My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Sedih



Dua tahun berlalu


Nabila dan Tama menjalani pernikahan tanpa hambatan apapun, semuanya berjalan mulus. Semakin hari, mereka semakin romantis dengan sering mengungkap kata cinta. Hanya saja, sepertinya Tama yang lebih dewasa sekarang dan Nabila yang berubah menjadi manja dan kadang sifatnya kekanakan.


Sejak satu tahun yang lalu, Tama tidak lagi bekerja di Firma hukumnya Pak Johnatan, ia sudah fokus menjalani karirnya di Firma hukum papanya sendiri yaitu Pak Darwin. Tama juga sudah mahir dalam menangani kasus, ia banyak belajar dari Nabila dan juga dari Papanya.


Pagi itu Nabila dan Tama sedang terburu-buru mengingat mereka sama-sama punya jadwal pagi ini.


"Kan udah aku bilang, jangan tidur lagi, kamu malah tidur lagi. salah siapa coba?" Ucap Nabila yang sudah bersiap rapi dengan setelan blazer dan roknya.


Pagi tadi, setelah percintaan panas mereka, Tama mengajaknya untuk tidur lagi dengan alasan masih ingin memeluk Nabila.


"Masih ngantuk banget sayang," Jawab Tama yang sedang berdiri dihadapan lemarinya mencari-cari dasi yang ingin ia pakai hari ini.


"Sekarang masih ngantuk juga?" Tanya Nabila kemudian menghampiri suaminya yang terlihat kesusahan mencari dasi itu.


"Kamu bilang disini, kan? udah aku cari loh nggak ada beneran sayang," ucap Tama.


"Ya ampun sayang, kok bisa berantakan gini. Kamu ih," Nabila kaget melihat susunan kemeja yang sudah ia rapikan beberapa hari lalu, kini berantakan tak karuan.


"Hehe, nggak sengaja loh," sambil menampilkan cengirinya seolah tak bersalah.


Tak butuh waktu lama, Nabila mencari dasi suaminya yang bercorak silver-putih. Padahal, banyak dasi yang lain, tapi lelaki itu memaksa harus yang itu.


"Ini apa?" Nabila membawa dasi itu kehadapan Tama.


"Eh beneran tadi aku cari nggak ada," Tama berbalik menghadap istrinya, Nabila mulai melingkarkan dasi itu dilehernya.


"Jadi kamu kapan mulai cuti? dokter bilang kamu nggak boleh terlalu capek, kamu lupa?"


"Iya sayang, setelah kasus ini selesai deh sekitar dua minggu lagi ya, beneran," jawab Nabila kemudian tersenyum.


"Beneran ya? jangan ditunda-tunda lagi cutinya," Tama mengingatkan.


"Iya suamiku sayang," Nabila mengecup sekilas pipi suaminya.


Pekerjaan Nabila yang begitu padat tentu membuat wanita itu sering kelelahan, sebulan yang lalu mereka kontrol ke Dokter Kandungan untuk mengetahui apakah ada masalah diantara mereka, sehingga sudah dua tahun pernikahan Nabila belum juga hamil.


Dokter bilang, mereka berdua sehat-sehat dan tidak ada masalah, hanya saja sepertinya Nabila sering stress dan kelelahan. Maka Tama meminta Nabila untuk memgambil cuti setidaknya dua bulan untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.


Sebenarnya Tama tidak terlalu masalah akan hal itu, karena menurutnya mereka hanya belum dikasih kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki anak. Tapi Nabila yang selalu mendesak dan antusias, bagaimana tidak, tahun ini usianya sudah tiga puluh tahun.


"Minum kopi nggak?" tanya Nabila lagi sebelum mereka keluar kamar.


"Nggak usah ntar di kantor aja,"


"Udah biar aku bikin aja sebentar, masih ada waktu kok satu jam lagi." Nabila berjalan keluar kamar, menuju dapur. Tama mengikutinya,


"Kenapa? kamu takut aku nyuruh Dinda yang bikin?" tanya Tama menggoda.


"Dinda cuma office girl dikantor sayang, kamu nggak pantas cemburu sama dia--"


"Tapi dia cantik, kamu kan suka sama perempuan-perempuan cantik," Nabila langsung menyangkal kalimat suaminya.


