,” Tama meraih ponselnya di atas nakas, hendak mencari informasi tentang dokter kandungan terbaik yang ada di kota itu. Mengingat sekarang mereka tidak sedang berada di daerah mereka.
“Nanti aja deh waktu kita udah balik ke Jogja,” sergah Nabila. Tapi, dengan cepat Tama menggeleng. “Jangan di tunda-tunda, kita masih dua hari lagi disini. Apalagi kemarin kita baru perjalanan jauh naik pesawat, aku nggak mau kenapa-kenapa nantinya.”
Nabila hanya mengangguk mengiyakan, ucapan suaminya ada benarnya. Ia kembali tersenyum, ternyata Tama bisa bersikap sangat-sangat dewasa disaat seperti ini.
———————————
Tama sudah menentukan ke dokter kandungan mana mereka akan memeriksa kehamilan Nabila, tapi sepertinya rencana hari ini tidak berjalan mulus karena Nabila kembali merasakan mual dan pusing hingga mengharuskannya untuk terus-terusan berbaring diranjang.
“Harusnya kita pulang hari ini, kan?” tanya Nabila pada Tama yang kini duduk tepat disampingnya.
“Sebenarnya urusan aku ketemu klien udah selesai, rencananya setelah itu kita kan mau liburan beberapa hari disini, tapi karena kondisi kamu kayak gini. Ya udah kita dikamar aja.”
“Iya, besok kita pulang aja ya,” ajak Nabila.
“Kalau kamu masih kayak gini, gimana mau pulang? kita disini aja dulu, sampe kamu benar-benar sehat—“
“Sayang... perempuan hamil itu bisa berbulan-bulan loh kayak gini, jadi... nggak mungkin kan kita netap di Bali berbulan-bulan.” Nabila langsung memotong kalimat suaminya.
“Iya, tapi setidaknya kita bisa nunggu sampe kamu stabil dan—“
ting tong
ting tong
Pintu terbuka, “Pak,” ternyata itu adalah Marsha dan wanita itu langsung memalingkan wajahnya saat melihat Tama dalam keadaan seperti itu.
“Kamu? ada apa?”
“Ki-kita jadi balik ke Jogja hari ini, Pak? biar saya pesankan tiketnya—“
“Kamu balik duluan aja, saya dan istri masih beberapa hari lagi disini,” sahut Tama tanpa membiarkan Marsha menyelesaikan kalimatnya.
“Kenapa nggak nanya via telpon aja?” Tama masuk kembali kedalam kamar tanpa menutup pintu, untuk mengambil kaosnya.
“Siapa sayang?” tanya Nabila, tapi Tama tidak menjawab. Ia kembali ke pintu untuk menemui Marsha.
“Maaf Pak tadi saya udah kirim pesan ke Bapak tapi, Bapak enggak baca-baca, telpon juga nggak Bapak angkat,” jawab Marsha.
“Ya udah, kamu pulang duluan ya,”
“Tapi Pak... saya nggak pernah naik pesawat sendirian, yang kemarin juga baru pertama kalinya buat saya,” rengek wanita itu.
“Terus gimana? kamu masih mau disini?”
“Kalau boleh, Pak.”
“Ya udah terserah, udah kan? ada yang lain? oh iya, berkas klien kita Fandy kemarin kamu bereskan aja selama disini, jadi nanti saat nyampe di Jogja kita bisa ngelanjutkan yang lain,” Sederet pertanyaan dan perintah dari Tama tanpa memberikan kesempatan pada asistennya untuk menjawab.
“Ba-baik Pak,”
Bugh
Suara pintu yang di tutup, Tama masuk kembali menghampiri istrinya. “Si Marsha, dia nanya jadi balik ke Jogja hari ini atau enggak,” Tama menjelaskan sebelum istrinya itu kembali bertanya.
“Oh... aku mau tidur dulu, ngantuk banget. Tadi malam aku nggak bisa tidur,” Nabila kembali menarik selimutnya dan memejamkan mata.
“Iya, nanti kalau sarapannya udah diantar, aku bangunin ya,” Tama mengecup singkat kepala Nabila.
Selama Nabila memejamkan mata, tak henti-hentinya ia memandangi wajah Nabila, mengusap lembut pipinya. Rasa syukur atas apa yang telah ia dapat hari ini terus menyelimuti benaknya.
Bumil sefli dulu ya 😂
Biar ngehalu nya makin asyik.
Follow ig author yuk @rizki.taaaa biar kenalan kita, hehe
Dan maaf, upnya kelamaan 😪🙄