My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Memulai lagi



Bu Irin menunggu Tama pulang karena penasaran, dia menjemput Citra dari mana. Saat Tama masuk ke dalam rumah.


"Dari mana kamu?" Tanya Bu Irin tiba-tiba, Tama kaget karena tidak menyadari Mamanya sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Loh Mama kok belum tidur" Tanya Tama sebelum menaiki anak tangga.


"Iya Mama penasaran kamu jemput Citra dari mana?"


"Dari bar Ma" jawab Tama santai.


"Hah? Apa dia habis minum-minum?" Bu Irin kaget mendengarnya


"Begitulah wanita yang Mama pilihkan untukku, anak sahabat Mama yang kaya itu. Dia hampir memperkosa ku tadi" Jawab Tama yang tidak bisa menyaring kata-katanya.


"Apa kamu bilang barusan?" Bu Irin semakin terkejut dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Tama.


"Iya Ma, dia maksa aku untuk... ah sudah lah, Mama pasti paham, maaf ya Ma sepertinya aku nggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini, perasaanku ke Citra masih sama, aku gak bisa dan gak bakal jatuh cinta sama dia Ma" Katanya sambil menaiki anak tangga satu persatu dengan pelan.


Bu Irin hanya bisa terdiam mendengar semuanya penjelasan Tama.


***


Sekilas tentang Citra.


Citra adalah anak dari sahabatnya Bu Irin, yaitu Bu Miranda. Persahabatan mereka terjalin dari masa belia hingga masa sekarang, bahkan sejak mereka berdua belum menikah mereka sudah bercita-cita untuk menjadi besan, suatu saat nanti. Maka dari itulah Bu Irin sangat terobsesi menjodohkan Putranya dengan Putri sahabatnya itu.


Memang hubungan Tama dan Citra tidak langsung ke tahap pertunangan, mereka di beri waktu untuk saling mengenal satu sama lain dengan cara menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Tama hanya menurut saja, apalagi Citra yang memiliki paras cantik, sempurna. Namun setelah berjalan setahun, bukan nya malah jatuh cinta, Tama malah semakin muak dengan segala tingkah Citra yang menurutnya sangat menyebalkan.


Sekarang tidak ada alasan lagi bagi Tama untuk melanjutkan perjodohan tersebut, apalagi sekarang Tama sudah bertemu kembali dengan Nabila, niatnya semakin bulat untuk memutuskan hubungannya dengan Citra.


Tama duduk di tepi ranjangnya, mengambil ponselnya, dan mencari kontak Nabila, kemudian jempolnya nya mulai mengetik pesan.


Sepertinya aku melihat mu sedang berjalan kaki tadi, bener nggak ya?


***


Nabila sedang menikmati es krim nya yang ia beli di swalayan tadi, sambil menonton drama Korea, padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.56, hampir tengah malam. Inilah aktifitas yang dilakukan Nabila untuk mengurangi stres nya akibat pekerjaan. Menikmati cemilan, menonton drama Korea di malam hari.


drtt..drrt..


Sekilas ia melihat ke ponselnya yang bergetar tanda ada chat masuk.


"Ah, palingan grup alumni, siapa juga yang WA tengah malam begini" Katanya, yang enggan melihat ponselnya itu, karena masih ingin menikmati es krim yang ada di tangannya, dan matanya tetap fokus ke layar laptopnya, menonton drama Korea yang berjudul VIP yang di perankan oleh Jang Nara.


"Hemm, dasar laki-laki semuanya emang bren*sek" Ucapnya lagi sambil terus menjilat eskrim nya, ketika melihat sebuah adegan perselingkuhan di dalam drama Korea tersebut.


Setelah satu jam lebih menonton drama Korea, dan cemilan nya pun habis, Mata Nabila sudah mulai tak kuat lagi, pertanda sudah sangat mengantuk. Segera Nabila menutup Laptopnya meletakkan di sebelahnya dan ia pun berbaring menutup matanya.


Begitu juga dengan Tama yang menunggu balasan chat dari Nabila, hingga tertidur dengan ponsel yang masih berada di tangan nya.


