My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Mas Ganteng



--- Seminggu kemudian ---


Akhirnya hari ini adalah hari dimana mereka harus kembali ke Jogja. Mereka tiba di stasiun pukul 07.45. tepat lima belas menit sebelum keberangkatan kereta.


Selama kurang lebih satu minggu berada dikota Malang, mereka semakin dekat bahkan Nabila sudah mulai memperlihatkan bagaimana perasaannya terhadap Tama.


Selama di perjalanan, begitu banyak kenangan di kota Malang yang mereka ingat.


Terimakasih Om John, andai kami nggak di tugaskan ke Malang, mungkin hubungan kami nggak akan seperti ini. Tama.


Seperti biasa, Nabila memanfaatkan perjalanan yang berdurasi kurang lebih 7 jam ini untuk tidur, Tama mencolek Nabila, kemudian menepuk bahu kirinya mempersilahkan Nabila untuk bersandar di bahunya. Nabila pun mengiyakan dan langsung bersandar di bahu Tama.


Nyaman sekali. Tersenyum kemudian kembali menutup matanya.


***


--- Di rumah Nabila ---


Nabila sedang duduk di kursi makan menikmati masakan Mamanya yang sudah sangat ia rindukan.


"Gimana, kerjaan kamu disana, lancar?" Tanya Mama.


"Lancar Ma, dan Alhamdulillah kami bisa memenangkan klien di persidangan, Om John pasti makin bangga nih sama Nabila, haha." Ucapnya dengan percaya diri.


"Tapi Mama lupa bertanya, kamu sama siapa sih disana?"


"Uhuk, ehm," Nabila tersedak karena gugup dengan pertanyaan Mamanya.


"Pelan-pelan dong makannya," Menyodorkan segelas air.


"Iya, rasanya udah lama banget nggak makan masakan Mama," mencoba mengalihkan pertanyaan Mama.


"Sama siapa Nak?" Ternyata Mamanya tidak teralihkan.


"Sama rekan kantor lah Ma," Jawabnya santai.


"Iya, siapa namanya?" Bu Devu terus saja kepo.


"Mama kenapa kepo sih?"


"Ya Mama cuma ingin tau siapa yang tahan selama seminggu bersama kamu, dengan kejudesanmu itu, kamu harus ngerubah sikap Nak, nanti nggak ada cowok yang berani dekatin kamu Nak, umur kamu semakin bertambah," Bu Devi mengomel panjang lebar dengan tatapan tajam ke Nabila.


"Hahaha, Mama segitunya ih khawatirkan Nabila takut Nabila nggak laku ya Ma? tenang aja Ma." Nabila malah tertawa.


"Kamu ini kalau di kasih tahu, selalu saja begitu." Bangun dari kursi, kemudian pergi meninggalkan Nabila.


Yah ngambek lagi deh Mama.


"Mbaak.., kangen tau. kapan nyampe?" Tiba-tiba Nabila merasa tercekik karena Nayla melingkarkan lengannya di leher Nabila yang sedang duduk menikmati masakan Mamanya.


"Uhuk, uhuk, lepasin Nay," menepuk-nepuk lengan Nayla.


"Kangen, apalagi uang saku ku udah habis nih Mbak. jadi tambah kangen deh sama Mbak,"


"Ih, dasar kulihamu berapa semester lagi sih?" Sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Empat semester lagi Mbak, dua tahun lagi. yang sabar ya Mbak," sambil mengusap punggung Nabila.


"Hem, semoga kamu cepat kelar deh, cepat cari kerja, "


"Iya, semoga aja cepat dapat kerja asal jangan dapat jodoh duluan ya Nay, kasihan Mbakmu kalau harus di langkahi," Bu Devi mulai lagi mengejek Nabila.


"Mama...., udah ah Nabila capek mau istirahat," Meninggalkan Mama dan adiknya yang masih di ruang makan.


"Lihat tuh Mbakmu, mau sampai kapan dia seperti itu?" Sambil wajahnya mengarahkan ke Nabila yang berjalan menuju kamarnya.


"Udahlah Ma, kasihan Mbak Nabila, dia udah cukup terbebani dengan pekerjaannya," Ucap Nayla.


--- Di rumah Tama ---


"Mama, Papa...," Menyalami kedua orang tuanya, kemudian berbaring di sofa dan menadahkan kepalanya di pangkuan Mamanya.


Kedua orangtuanya saling bertatapan.


