
Beberapa bulan kemudian...
Suasana di sebuah ruangan VVIP salah satu rumah sakit bersalin di kota mereka semakin menegang. Nabila tengah menahan rasa sakit pada perut bawah dan sekujur pinggangnya. Tama, Mama Devi dan Mama Irina terus mendampingi Nabila.
“Aku... Aku nggak kuat lagi,” ujarnya. Air mata berderai, rambutnya acak-acakan. Meski ruangan itu dilengkapi dengan alat pendingin, tak mampu menahan peluh Nabila yang bercucuran karena menahan sakitnya.
“Kamu pasti bisa sayangku, jangan nyerah... aku nggak akan kemana-mana, tetap disini—“
“Sakit banget,” Napas Nabila tersengal-sengal. Tama terus mengusap-ngusap kening wanita yang kini sedang berjuang menjelang melahirkan anaknya.
Nabila berbaring, kini ia hanya mengenakan dress rumahan dengan beberapa kancing didepannya. Sejak beberapa jam lalu, ia merasakan gelombang hebat, sakit di sekujur pinggang hingga perut bawahnya. Kepalanya pun terasa berat. Dokter mengatakan bahwa Nabila baru mengalami pembukaan ketiga. Itu artinya masih ada tujuh bukaan lagi. Tapi wanita itu berkali-kali mengatakan tak sanggup dan akan menyerah.
“Ma... aku nggak tega ngeliat Nabila kayak gini Ma, gimana kalau kita nyerahin ke Dokter Kandungan aja, melalui jalan operasi.” Tama pun tak kuasa melihat istrinya yang kesakitan, tak ada jalan lain menurutnya, selain operasi.
“Nggak bisa gitu, Tama... inilah perjuangan untuk menjadi seorang Ibu, emang nggak gampang. Sabar... Nabila pasti bisa melewatinya,” tutur Mama Irina, dijawab anggukan oleh Mama Devi yang setuju dengan pernyataan itu.
“Sayang sabar... sebentar lagi kamu bakalan jadi Ibu, itu ‘kan yang kamu nantikan sejak dulu?” Mama Devi terus menguatkan Nabila. Berulang kali menyeka keringat yang terus keluar dari pori-pori keningnya.
“Ma... Maafin Nabila ya,” ia meraih tangan Mama Devi untuk digenggam, baru ia tahu bagaimana rasanya perjuangan seorang Ibu untuk melahirkan anak ke dunia, selama ini Nabila sering membantah perkataan Mamanya, selalu menyepelekan nasihat-nasihatnya.
“Kenapa minta maaf?” tangan Nabila dan Mama Devi saling bertautan. “Nabila sering membantah ucapan dan nasihat Mama, Nabila bukan anak yang baik untuk Mama...” isak tangis Nabila semakin menjadi, Mama Devi menggelengkan kepalanya. “Nggak sayang, nggak apa-apa. Yang penting sekarang, persiapkan diri kamu ya.” Mama Devi mengusap air mata Nabila yang berderai.
Tak lama kemudian, Tama masuk bersama seorang Dokter Kandungan yang menangani istrinya. “Bagaimana Bu Nabila? saya harap Bu Nabila tetap kuat ya—“
“Dokter, tolong siapkan operasi persalinannya,” Tiba-tiba Tama langsung memotong perkataan Dokter, tanda tidak terima bahwa Dokter berharap Nabila tetap kuat. Ia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan Nabila yang kesakitan.
Perdebatan pun di mulai, antara Tama, Mama Devi dan Mama Irina mereka masing-masing mempertahankan pendapat.
“Sebentar, Pak... Bu. Kita tanyakan saja pada pasien bagaimana?” pandangan Dokter beralih kepada Nabila yang masih terbaring lemah, kini wanita itu mengubah posisisnya menjadi duduk bersila sambil memegangi pinggangnya yang mulai kaku lagi setelah reda beberapa detik.
“Aku siap kok untuk dioperasi aja, sakit ini... aku nggak sanggup lagi.” Napas Nabila terdengar ngos-ngosan. Ia menundukkan kepalanya, rasa nyeri itu kembali datang. Ia berpegangan pada tangan suaminya dan satunya lagi kepada Mama Devi.