***


Pagi itu, Nabila bangun kesiangan. Jam menunjukkan pukul 08.25, seharusnya ia sudah berada di kantor saat itu. Nabila bergegas bangun merapikan ranjangnya yang masih berantakan dengan laptop dan bungkusan cemilan-cemilan nya tadi malam, kali ini ia tidak mau terburu-buru. Mengingat Pak John pernah berkata bahwa ia diberikan kelonggaran waktu, jadi kali ini dia benar-benar memanfaatkan nya.


Sementara Tama yang sudah berada di kantor, ia kecarian Nabila.


"Nabila belum nyampe?" Tama nyelonong di depan pintu ruangan mereka, dan membuka setengah pintu ruangan tersebut.


"Belum tuh, tumben" Jawab Doni.


"Hai" Sapa Tama pada Nabila.


"Hai? Kaku banget sih kamu, kayak baru kenal aja, awas aku mau masuk"


"Judesnya masih juga ternyata" Jawab Tama pelan, Nabila mendengarnya namun tak menghiraukannya. Tama pun ikut masuk keruangan, karena masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai kemarin.


Nabila mulai duduk dikursinya, menaruh tas dan mengeluarkan laptopnya. Kemudian mengecek aplikasi WA yang belum sempat ia buka sejak tadi malam. Ternyata benar firasatnya ponselnya bergetar tadi malam di penuhi dengan chat grup alumni, yang selalu saja ramai, entah apa yang di bahas.


Kemudian, Nabila juga membuka chat dari Tama, awalnya Nabila tidak tahu kalau itu Tama. Ia baru mengetahui saat membuka profil Tama.


"Kamu chat aku tengah malam ya? Maaf ya aku ketiduran, jadi baru kebaca sekarang" Ucap Nabila memecahkan keheningan mereka ber empat saat itu di ruangan juga ada Doni dan Clara. Mereka saling berpandangan heran berani-berani nya Tama mengganggu Nabila di tengah malam.


Tama jadi salah tingkah dan tidak menjawab pertanyaan Nabila kemudian Doni dan Clara mulai meliriknya dengan tatapan aneh.


Ah bodo amat, terserah mereka mau mikir apa


"Tama, kita hari ini ke PT. Mananta Indah Property ya, daerah mana sih itu, kita mau tanda tangan surat kuasa" Nabila berbicara pada Tama sambil melihat jadwalnya hari ini.


"Iya, sekarang?" Jawab Tama singkat.


"Setengah jam lagi, aku janjian dulu sama manajernya" Jawab Nabila.


"Oke"


***


Setengah Jam kemudian, mobil Tama pun melaju ke tujuan mereka. Akhirnya setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, mereka pun tiba di gedung kantor 5 lantai itu. Saat hendak menuju lift, tiba-tiba mereka di hampiri oleh satpam.


"Maaf Pak, Bu mau ke lantai berapa ya?" Tanya Satpam tersebut.


"Lantai 3, kami mau bertemu dengan Pak Aryo, sudah janjian" Jawab Nabila.


"Wah, sayang sekali Bu, harus melalui tangga manual, liftnya sedang rusak, mohon maaf ya Pak, Bu, ayo ikut saya ke arah sini" Jelas satpam itu sekaligus meminta maaf kepada mereka dan mengarahkan mereka ke tangga manual.


Nabila mengha nafas panjang pertanda kecewa karena harus menaiki tangga ke lantai tiga dengan menggunakan heels, tentunya akan sangat menyiksa.


Kalau enggak demi rupiah, aku nggak mau capek-capek naik tangga begini. haduh


Mereka berdua pun menaiki anak tangga satu persatu.


"Sini, aku bawain berkasnya" Ucap Tama mengambil inisiatif untuk membantu Nabila.


"Oh iya, makasih Tam"


"Tas nya nggak sekalian?" Tanya Tama lagi.


"Nggak usah, emangnya kamu nggak malu bawain tas perempuan?" Jawab Nabila dengan nafas yang sedikit terengah.


"Asalkan demi kamu, itu nggak masalah" Jawab Tama sambil memberikan senyum semanis mungkin ke Nabila.


Nabila tidak menghiraukan perkataan Tama barusan. Akhirnya mereka pun tiba di lantai tiga, dan mencari dimana ruang Manajer perusahaan tersebut.


Setelah ketemu dengan Manajer perusahaan property itu dan urusan mereka pun selesai. Sebelum kembali ke kantor, mereka singgah makan siang di sebuah Cafe yang tidak jauh dari Perusahaan tersebut.


***


Bersambung....