"Gimana? enak kerja?" Tanya Papa.


"Janji kamu jangan lupa, ya!" Ucap Mamanya.


"Janji apa Ma?" Kemudian bangkit dari rebahan.


"Kamu lupa atau pura-pura lupa? atau masih mau lanjutkan hubungan dengan Citra?" Ucap Bu Irin tersenyum sinis.


"Oh itu, tenang Ma, tenang. weekend yah." Jawabnya santai ketika mengingat janjinya memperkenalkan Nabila kepada orang tuanya.


"Mama tunggu loh,"


"Iya Ma, aku ke kamar dulu ya,"


***


Keesokan harinya, seperti biasa Nabila sudah bersiap-siap untuk ke kantor, pagi ini ia berangkat lebih awal karena mengingat begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, apalagi sejak kemarin Pak Johnatan berangkat ke Jakarta untuk mendampingi klien lainnya.


"Mama, masak apa?" Tanya Nabila menghampiri Mamanya ke dapur.


"Nih sayur lodeh kesukaanmu, makan dulu ya. sebentar lagi selesai." Ucap Bu Devi.


"sayang banget Ma, Nabila buru-buru nih udah pesan ojek juga, Nabila pergi ya Ma." Beranjak dari dapur menuju pintu utama.


"Ya udah nanti Mama minta tolong Nayla aja buat singgah ke kantor kamu, sekalian dia ke kampus."


"Iya Ma."


Seperti biasa Nabila berangkat dengan naik ojek online, sebenarnya bisa saja Nabila naik taksi agar lebih aman, tapi pasti lebih memakan waktu menurutnya.


20 menit kemudian Nabila sudah tiba di kantor, karena Pak Johnatan hari ini tidak ada, dialah yang menjadi penguasa ruangan Pak Johnatan, hal itu dilakukan Nabila bukan karena bertindak sesuka hatinya, namun itu adalah perintah dari Pak Johnatan ketika ia tidak berada di kantor, Nabila harus mengisi ruangannya.


Nabila mulai sibuk membenahi berkas-berkas pekerjaannya selama di Malang.


Setengah jam kemudian, dia di kagetkan dengan kehadiran Nayla yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu dengan membawa sebuah kota makan.


"Nih Mbak titipan Mama," meletakkan kotak makan di atas meja.


"Wah, makasih ya Nay. Mama emang paling ngerti!"


"Mbak, Mbak..." Bisik Nayla, kemudian duduk di hadapan Nabila.


"Apalagi? uang jajan? kan udah tadi pagi." Jawabnya sewot.


"Ih bukan Mbak, kenalin aku sama Mas ganteng itu dong, udah mobilnya keren orangnya ganteng, senyumnya uh... bikin semangat pagi-pagi gini." Ucap Nayla sambil menadahkan pipinya dengan kedua tangannya dan menghadap ke Nabila.


"Mas yang mana?" Nabila mengernyitkan dahi.


"Itu tadi pas aku mau masuk kesini, Mas itu turun dari mobil, kebetulan aku juga baru turun dari motor,"


Siapa maksud Nayla, Evan? Doni? atau Aldi si OB nggak mungkin kan? atau jangan-jangan....


kletak.


Bukannya menjawab, Nabila malah menyentil keras kening Nayla.


"Aduh Mbak, sakit ih," sambil mengelus keningnya.


"Kamu itu belajar dulu yang bener, kuliah yang bener, jangan macam-macam," Nabila kesal karena sudah tahu siapa Mas-mas yang di maksud Nayla.


"Pelit amat sih Mbak, kan cuma kenalan, siapa tahu jodohku ketemu disini Mbak, kalau Mbak gagal dapetin suami kaya, siapa tahu aku bisa, hihi." Nayla terus mengoceh, pikirannya entah kemana-mana.


"Jangan aneh-aneh kamu ya, sana...sana, Mbak mau kerja," Sambil membuat gerakan tangan tanda mengusir.


"Ih Mbak, ya udah aku ke kampus dulu ya, jangan cemberut Mbak ntar cantiknya hilang loh," Berdiri di depan pintu, sambil menunjuk ke wajah Nabila.


Anak itu, bisa-bisanya berpikiran kemana-mana. Untung adik kandungku, kalau bukan. wah... habis dia.


Nabila menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Nayla sambil tersenyum tipis.


***


Bersambung....


Kak, votenya dong 😘😘😘