My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Dimana Kamu?



Tama masih terdiam tak percaya dengan ajakan Nabila, "Tama, jawab dong!" suara Nabila menyadarkannya.


"Kamu serius nggak sih sama aku? aku mau hubungan kita sekarang dan nantinya nggak ada pengganggu seperti dia."


"Aku serius sama kamu, tapi kayaknya nggak perlu--"


"Oh, ya udah kalau gitu, kamu nggak mau aku ketemu sama dia, oke aku anggap kamu masih ada sesuatu sama dia." ucap Nabila sambil mendengkus kesal kemudian beranjak turun dari mobil lelaki itu.


Tama meremas kasar rambutnya sendiri, "Ah sial*an kenapa jadi gini, sih? Citra wanita itu!" Lalu ia juga turun untuk mengejar Nabila yang kembali masuk ke dalam gedung kantor.


"Nabila tunggu, oke. Ayo kita ketemu dia." Nabila segera menghentikan langkahnya dan berbalik. Nabila penasaran seperti apa sih wanita itu? dan ingin melihat bagaimana reaksinya ketika bertemu Nabila yang nantinya akan mengaku sebagai pacarnya.


Mereka berdua kembali memasuki Mobil, Tama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sengaja memperlambat. Ia belum siap, apa yang akan terjadi setelah ini? apa kedua wanita itu akan berkelahi atau, ah entahlah.


Sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka sampai. Nabila berjalan mengikuti Tama masuk menuju Cafe dimana Citra mengajak lelaki itu bertemu. Tapi tiba-tiba saja ia ingin sekali menggandeng lelaki itu. Tama tercengang, tak pernah-pernah Nabila seperti itu, senyum pun mengembang di bibir Tama, merasa menang, sudah lama ia menantikan pengakuan dari Nabila seperti ini.


Tama mengedarkan pandangannya di dalam Cafe, dan tertuju pada Citra yang sudah menunggu sambil mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan.


"Hai," Nabila lah yang duluan menyapa. Citra mendongak melihat siapa yang menyapanya. mulai menggeram ketika melihat Tama datang bersama seorang wanita cantik, terlebih tangan kanan Nabila yang melingkar manis di lengan kekar Tama. Ingin sekali Citra mengumpat saat itu.


"Siapa dia, Tama? maksud kamu apa?" Segera Citra bangun dari duduknya.


"Santai dong, ada baiknya kita kenalan dulu." Bukan Tama yang menjawab, melainkan Nabila.


"Aku nggak ngomong sama kamu, ya perempuan nggak tahu diri!" Citra tidak bisa menahan emosinya, sementara Nabila masih saja bersikap santai.


"Citra, kenalin ini Nabila pacar aku, dan sebentar lagi kami akan menikah." Nabila tercengang di tempatnya mendengar kalimat yang dilontarkan Tama, ia mengerjap beberapa kali. Tak menyangka ternyata lelaki itu benar-benar menganggapnya dan berani berkata serius dihadapan Citra.


"Oh, jadi hubungan kita berakhir karena dia?" Citra menatap tajam ke Nabila. Dan akhirnya Nabila duduk tepat dihadapan Citra, "Tama, aku lapar, kita pesan makanan ya." ujar Nabila melirik sekilas ke Tama yang masih berdiri.


"Apa maksud ini semua, Tama? setelah kita berciuman mesra kemarin, itu nggak benar-benar berakhir kan?" Tama sudah menduga pasti akan ada kalimat seperti ini. Nabila yang sedang memilih-milih menu makanan pun menghentikan aktifitasnya.


"Apa? ciuman?"


"Jangan percaya sama dia, sayang." Tama mencoba menenangkan Nabila yang mulai terbawa emosi.


Citra menggigit bibit bawahnya kemudian tersenyum sinis, "Sungguh menjijikkan ya kalian berdua! aku punya buktinya." Citra mengeluarkan ponsel miliknya dan memperlihatkan fotonya yang sedang beradu bibir bersama Tama, membuat lelaki itu melongo tak percaya. Benar, sungguh licik ternyata wanita ini, ia benar-benar merencanakan semua. Foto ini pasti diambil oleh salah satu orang yang bekerja dirumahnya.


siala*n ! umpat Tama dalam hati, sementara Nabila terdiam kaku, merasa lucu ternyata selama ini ia telah dipermainkan oleh Tama. Tak mau berlama-lama, Nabila bangkit dari duduknya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua, Ia meraih sebuah gelas berisi minuman lalu kemudian menuangkannya ke wajah Citra, sambil tersenyum puas.


"Dasar munafik!" umpatnya mengarah pada Tama. Nabila mengambil langkah cepat, keluar dari tempat itu. Air mata yang ingin jatuh ia tahan.


"Kurang ajar kamu, Citra. Bang*sat!!" tak peduli Citra adalah seorang wanita, makian pun Tama lontarkan padanya. Orang-orang yang berada di sekitar mereka tentu saja menyaksikan pertunjukan itu.


Tama keluar mengejar Nabila, namun ia tak mendapatinya. "Kemana dia? cepat banget hilangnya." gerutu Tama sambil mengusap kasar wajahnya.


Citra menggeram marah, wajah dan sebagian bajunya basah akibat ulah Nabila. Ya dia memang pantas mendapatkan itu, setidaknya Nabila tidak sia-sia pergi kesini menemuinya, walau akhirnya kecewa dengan apa yang ia lihat. Tapi Nabila sedikit puas dengan apa yang ia lakukan terhadap perempuan itu.


Tama masih mencari-cari Nabila disekeliling Cafe, tak mungkin Nabila sudah pergi dari tempat ini, hanya selang beberapa detik saja. Tama yakin ia masih berada disekitar sini, mengambil ponselnya untuk menghubungi Nabila namun ternyata panggilan tidak tersambung.


Tama tidak bisa melakukan apapun, mungkin ini hukuman baginya. Hukuman atas apa yang ia lakukan terhadap Nabila. Perasaannya sudah tidak enak saat Nabila mengajaknya untuk menemui Citra tadi. Ia sudah menduga pasti akan begini jadinya. Niat mengelak atas apa yang di katakan Citra, tapi ternyata wanita itu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


Nabila, dimana kamu?


-------


Tuh kan Tama, makanya jangan main api 😂