Dokter hanya tersenyum saja mendengar pernyataan Nabila, melihat kondisi Nabila saat ini, memang berat perjuangan untuk melahirkan tapi juga tak sedikit wanita yang menyerah saat baru pembukaan kedua atau ketiga.
Beberapa jam berlalu, Tama merasa keputusan yang ia ambil sudah sangat tepat. Saat ini, ia sedang menemani istrinya yang kini perutnya sedang dibedah. Bius lokal yang Nabila dapatkan pun membuatnya masih tersadar. Dengan memakai pakaian khusus ruang operasi, Tama terus mendampingi istrinya. Mengecup keningnya berulang kali. Hingga membuat para bidan dan perawat yang membantu dokter menjadi iri dengan kesetiaan dan perlakuan Tama terhadap istrinya.
Nabila sudah dipindahkan kembali ke ruang rawat inap setelah menjalani operasi caesar selama sekitar satu jam. Rasa haru menyelimuti pasangan itu yang tengah berbahagia karena kini di tengah-tengah mereka ada buah hati yang sudah lama mereka nantikan kehadirannya.
“Kanaya Almahyra, nama yang cantik ‘kan?” tanya Nabila pada suaminya. Karena ia yang mengusulkan nama itu.
“Iya, seperti orangnya juga Mamanya,” Tama mengecup kening kedua wanita yang begitu ia cintai itu secara bergantian.
“Aku cinta kalian berdua,” ucap lelaki itu kemudian.
“Kami juga cinta kamu Papa,” jawab Nabila dengan mata yang berbinar-binar.
Tak dapat digambarkan bagaimana bahagianya keluarga baru itu, Tama tak henti-hentinya bersyukur di dalam hatinya. Akhir perjuangan dan penantiannya kini terbayar sudah. Nabila, wanita yang ia perjuangkan selama hampir satu dekade, kini menjadi miliknya utuh dan dihadiahkan malaikat kecil meski harus sedikit menunggu.
🌸🌸🌸
Menjadi seorang Ibu memang tidaklah mudah, ini merupakan pengalaman terbaru bagi Nabila. Yang dulunya berkutat dengan kertas, berkas dan buku-buku, kini harus menjalani hari-hari yang terbiasa dengan suara tangisan bayi, popok, botol susu, dan harus terbangun setiap kali baru terlelap karena Kanaya menginginkan ASI. Tak bisa di pungkiri, mata Nabila pun kini terlihat bertambah lingkaran hitamnya.
Pagi itu, usai mandi, Nabila terlihat sedang berdiri menatap pantulan dirinya didepan cermin. Ia hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Perlahan, Nabila menaikkan sedikit kaosnya terlihat bekas jahitan operasi persalinan masih begitu membekas disana. Ia tidak boleh mengeluh, ada hadiah yang tak ternilai harganya dibalik jahitan yang ia dapat, meski bekas luka itu kini mengurangi indah bentuk tubuhnya.
Sekilas, Nabila melirik ke arah bayi perempuan mungilnya yang tertidur lelap didalam box bayi, Nabila tersenyum kecil. Merasa bersyukur, membuatnya berhenti mengeluh.
“Kamu ngapain?” Tama berjalan mendekatinya sambil membawa segelas susu hangat untuk istrinya.
“Selesai mandi, makasih sayang,” ucapnya saat menerima gelas berisi susu, tak menunggu lama, ia langsung meneguk habis tanpa sisa. Ucapan terimakasih dari Nabila dibalas satu kecupan dipipinya, membuat Nabila tersipu malu. Perlakuan Tama terhadapnya semakin manis semenjak buah hati mereka lahir.
“Kamu... beneran nggak ke kantor hari ini?” Nabila mendekati Tama yang sedang duduk di tepi ranjang, lelaki itu meraih pinggang Nabila agar istrinya itu lebih mendekat padanya hingga tak berjarak.
“Enggak, mau dirumah aja, kangen sama kamu.” Tama menenggelamkan wajahnya pada dada Nabila. Semenjak Kanaya lahir, lelaki itu jadi jarang pergi ke kantor. Ia akan pergi jika ada sesuatu yang mendesak saja, untunglah Firma Hukum itu adalah milik Papanya, jika milik orang lain, sudah pasti ia akan dipecat dan digantikan oleh orang lain.
Nabila mengerti kemana arah kata kangen yang dimaksud suaminya itu. “Aku... belum siap untu itu.” perlahan ia menjawab kemudian meletakkan kedua tangannya di pundak Tama.
