
Nabila sedang berada di dalam sebuah ATM center yang tak jauh dari Cafe tersebut. Selain bersembunyi dari Tama, ia juga berniat mengambil sejumlah uang dari rekeningnya.
Merasa dipermainkan, Nabila ingin sekali mengumpat. Rasanya ia tak ingin lagi melihat wajah lelaki itu.
Tapi itu tidak mungkin, mengingat mereka masih bekerja di satu kantor. Apapun yang terjadi, Nabila harus tetap bersikap profesional. Semenjak kejadian tadi, rasanya ia menyesal dipertemukan kembali dengan Tama. Sumpah demi apapun ia merasa jijik melihat foto ciuman mereka. Terlebih kejadian itu adalah kemarin, dimana status dirinya dan Tama sudah berpacaran.
Kini, Nabila tak lagi menangis, ia sudah terbiasa dipermainkan dengan laki-laki. Mulai dari sang Papa yang tiba-tiba saja mengenalkan wanita lain ke dalam keluarganya, Dimas yang ingin menikahinya tapi ternyata sudah berisitri, dan kini Tama...
"Sialan!!" Umpat Nabila tanpa sadar, mengalihkan pandangan seorang lelaki kepadanya.
"Kenapa Mbak? Mesinnya error?" Nabila menoleh, lelaki itu cukup tampan. Setidaknya, melihat wajahnya sekarang membuat ia lupa akan luka dihatinya. "Oh enggak Mas, nggak apa-apa."
Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman.
Nabila sudah menyelesaikan transaksinya, sebelum keluar dari ATM, ia mengintip sekilas keluar, memastikan Tama sudah pergi atau belum. Mobil Tama sudah tak terlihat, itu artinya lelaki itu sudah pergi.
Maka Nabila pun bergegas melangkah keluar, kemudian memesan taksi online untuk pergi ke tempat lain, mencari sesuatu yang lezat. Mengingat ia tak sempat menyicipi apapun tadi.
-------------
udahlah Nabila, nggak apa-apa. Mungkin kamu cuma belum ketemu aja sama orang yang tulus, Nabila mengelus dadanya. sekarang Nabila sudah berada di dalam taksi, tujuannya adalah salah satu warung makan di dekat gedung kantor, agar tak terlalu jauh nantinya.
Saat hendak membayar ongkos taksi, Nabila menyadari sesuatu yang sangat penting hilang dari dalam dompetnya yaitu Kartu Tanda Pengenal Advokat, dimana tanpa adanya kartu itu, ia tidak bisa mengikuti sidang mendampingi klien di pengadilan.
"Ya ampun,"
Sial banget sih hari ini.
"Ada apa Mbak?" tanya supir Taksi.
"Ehm, Pak bisa balik lagi ke tempat tadi nggak?" Nabila yakin kartu pengenal nya itu terjatuh saat di ATM.
"Bisa, Mbak. Jadi kita balik lagi nih?"
"Iya Pak, tolong ya. Cepetan." Seketika rasa laparnya pun hilang, ini lebih penting dari sekedar makan. Sumber mata pencaharian Nabila berada pada kartu itu. Nabila memijit pelipisnya pelan, tak menyangka begitu banyak kejadian yang menimpanya hari ini.
Sekitar lima belas menit, Nabila sampai di ATM center tadi. Namun sialnya ia tak mendapati itu disana, sepanjang trotoar jalan juga sudah Nabila telusuri. Ia berharap semoga ada orang yang menemukan itu, dan berusaha mengembalikan kepadanya. Sedang dalam keadaan yang membingungkan seperti ini, ponselnya terus berdering, ulah siapa lagi kalau bukan Tama.
Nabila sudah habis kesabaran, dan akhirnya ia pun memblokir nomor lelaki itu. Menurutnya itu adalah hal yang paling tepat ia lakukan saat ini. Entahlah bagaimana nanti saat ketemu di kantor.
----------------
Harusnya, tak ada yang mencurigakan, karena Nabila lah penguasa ruangannya saat ia tidak berada ditempat. Dan ia sudah percaya penuh pada keponakannya itu. Namun betapa terkejutnya Pak John saat menyaksikan adegan ciuman yang ia yakin terjadi diruangannya, tepat di atas sofa.
Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Adegan tersebut persis seperti yang ada di dalam film bergenre romantis. Dan yang membuatnya naik darah adalah pemeran didalam adegan itu adalah Nabila, dan diawali dengan Tama.
"Apa yang mereka lakukan selama aku pergi? Tama, kurang ajar dia, berani-beraninya..." tapi ucapannya terhenti kala memperhatikan rekaman itu dengan seksama dimana ternyata Nabila juga menyambut Tama dengan baik, saat melingkarkan tangannya pada leher lelaki itu.
"Oh, aku harus beri hukuman pada mereka." Melihat itu membuatnya mendadak naik darah, walau sebenarnya Nabila sudah benar-benar dewasa dan pantas saja untuk melakukan itu, tapi menurutnya tetap saja mereka sudah melewati batas. Dan ia bertekad untuk melakukan tindakan pada mereka berdua.
--------------
Nabila yang masih kesal dengan kartu pengenalnya yang hilang, ia tetap berusaha untuk mencari. Karena untuk mendapatkan kembali kartu itu urusannya sangat ribet dan lama. Ponselnya berdering lagi membuatnya berdecak kesal, "siapa lagi sih?" ia raih ponsel dari tas selempangnya.
"Iya Om,"
"Kamu dimana? segera ke kantor sekarang!" kalimat tanya dan kalimat perintah dijadikan satu, begitu singkat, tak pernah-pernah Om nya seperti itu padanya. Membuatnya mengernyitkan dahi, belum sempat ia menjawab, panggilan sudah terputus.
-----------
Dengan langkah tergesa, Nabila berjalan masuk ke gedung kantor dan langsung menuju ke atas. Masuk kedalam ruangan kebesaran pemilik firma hukum itu dan betapa terkejutnya Nabila saat disana sudah ada sosok yang sangat ia benci hari ini.
"Duduk kamu!" titah Pak John agar Nabila segera duduk dihadapannya, dan itu tepat di samping Tama.
"Ada apa, Om? apa terjadi sesuatu?" tanya Nabila hati-hati, melihat raut wajah Pak John yang sangat tidak baik.
"Kalian berdua, tolong jelaskan ini apa?" memperlihatkan laptopnya yang menampilkan adegan mesra mereka berdua.
Nabila terpaku, begitu juga dengan Tama, mereka berdua saling tatap. Namun seketika Nabila langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kenapa diam kalian? siapa yang akan jelaskan?"
Ternyata kesialan Nabila tak hanya sampai pada kartunya yang hilang, sekarang ia harus dihadapkan dengan masalah besar seperti ini.
--------------------
Hukuman apa kira-kira yang akan mereka dapat? di pecatkah? 😌