My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Cinta Itu Sederhana



Lanjut ya...


***


Tama terus menggandeng tangan Nabila, keluar dari pintu hotel dan mereka berjalan kaki.


"Kita mau kemana?" Tanya Nabila lagi.


Tama tidak menjawab.


"Tama, kita mau kemana sih?" Mulai kesal dan melepas gandengan Tama.


"Tanya yang bener dong, jangan marah-marah." Jawabnya tersenyum.


"Kamu ini ya, maunya apa sih?" Masih menjawab dengan nada kesal.


"Maunya jalan-jalan sama kamu," mengambil lagi tangan Nabila.


Mereka terus berjalan kaki sekitar sepuluh menit, Nabila hanya mengikut saja.


Terserahlah, akhir-akhir ini kenapa aku selalu aja mengikuti kemauannya? Hei ini nggak kebalik kan? Siapa yang atasan dan siapa yang asisten.


Nabila menggerutu kesal.


Sampai akhirnya mereka Tiba disebuah warung makan disana tersedia berbagai jenis sarapan mulai dari bubur ayam, bakmi, hingga soto.


Tempatnya lumayan ramai, dan masakannya tercium ke rongga hidung Nabila hingga menembus ketenggorokan membuatnya semakin lapar dan cacing di perutnya sudah meronta-ronta sejak tadi.


Mereka sudah duduh saling berhadapan,


"Kamu pesan apa? soto?" Tanya Tama, mengingat makanan kesukaan Nabila adalah soto.


"Iya boleh, soto daging ya," Jawabnya, hatinya mulai melunak, emosinya sudah sedikit mereda karena sebentar lagi perutnya akan terisi.


"Oke Mbak, soto dagingnya plus nasi nya 2 porsi ya," Ucap Tama pada penjual.


"Kamu tahu dari mana tempat ini?" Tanya Nabila menatap Tama.


"Dari aplikasi, kebetulan nggak jauh dari hotel," Jawabnya.


"Oh," Jawab Nabila jutek sambil menadahkan tangan kanannya di dagu tanpa melihat ke arah Tama.


"Emangnya orang kaya sepertimu, nggak apa-apa makan di tempat seperti ini?" Tanya Nabila sedikit mengejek.


"yang kaya itu orang tuaku, bukan aku," Jawabnya santai.


Tak ada jawaban lagi dari Nabila, dia hanya melihat ke arah ke jalanan dan sesekali melihat kesibukan pelayan yang mondari mandir mengantarkan pesanan.


"Hei," mencolek pipi Nabila dengan telunjuknya.


"Hemm," Jawab Nabila kemudian menoleh ke Tama.


"Sampai kapan mau nyuekin aku?"


Nabila tidak menjawab hanya mengangkat bahunya. Tama hanya tersenyum melihat tingkah Nabila yang kekanakan.


Tak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang, Nabila tersenyum kecil karena akhirnya perutnya akan terisi, bagaimana ia tidak kelaparan, saat dinner bersama Tama tadi malam, ia makan terlalu sedikit karena perasaanya yang gugup. Di tambah lagi ia lupa membeli camilan, makanan kecil yang biasa menemaninya tengah malam.


Setelah selesai meracik sotonya dengan kecap manis, jeruk nipis dan sedikit sambal, Nabila mulai melahap sotonya.


"Gimana, enak?" Tanya Tama.


"Hemm, boleh lah, tapi nggak seenak di tempat langgananku di Jogja," Jawabnya pelan sedikit berbisik.


"Haha, kalau itu sih jangan di adu," Ucap Tama.


"Kenapa? kamu mulai suka juga dengan soto di situ?" sejak kapan?" Tanya Nabila dengan ramah, kali ini emosinya benar-benar sudah mereda.


"Sejak makan bareng kamu, apalagi makannya sambil lihatin kamu." Ucapnya.


Mulai lagi.


Nabila tak menjawab, terus memakan sotonya dengan lahap, meski menurutnya tak seenak tempat langganannya di Jogja, ia tetap menikmatinya demi perut nya yang keroncongan.


Mereka selesai menikmati sarapan, kemudian Tama membayar. Selama di sini, Nabila tidak mengeluarkan uang sedikitpun. Setelah membayar, Tama kembali duduk dihadapan Nabila.


"Setelah ini kita mau kemana?"


"Ke pantai," Jawab Tama singkat.


Apa pantai? wah dengan penampilan seperti ini?


Nabila melihat lagi pakaian yang ia pakai, sangat tidak cocok untuk berpantai ria.


"Panas, Tam." Nabila mencoba mencegah agar Tama membatalkan tujuan selanjutnya.


"Kenapa? kamu takut kulitmu terbakar matahari?" menaikkan alisnya.


"Bukan gitu," menggeleng.


"sekali-sekali loh, saat udah tiba di Jogja kita pasti sibuk dengan segudang pekerjaan, kapan lagi coba?"


Nabila terdiam, apa yang dikatakan Tama ada benarnya.


"Oke, oke." Jawab Nabila.


Tuh kan, aku menurut lagi permintaan nya, mengapa aku tak bisa menolak? Tama, apa kamu sedang menyihirku sekarang?


Tanpa Nabila sadari, ia terus menatap Tama yang sedang melihat ke layar ponsel, memesan taksi online sesuai tujuan mereka.


"Ayo, sayang," ajak Tama.


"Ah, enggak, i..iya ayo," Nabila gugup karena tertangkap basah oleh Tama sedang memandangi wajahnya.


