My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Empat Bulan Berlalu



Empat Bulan Berlalu


Hari ini adalah hari tasyakuran empat bulanan kehamilan Nabila, suasana kediaman Bapak Darwin terlihat sangat ramai. Jelas acara itu diselenggarakan secara besar-besaran. Ibu Irina benar-benar ingin merayakan kebahagiaan ini dan membiarkan seluruh kerabat mengetahui kabar bahagia ini.


Mulai dari keluarga besar hingga warga komplek perumahan elit kediaman mereka juga turut hadir atas undangan.


Sejak mengetahui kehamilannya, Nabila juga resmi berhenti bekerja dan hal itu sempat menimbulkan perdebatan hebat antara dirinya dan suami. Bagaimana tidak, Nabila harus merelakan profesi tercintanya, ia harus berhenti bertemu dengan orang banyak. Berhenti berbicara dengan lantang saat di persidangan demi membela klien. Kini semua tinggal kenangan baginya. Benar kata orang jaman dulu, perempuan itu tidak usah kuliah tinggi-tinggi, berkarir tinggi-tinggi kalau akhirnya akan mengabdi pada suami dan keluarga.


Tapi perlahan, Nabila mulai bisa menerima. Semua itu tentu karena perlakuan Tama yang baik dan terhadapnya dan selalu menuruti apapun kemauannya. Bahkan sering juga Nabila ikut Tama ke kantornya untuk menghilangkan rasa jenuhnya ataupun untuk sekedar mengobati kerinduannya terhadap keseharian seorang pengacara.


Sesekali, ia juga membantu Tama jika lelaki itu membawa pekerjaan kerumah. Meski Tama sudah melarangnya tapi Nabila tetap bersikeras dengan alasan ia sedih jika ilmunya tidak lagi bisa dipergunakan.


Semenjak hamil, mood Nabila bak roller coster naik turun tak karuan. Dan Tama sebagai suami sudah cukup kuat mental untuk menghadapi itu.


Cukup aneh-aneh tingkah wanita itu, jika tidak dituruti kemauannya ia selalu menggunakan ancaman untuk pulang kerumah Mamanya. Tentu saja Tama tidak ingin hal itu terjadi. Pernah beberapa minggu yang lalu, Nabila meminta tidur diruang tamu, tanpa alasan yang jelas. Hanya ingin saja, katanya.


Dengan terpaksa Tama menemaninya, tidur di sofa ruang tamu. Dan hari ini mood Nabila sepertinya mulai memburuk lagi saat melihat beberapa Ibu-Ibu yang beberapa bulan lalu menyakiti hatinya melalui kalimat-kalimat konyol menyakitkan yang menyarankan untuk mengikhlaskan Tama menikah lagi.


“Sayang, aku pusing.” ucap Nabila sambil meraih tangan suaminya untuk digenggam. Sebenarnya itu hanya alasannya saja, ia begitu malas menghadapi tamu yang baru saja hadir dan sedang melirik ke arahnya.


“Ya udah, mau istirahat aja di kamar? aku temanin,” Tama merangkul bahunya saat Nabila memegang keningnya sendiri.


Nabila mengangguk dan lelaki itu langsung menggiring Nabila melewati beberapa tamu undangan, mereka hendak menuju kamar.


Sesampai di kamar, Nabila tersenyum lega. Melepaskan kerudung yang menempel di kepalanya sejak tadi. “Istirahat, kenapa malah senyum-senyum?” Tama duduk disamping istrinya yang terlihat aneh.


“Iya ini mau istirahat,” ucapnya kemudian berbaring. Kaki Nabila menjulur ia letakkan diatas paha Tama. Jika sudah seperti ini, Tama pun paham apa keinginan istrinya.


Jari jemarinya mulai memijat lembut kaki Nabila. “Sakit sayang, pelan-pelan...” keluhnya.


“Ini udah pelan banget, mau gimana lagi?”


“Lebih pelan lagi,” tuturnya.


“Dasar manja.”


Memang semenjak hamil Nabila begitu manja, kepada siapapun bukan hanya dengan suaminya saja. Begitu juga dengan Mama mertuanya, bukan Nabila memanfaatkan keadaan, ia sendiri juga bingung mengapa sifatnya berubah drastis seperti itu.


“Sayang, ada rekan-rekan aku diluar, sebentar ya?” Tama meminta izin dengan hati-hati.


“Rekan-rekan kamu? ada Marsha juga?” tanya wanita itu dengan nada ketus sambil menaikkan satu alisnya.


“Enggak, Marsha nggak aku undang. Puas kamu?” jawab lelaki itu.


“Hem bagus, ya udah sana.”


Nabila memang was-was dengan asisten suaminya yang bernama Marsha itu. Menurutnya wanita itu terlalu berbahaya dan terlalu berani, istri mana yang tidak khawatir suaminya dekat dengan perempuan genit? terlebih semenjak hamil, Nabila begitu membenci Marsha, hingga sering merutuki wanita itu saat menelpon suaminya walau dalihnya urusan pekerjaan.


Tok Tok Tok


selang beberapan menit, pintu kamar Nabil diketuk. “Ini Mama, sayang...” mendengar suara Mama Irina dari luar kamar.


“Oh iya Ma, masuk.” Nabila membenarkan posisinya. Seketika ia tersenyum sumringah melihat siapa yang datang, tak hanya Mama Irina tetapi Mama Devi-Ibu kandungnya juga menghampirinya.


“Mama...” Nabila memeluk sang Mama dengan sangat begitu erat.


“Sehat-sehat ya anak dan cucu Mama,” Mama Devi mengusap pelan perut Nabila yang mulai membuncit.


“Iya Mama, makasih.”


“Bu Irina, Nabila nggak ngerepotin ‘kan?” kini pandangan Mama Devi beralih kepada besannya.


Bu Irina menggeleng, dan tersenyum. “Sekalipun dia ngerepotin, nggak jadi masalah buat saya,” jawab Mama Irina sambil melirik ke arah menantu kesayangannya.


“Saya udah anggap Nabila seperti anak saya sendiri,” lanjut Mama Irina.


“Makasih Bu Irina.” jawab Mama Devi.


🌸🌸🌸


Novel ini sebentar lagi tamat ya 😄