Mendengar itu, Tama tertawa karena cemburu istrinya sering tak berasalan, membuatnya menjadi gemas.


"Nih minum," Nabila menyodorkan segelas kopi ke Tama yang kini berdiri tepat disampingnya.


"Terus dia juga muda," lanjut Nabila.


"Kamu juga cantik, dan kamu juga muda."


Tama mendekati istrinya mencium pipi Nabila, "Bohong kamu, jelas-jelas aku lebih tua dari kamu. Jangan gitu ih, nanti Mama liat gimana?" segera Nabila menghindar.


Setelah menghabiskan kopi, mereka berjalan beriringan keluar pintu utama. Selama Tama sudah pindah kantor, setiap hari mereka pergi bekerja dengan menggunakan mobil masing-masing.


"Pulang jam berapa?" sebelum masuk ke mobil Nabila bertanya. "Sore, atau paling telat jam lapan ya sayang, kamu?" Tama balik bertanya.


"Aku sore kayaknya," Nabila bersyukur semoga aja Tama benar-benar pulang malam, karena ia merencanakan sesuatu untuk memberi kejutan pada suaminya karena hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.


"Sayang, kamu nggak melupakan sesuatu hari ini?" tanya Tama sebelum mereka benar-benar berpisah.


"Apa ya?" Nabila kembali bertanya.


"Ya udah, kalau kamu nggak ingat. Hati-hati kamu ya, jangan ngebut." Tama melambaikan tangannya, dan masuk ke mobil.


Begitu juga Nabila, ia tersenyum melihat wajah kesal suaminya karena berpura-pura melupakan hari penting mereka.


--------------------------------------


Sore itu, setelah memastikan bahwa Tama belum pulang kerumah, Nabila singgah ke salah satu toko kue ternama di kota Jogjakarta. Ia terilihat bingung memilih-milih kue, karena semuanya sangat cantik dan menggemaskan.


"Mbak, yang ini aja deh."


Nabila menunjuk salah satu kue yang berukuran sedang, simple dan tidak terlalu banyak hiasannya.


"Tulisannya apa Mbak?" tanya pegawai toko.


"Happy anniversary,"


"Gitu aja Mbak?"


Nabila mengangguk. Saat sedang menunggu, Nabila kembali melihat kue-kue yang lain, tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh lengannya.


"Nabila kan?" tanya wanita itu, ia pun menoleh.


"Hai, Rosa apa kabar?" Setelah mencoba mengingat, ternyata itu adalah Rosa, salah satu teman Nabila semasa SMP. Meski sudah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, mereka masih mengingat satu sama lain.


"Baik, kamu sendiri?" mereka pun berjabat tangan.


"Baik juga,"


"Lagi beli kue? siapa yang ulang tahun? anak kamu?" tanya Rosa.


"Oh... bukan ini kue buat anniversary. kalau kamu?"


"Buat ulang tahun anakku yang ketiga, oh iya by the way anak kamu sudah umur berapa?" tanya Rosa.


"A-aku... belum punya anak." Nabila tersenyum setelah menjawab.


Pesanan kue Nabila sudah selesai, setelah membayar, ia langsung pamit pada Rosa. "Aku duluan ya Rosa."


"Iya Nabila sampai ketemu lagi."


Masuk kedalam mobil, Nabila meletakkan bingkisan kue itu tepat disampingnya. Ia menyandarkan kepalanya pada stir mobil, entah mengapa dadanya terasa sesak setiap kali ada yang menyinggung dan bertanya soal anak. Ia tatap kue disampingnya,


"Maafin aku ya sayang, tahun ini aku masih belum bisa ngasih kamu kado yang sangat spesial, semoga kamu masih sabar menunggu." ucap Nabila, pelan-pelan ia mulai melajukan mobilnya dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.


Baru dua tahun pernikahan kok, nggak masalah Nabila. Bahkan ada yang sampai lima atau sepuluh tahun baru dikaruniai anak. Ia mencoba menguatkan dirinya dengan berpikiran positif.


Meski berusaha untuk biasa saja, tapi hal itu selalu saja membuatnya kepikiran, padahal orang-orang terdekatnya orang tua dan mertuanya juga tidak mempermasalahkan.


-----------------------------


Maaf ya baru update 😜