Selama di perjalanan, Nabila tertidur. Matanya terasa berat, tidurnya sangat kurang semalam karena sakit hati dan shok.Tama hanya tertawa kecil melihat nya.


Diajak kencan malah tidur.


Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka pun tiba.


"Ayo Nabila, kita udah sampai," Bisiknya pelan di telinga Nabila.


Nabila langsung membuka matanya dan sedikit menjauh dari Tama.


Mereka turun dari mobil, dan mulai berjalan pelan menuju pantai. Terlihat sepi, wajar saja karena mereka datang bukan dihari libur, melainkan hari kerja.


Nabila begitu bahagia melihat pemandangan indah di hadapannya, air laut yang biru karena pantulan langit yang biru, serta pasir putih bersih, menyegarkan mata, rasanya sudah lama sekali mungkin sekitar setahun dia tidak pernah menyegarkan mata dan pikirannya seperti saat ini.


Laki-laki itu, seperti paham saja apa yang sedang aku butuhkan.


Sambil menatap Tama yang sudah berjalan didepannya, mendahuluinya.


"Ayo cepetan dong jalan nya, atau aku gendong ya," Ucap lelaki itu sambil berdiri sekitar 10 meter di depan Nabila.


Nabila hanya tersenyum, tidak menjawab apapun, dan sedikit mempercepat langkahnya.


Ketika sudah berada di dekat Tama, Nabila menyambut tangan Tama yang sudah di ulur nya sejak tadi, menunggu Nabila menghampirinya.


Kemudian Tama mengambil sebuah kacamata hitam dan menggunakannya dengan tangan kirinya, karena tangan kanan sedang menggandeng wanita yang kini menjadi kekasihnya itu.


Nabila menoleh kearahnya.


Wah ternyata dia benar-benar sudah persiapan untuk ke pantai.


Apalagi saat ini Tama hanya mengenakan celana jeans pendek dan kemeja berbahan katun, serta sandal jepit.


Nabila mengernyitkan dahinya karena silau, matahari menyinari begitu gagahnya.


Masih dengan bergandengan tangan mereka menyusuri pantai dan mendekat ke air laut yang berdatangan perlahan-lahan, menyentuh kaki mereka. Nabila begitu menikmatinya, dan ia tersenyum kecil. Tama terus memperhatikannya, ia pun merasa tujuannya berhasil membuat Nabila rileks dan bahagia.


Setelah sekitar sepuluh menit mereka berjalan kaki, matahari mulai bersembunyi di balik awan.


Tama menghentikan langkahnya tepat dihadapan Nabila, dan membuka kacamatanya.


"Kenapa kok berhenti?"


"Nabila, aku ingin bertanya sesuatu padamu," memegang pundak Nabila dan menatapnya dalam.


Apalagi ini? mau nanya apa kok serius sekali kelihatannya.


"Apa itu?"


"Apa aku nggak berarti apa-apa bagimu?" Masih menatap mata Nabila.


"Apa kamu memang nggak punya rasa sedikitpun terhadapku? jawab Nabila," Tama memohon.


"Ehm, aku nggak bisa menjawabnya tapi sepertinya aku merasakannya."


"Maksud kamu?" Tama tidak mengerti dengan pernyataan Nabila.


"Aku nggak ngerti apa yang aku rasa, yang jelas aku senang akhirnya kita bertemu lagi," Jawab Nabila menunduk malu.


Jelas senyum kemenangan terukir di wajah tampan itu.


Perjuanganku selama ini nggak sia-sia.


Mengambil tangan Nabila lagi, dan mengajaknya lanjut berjalan.


"Lalu kenapa kamu menangis semalaman?"


"Aku? menangis semalaman? enggak kok," Nabila tak jujur.


"Sayang, berhenti menipuku, mulutmu bisa berbohong tapi tidak dengan matamu yang sembab itu," Mencubit pipi kiri Nabila.


"Aku nggak tahu Tama, terlalu sulit untuk di jelaskan, mungkin hatiku sakit melihatmu berhubungan dengan wanita lain," Jawabnya jujur.


"Kamu cemburu? hahaha." Tertawa dengan bangganya.


"Menurut kamu ini lucu? setelah tahu aku menangis semalaman kamu tertawa seperti itu? dasar nggak berperasaan," memukul dadanya yang bidang.


Meraih Nabila menjatuhkan ke dalam pelukannya.


"maafkan aku sayang, aku baru paham ternyata selama ini kamu mencintaiku," mendekap erat dan membelai rambut Nabila.


"Eh, cinta? aku nggak pernah bilang cinta," Nabila terus saja mengelak dan melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu terlalu sulit? cinta itu nggak rumit sayang, kamu cukup mengakuinya, merasakan, dan menikmatinya, maka kamu akan bahagia," Ucap pria itu, bak pujangga cinta. entah darimana ia belajar berkata-kata seperti itu, sambil menggenggam erat kedua tangan Nabila.


Apa itu? Kenapa kata-katanya begitu menusuk ke hatiku, seolah tak ada satu kata pun yang salah dari ucapannya.


Benar Nabila, cinta itu sederhana, kamu aja yang rumit dan sulit mengakuinya.


Nabila hanya tersenyum lebar mendengar kalimat yang diucapkan Tama, ia tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Tapi hanya dengan sebuah senyuman Tama seolah tahu apa yang ada di pikiran Nabila.


"Gimana? sekarang kamu udah mengakui kan kalau kamu juga mencintaiku?" masih terus bertanya.


Lelaki ini benar-benar ya nggak pernah menyerah.


***


Bersambung...