My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Kenapa Kau Tega?



Sementara Tama sudah berada di kamarnya, duduk di tepi ranjang dengan ponsel yang masih dalam cengkramannya.


"Aku harus menghubungi Mama, biar semuanya selesai," Kemudian membuka kunci layar ponselnya dan melihat jam yang tertera pada layar.


"Udah hampir jam 12 nggak mungkin lah, besok aja." Kemudian Tama membuka semua pakaiannya, dan hanya mengenakan celana pendek saja, lalu berbaring di ranjangnya.


Tama memejamkan matanya dan memikirkan Nabila.


Kenapa dia menangis? apa hatinya terlalu sakit karena mengetahui hubunganku dengan Citra? Ah Citra gadis itu selalu buat masalah.


Atau dia menangis karena aku sudah berani menciumnya?


"Ah...terlalu sulit untuk ditebak," Kemudian mengambil lagi ponselnya, dan mulai mengetik chat untuk Nabila.


-- Di dalam kamar Nabila --


drt..drt..


Nabila membuka chat dari Tama dengan perasaan yang masih tak karuan,


Satrya Tama F


Nabila sayang, maafkan aku.


Nabila hanya mengabaikannya, seperti biasa untuk menghilangkan kegalauan nya Nabila mengambil laptopnya untuk menonton drama Korea.


"Hah, lupa beli camilan, nonton tanpa mengunyah rasanya hampa banget," Ucap Nabila kemudian melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 00.06.


Sebenarnya Nabila adalah salah satu wanita yang beruntung, walau porsi makan dan ngemilnya banyak, berat badannya tetap stabil, itu adalah impian setiap wanita bukan?


Dengan posisi bersandar di ranjang dan selimut yang menutupi nya hingga ke dada, Nabila mulai melanjutkan menonton drama korea yang berjudul Trouble in Love yang diperankan oleh Ji Chang Wook. Melanjutkan episode yang belum sempat ia tonton, dan tiba-tiba Nabila memegang bibirnya saat menyaksikan adegan ciuman di dalam drama tersebut.


Ah...kenapa ada adegan seperti ini kan jadi ingat kejadian tadi. Nabila mengacak rambutnya pelan.


Berani sekali dia menciumku? bibir itu pasti sudah menyentuh bibir banyak wanita. Tama kenapa kamu tega sekali.


Nabila terus menggerutu kesal dalam hatinya.


Kemudian Nabila mengambil ponselnya, dia berubah pikiran dan mulai membalas chat dari Tama.


Nabila tidak melanjutkan menonton, ia memilih menutup laptopnya. Kemudian tidur dengan posisi telungkup memeluk bantal, namun sebenarnya ia belum benar-benar tertidur, ia mulai menangis lagi.


Aku nggak tahu ini perasaan apa? kenapa aku begitu sakit ketika mengetahui Tama ada hubungan dengan wanita lain? Apa aku mulai mencintainya?


Nabila begitu kacau, ia tak pernah sekacau ini. Bahkan ketika Dimas membohonginya dan pernikahan mereka gagal, Nabila tidak sakit hati dan sedih sama sekali. Tentu saja begitu, karena Dimas tidak terlalu penting baginya. Sejak saat itu, nabila hanya berpikir bahwa jodoh itu ditangan Tuhan.


***


Pagi itu, Tama terbangun mencari-cari ponselnya dan mulai melakukan panggilan,


"Halo Mama," tidak perlu menunggu lama, Bu Irin langsung menjawab telepon dari putra kesayangan nya itu.


"Iya sayang, ada apa kamu menghubungi Mama sepagi ini?"


"Ma, tolong aku," Ucapnya.


"Tolong apa? kamu kenapa sayang?" Bu Irin mulai panik.


"Tolong Mama sampaikan pada Citra untuk tidak menggangguku lagi, tolong jangan hubungi aku lagi, aku mohon Ma," Ucapnya lirih.


"Apa kamu udah menemukan pengganti Citra?" Bu Irin bertanya-tanya, Tama menghubunginya pagi-pagi buta hanya untuk mengatakan ini.


"Ma, jangan bertanya, Mama katakan juga pada Tante Miranda kalau perjodohan ini sudah berakhir, oke Ma?"


"Kenapa harus pakai syarat sih Ma? apalagi?" Tama mulai kesal.


"Kamu kenalkan siapa wanita itu yang sudah mengisi hari-harimu selama ini, kenalkan pada Mama dan Papa, bawa dia kerumah. apa kamu siap?" Bu Irin menantang Tama, karena penasaran wanita seperti apa yang bisa membuat anaknya berubah menjadi lebih baik.


"Oke, baiklah Ma. Tunggu urusanku di Malang selesai ya, itu syarat yang terlalu mudah, bye Mama." Tama mengakhiri panggilan.


Hatinya begitu bersemangat karena Mama ingin mengenal Nabila dengan harapan semoga orang tuanya bisa menerima Nabila.


Dia menatap lagi layar ponselnya dan ternyata sejak malam tadi Nabila membalas chatnya namun ia tidak menyadarinya.


Nabila ❤


Berani sekali kamu Tama, kamu tega sama aku. Itu yang pertama bagiku, tapi pasti yang kesekian bagimu.


"Oh, ternyata dia marah karena aku cium, haha," Tama tertawa saat membaca chat dari Nabila.


Kemudian Tama bersiap-siap bergegas mandi, hari ini ia akan membuat Nabila tersenyum dan ingin menebus kesalahan nya.


Setelah selesai semuanya, Tama keluar dari kamarnya menuju kamar Nabila, sebelumnya Tama sudah menghubungi Nabila melalui telepon namun tak ada jawaban.


Sesampainya di depan kamar Nabila, Tama mulai memencet bel tanpa henti. Membuat Nabila terbangun dari tidurnya, dan beranjak dari tempat tidur berjalan lunglai menuju pintu.


Saat pintu terbuka,


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Tama panik saat melihat wajah Nabila.


Nabila mengucek matanya, kemudian tersadar ternyata Tama yang ada di hadapannya.


Kemudian berlari menuju cermin untuk melihat bagaimana penampilan nya,


"Haah?" Betapa terkejutnya Nabila melihat wajahnya dengan rambut yang acak-acakan, mata sembab dan lingkaran mata yang menghitam akibat eyeliner yang luntur karena air matanya yang mengalir deras semalam. Karena saat tiba di hotel dengan perasaan yang kacau, Nabila tidak terpikir lagi untuk membersihkan make up nya.


"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" Tama nyelonong masuk ke kamar Nabila.


Ah ini memalukan, kenapa dia harus melihat penampilanku yang seperti ini.


"Tama, kamu tunggu diluar aku mau mandi dulu, sana.." ucapnya sambil melambaikan tangan nya gerakan mengusir.


"Aku tunggu disini aja," bukannya keluar tapi malah duduk di ranjang kamar Nabila.


"Keluar, cepetan!" menarik tangan Tama dengan paksa.


"Oke, hari ini aku mau nebus kesalahan aku kemarin, aku tunggu di bawah ya, sayang," melangkah pergi sambil mengacak kasar rambut Nabila.


Setalah Tama benar-benar keluar, Nabila langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri terutama membersihkan wajahnya yang sangat berantakan.


Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya turun dan menemui Tama.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Nabila yang masih sewot.


"Ayo kita manfaatkan waktu selama disini, kita jalan-jalan," Sambil menggandeng tangan Nabila.


***


Bersambung...


Readers, terimakasih yang sudah mengikuti Novel ini, nih author kasih visual mereka.