“Kenapa?” Tama mendongakkan kepalanya agar pandangan mereka saling bertemu.
“Jangan, aku... malu.” tutur Nabila pelan. Nabila belum siap, untuk memperlihatkan bagian tubuhnya yang kini sudah berubah drastis. Tak lagi mulus, tak lagi rata. Strech mark dan bekas jahitan kini terlukis diperutnya.
“Malu karena ini? aku nggak peduli,” Tama menyingkap kaos yang dikenakan Nabila ke atas, kini apa yang membuat Nabila malu itu terpampang nyata. Perlahan, Nabila menepis tangan Tama agar tidak membukanya lebih.
“Aku nggak peduli gimana pun kamu saat ini, cinta dan sayang aku nggak akan pudar hanya karena ini, kamu udah banyak berjuang buat aku, sayang.”
Sungguh memabukkan kaimat yang dilontarkan Tama barusan, Nabila tersenyum kecil. Rasa bangga dan haru menghampiri benaknya. Atas kalimat indah yang barusan Tama ucapkan, Nabila menghadiahkan satu kecupan dibibir Tama. Tapi, lelaki itu tak membiarkan Nabila melepaskannya, justru ia memperdalam ciuman. Hingga mereka terhanyut dalam hasrat yang sudah tertahan sejak beberapa bulan yang lalu.
Tama melepaskan ciuman sejenak, untuk meminta persetujuan. “Jadi, boleh ‘kan?” menatap penuh harap pada Nabila.
Nabila yang merasa tak tega pun kini menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mendapat persetujuan, Tama ingin sekali bersorak kegirangan. Dan perlahan ia menjatuhkan tubuh Nabila ke atasnya, kemudian menggulingkan kesamping untuk mengubah posisi mereka.
Rasanya, sama seperti saat mereka melakukannya pertama kali. Hasrat yang menggebu, Nabila yang terlihat malu-malu. Persis saat malam pertama mereka. Tama tidak mendapatkan lebih, hanya satu kali. Karena teriakan histeris oleh Kanaya, mengharuskan Nabila untuk mengangkatnya dari box bayi dan memberikannya ASI. Sudah menjadi kebiasaan bayi itu seperti ini.
“Terimakasih sayang,” Tama mengecup puncak kepala Nabila yang kini tengah menyusui Kanaya.
🌸🌸🌸
Malam harinya, Nabila berbaring miring sambil menatap suaminya yang tengah mengenggam tablet, ia bekerja dari rumah. Memeriksa hasil analisa kasus oleh karyawannya. Nabila terus menatap Tama, ada sesuatu yang sangat ingin ia sampaikan dari beberapa hari yang lalu. Nabila takut dan ragu untuk menyampaikan. Meski ia tahu jawaban dan respon seperti apa yang akan diberikan Tama atas pertanyaannya itu.
“Tidur, sayang!” Tama yang merasa ditatap terus-terusan pun menyadari bahwa istrinya itu belum memejamkan mata.
“Sayang, boleh aku nanya sesuatu?”
Tama meletakkan tablet diatas pangkuannya, kemudian pandangannya beralih pada Nabila yang terlihat begitu serius. “Kenapa sayang?”
“Ehm... apa boleh aku kembali bekerja setelah Kanaya besar? paling nggak sampe dia tiga tahun.” Nabila merapatkan bibirnya setelah mengatakan itu, menanti jawaban atas suaminya yang kini terlihat sedang berpikir. Besar harapan Nabila agar suaminya itu setuju, karena jujur Nabila sangat merindukan kesehariannya menjalani profesi sebagai pengacara.
“Boleh, sayang.”
Nabila membulatkan matanya mendengar dua kata dari suaminya, seketika ia menghambur kedalam pelukan Tama, menghadiahi banyak kecupan diwajahnya.
“Ehm, mau ngulang yang tadi pagi ya?” tanpa sadar, posisi mereka saat ini sangat intens. Kedua tangan Nabila tepat berada di atas dada suaminya.
“Oke siapa takut, anggap aja sebagai hadiah persetujuan karena aku boleh bekerja lagi.” Mereka berdua tersenyum, Tama langsung menyingkirkan pekerjaannya tak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.
T A M A T
Follow ig @rizki.taaaa untuk tahu info2 terbaru. Thanks ya 😘