
Keesokan harinya, Nabila bingung harus mulai dari mana mengatakan pada Mamanya bahwa ia sudah memulai suatu hubungan kembali dengan seorang pria. Pagi itu padahal hari libur, tapi Nabila bangun lebih awal tak seperti hari libur biasanya.
Nabila keluar dari kamarnya dan mencari-cari Mamanya dan ternyata berada di dapur sedang meracik bumbu untuk memasak hari ini.
"Ma...," panggilnya kemudian menghampiri Mamanya ke dapur.
"Hem..?" jawab Mamanya.
"Eh Mbak tumben hari libur bangun nya cepat, kebetulan nih bantuin aku jemurin pakaian dong," ucap Nayla sambil berjalan ke belakang.
"Aduh Nay kamu aja deh, Mbak ada urusan nih sama Mama,"
"urusan apa kamu pagi-pagi begini sama Mama?"
"Ma, Nabila mau belajar masak dong." ucapnya sambil memperhatikan Mamanya yang sedang menyiapkan sesuatu di dapur.
"Eh, nggak salah denger nih," Nayla terus saja menyambung pembicaraan antara Nabila dan Mamanya. tapi Nabila tak menghiraukan.
"tumben, ada apa gerangan?" mengerutkan dahi.
"oh, enggak Ma. Maksud Nabila tuh gini, Mama kan semakin tua, kan nggak mungkin Mama yang terus-terusan masak buat Nabila dan Nayla," Nabila mencari-cari alasan mengapa dirinya ingin belajar masak.
"Ciye yang mau nikah," Nayla.
"Nayla kamu bisa diam nggak sih?" Nabila mulai emosi.
"Kalau hanya itu alasan kamu, sepertinya nggak tepat, selagi Mama masih sehat, Mama akan selalu menyiapkan sesuatu yang enak buat kalian, lagian memasak kan memang hobi Mama,"
"Hem, begitu ya Ma. ya udah deh." Nabila menyerah.
"Ma...," panggilnya lagi dengan suara yang pelan.
"Iya, apalagi Nak?"
"Sebenarnya Nabila mulai menjalin hubungan lagi dengan seseorang," Ucapnya hati-hati agar tak di dengar oleh Nayla.
Mamanya tersenyum, "siapa laki-laki itu Nak? yang bisa meluluhkan hatimu?"
"Nabila rasa Mama sudah pernah ketemu dengan dia, tapi Nabila nggak yakin Mama masih ingat?"
"Masa sih, siapa ya?" Mamanya penasaran.
"Nanti malam dia kesini Ma, dia menjemput Nabila untuk makan malam dirumahnya, dan bertemu orang tuanya."
"Bertemu orang tuanya? secepat itu Nak?"
"Ya Nabila juga nggak ngerti Ma kenapa orang tuanya ingin bertemu dengan Nabila."
"Sudah berapa lama hubungan kalian?"
"Baru seminggu Ma, makanya Nabila bingung kenapa secepat ini," Nabila mengangkat bahunya.
"Ya udah nggak masalah, mungkin dia mau hubungan yang lebih serius sama kamu?"
"Masa sih Ma?"
"Bisa aja kan, yang penting sekarang jalani aja dulu,"
"Iya Ma,"
***
Sore hari, Nabila mulai bersiap-siap. ia memilih pakaian yang cocok untuk ia kenakan,
"Jangan sampai salah pilih, kesan pertama itu menentukan," ucapnya.
ceklek
Pintu kamar Nabila terbuka, Nabila menoleh "Ma, yang ini bagus nggak?" Nabila meminta saran pada Mamanya dan menempelkan sebuah dress selutut di badan nya.
"Terlalu terbuka,"
"Kalau yang ini?"
"Bagus, kamu terlihat anggun,"
"Nggak bisa Nay aku ada janji," ucapnya Nabila.
"Mbak mu mau kondangan, kamu ajak Sarah aja."
sahut Mamanya.
"Ah Mama, ini kan malam minggu. Sarah pasti pergi sama pacarnya lah." Nayla merebahkan tubuhnya di ranjang Nabila.
"Makanya kamu cari pacar sana, awas jangan ditimpa ini baju Mbak ntar kusut, ih Nayla!" sambil menarik tangan Nayla agar bangkit dari ranjangnya.
"Mbak, jangan risaukan aku. aku jomblo nggak apa-apa masih 20 tahun. Lah Mbak? wek." kemudian pergi dari kamar Nabila.
Mamanya hanya menggeleng melihat tingkah kedua putrinya yang jarang akur,
"Ya udah kamu siap-siap, mandi sana!"
"Iya Ma,"
***
--- Di rumah Tama ---
"Jam berapa kamu jemput Nabila?" Tanya Bu Irin Mamanya Tama.
"Jam tujuh Ma." Jawabnya.
"Papa benar-benar penasaran seperti apa keponakan nya si John itu,"
"Kalau Mama penasaran, seperti apa wanita yang bisa meluluhkan hatimu Nak,"
"Mama dan Papa bisa nilai sendiri nanti," Ucapnya sambil tersenyum.
***
Jam menunjukkan pukul 19.05, ponsel Nabila berdering, saat melihat siapa yang memanggil Nabila langsung menerimanya.
--- dalam panggilan ---
"Halo,"
"Sayang, udah siap? aku jalan sekarang ya?"
"Kira-kira perjalanan dari rumah kamu ke rumahku berapa lama?"
"Kurang lebih setengah jam,"
"Oh ya udah kamu jalan sekarang ya,"
"Oke sayang, hati-hati."
"Kenapa malah kamu yang bilang hati-hati, harusnya aku lah,"
"Oh iya ya, hahaha. oke aku jalan sekarang."
"Iya, hati-hati."
***
Nayla sedang duduk di teras rumah sambil memainkam ponselnya. Karena merasa bosan, sebenarnya ia ingin mencari beberapa buku untuk bahan kuliahnya, tapi ia terlalu malas jika harus pergi sendiri. Sementara teman-teman nya semua pada sibuk di malam minggu.
Tak lama kemudian, Tama sudah tiba di depan rumah Nabila.
"Siapa yang datang?" Nayla bertanya-tanya.
Kemudian saat melihat Tama yang turun dari mobil,
oh my God. itu kan mas ganteng yang waktu itu.
***
Bersambung....