
Ponsel Nabila yang berada didalam tasnya berdering, menyadarkan lamunannya dalam berpikir untuk menerima ajakan Leo atau tidak. Ia raih ponsel dari dalam tasnya, sementara Leo masih menunggunya. Padahal jalanan sudah lumayan sepi dan harusnya Leo langsung melintas saja tanpa harus menunggu Nabila.
Mata Nabila berbinar-binar, membaca nama si penelpon. Bertuliskan My Hubby pada layar ponselnya. Sebelum menjawab, terlebih dahulu Nabila menolak ajakan Leo, dan meminta maaf. Lelaki itu pun paham dan segera melanjutkan tujuannya meski dengan tampang yang sedikit kecewa.
"Ha-halo," jawab Nabila.
"Sayang, dimana? masih bareng Mama?" Lelaki diseberang sana bertanya, hati Nabila mendadak dingin mendengar suara suaminya. Setidaknya rasa sakit hatinya akibat perkataan Ibu-Ibu rempong didalam sana, sedikit terobati. Meski hatinya masih sakit bak tertusuk, saat mengingat saran dari mereka untuk mengizinkan suaminya itu mendua, menikah lagi demi memberikan cucu kepada Mama Irina. Perempuan mana sih yang sanggup melewati itu? jikapun ada, pasti hatinya sangat kuat terbuat dari baja.
"Iya aku masih direstoran yang aku bilang tadi," jawabnya.
"Aku lagi dalam perjalanan jemput kamu, temanin aku makan siang ya? sekalian ketemu klien."
Senyum mengembang dibibir Nabila, dengan cepat ia menjawab. "Boleh sayang, aku tunggu. Tapi aku bawa mobil, terus Mama gimana pulangnya kalau aku pergi sama kamu?"
"Mama gampang lah, kan bisa di jemput Pak Didit nanti."
"Terus mobil aku gimana?" Nabila berpikir sejenak, jika tahu akan seperti ini tentu ia tidak akan membawa mobil.
"Nanti kita pikirkan, aku jalan dulu. See you sayang."
Hati Nabila kembali berbunga-bunga, ajakan kecil dari Tama seperti itu saja sudah membuatnya bahagia. Sambil menunggu Tama, ia kembali masuk ke dalam restoran untuk memberitahukan pada mama mertuanya bahwa ia harus pergi menemani suaminya.
Setelah keluar dari tempat yang menurutnya tidak cocok untuknya itu, ia bernapas lega. Menunggu Tama di parkiran, sambil menyandarkan tubuh pada mobilnya yang terparkir disana.
Tak lama kemudian, tampak mobil yang tak asing bagi Nabila sudah menepi. Lelaki itu turun dari mobil, Nabila menyambutnya dengan senyum, Tama mendekatinya, meraih pinggang Nabila untuk segera ikut dengannya ke mobil.
Kembali mendadak romantis seperti ini, membuat Nabila bertanya-tanya dalam hatinya dan Tama membukakan pintu mobil untuknya.
"Cantik banget kamu hari ini," ucap Tama saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Mendapat pujian seperti itu, Nabila menjadi salah tingkah, pipinya memerah karena tersipu. "Makasih," jawabnya singkat.
"Malu-malu gitu? hem?" tangan kiri lelaki itu terangkat untuk menyentuh dagu istrinya.
"Iya, udah lama kamu nggak muji aku kayak gitu," jawaban Nabila adalah kejujuran dari hatinya yang paling dalam.
Tama tersenyum mendengarnya, memang benar yang dikatakan sang istri, dulu awal-awal menikah, ia sering sekali memuji kecantikan Nabila. Tapi lama kelamaan kebiasaan itu hilang begitu saja, entah mengapa.
Tangan kiri Tama meraih tangan kanan Nabila, jemari mereka saling bertaut dan ia kecup sekilas tangan istrinya. "Maafin aku ya?" ucapnya.
Nabila mengangguk dan tersenyum.
"Enak juga ya kayaknya kalau punya istri nganggur, jadi bisa nemenin aku kapan aja," ucap lelaki itu.
"Oh iya, kemungkinan kalau jadi, minggu depan aku mau ke Bali, kamu mau ikut?" Tama masih menatap lurus ke arah jalan, ia fokus mengemudi.
"Mau," satu kata dari Nabila cukup mewakilkan isi hatinya yang begitu gembira menerima ajakan itu.
"Harusnya sih Papa yang pergi, tapi karena Papa lagi nggak pingin kemana-kemana, jadi aku yang gantiin."
Nabila mengangguk, mendengar setiap kalimat dari suaminya. "Aku akan senang hati kalau kamu mau nemenin aku," lanjutnya.
"Dan aku juga senang banget nerima ajakan kamu," jawab Nabila.
Tentu saja Nabila sangat senang, sudah lama sekali mereka tidak berlibur berdua. Ya meskipun atas alasan pekerjaan, tapi setidaknya kan mereka bisa menikmati moment-moment tertentu disana, dan hanya berdua.
"Kita berdua aja, kan?" Nabila memastikan, sebelum ia bahagia terlalu jauh.
"Enggak sih, ada Marsha juga nanti dia bakal bantuin aku selama disana," mendengar jawaban Tama, terlebih mendengar nama perempuan yang baru tergabung dalam Firma Hukum mereka, Nabila menjadi sedikit lemas dan cemas. Kenapa harus ada orang lain? pikirnya. Tapi Nabila tak boleh egois, bagaimanapun juga ini adalah urusan pekerjaan, bukan liburan. Masih untung juga suaminya menawarkannya untuk ikut, jadi Nabila bisa mengawasi dan berjaga-jaga untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Nabila tak sanggup memikirkan bagaimana jika Tama hanya pergi berdua saja dengan asistennya itu?
"Oh..." hanya itu yang keluar dari mulut Nabila, tanpa panjang lebar.
-----------------------------------
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Nabila, padahal ia tidak melakukan apapun. Hanya mengikuti dua kegiatan yaitu ikut Mama Irina dan setelah itu menemani suaminya bertemu dengan klien. Tapi entah mengapa ia merasa begitu lelah, padahal biasanya kegiatan yang ia lakukan bisa lebih dari itu saat ia bekerja seperti biasa, dan rasanya tak sampai selelah ini.
Didalam kamar, Nabila sedang berdiri dihadapan cermin, membuka anting yang ia kenakan. Namun tiba-tiba saja, Tama yang sejak tadi berada dibelakangnya memeluknya dari belakang. Membenamkan wajahnya pada tengkuk Nabila. "Aku kangen," ucapnya.
Nabila segera berbalik agar mereka saling berhadapan, Tama kembali menyerangnya dengan ciuman. Nabila yang mendapat perlakuan tanpa isyarat seperti itu hanya bisa terdiam memejamkan mata. Serangan yang Tama berikan seolah menuntut lebih agar Nabila membuka bibirnya lebih lebar. Ia pun mengerti dan mulai membalas setiap kecupan yang diberikan suaminya.
Satu tangan Tama mengusap punggung Nabila, menarik kebawah resleting dress yang ia kenakan, hingga dress biru dongker itu kini terbuka. Mendorong pelan tubuh Nabila ke atas ranjang, kini mata mereka saling bertemu.
"Aku mau kamu sekarang," Setelah mengatakan itu, Tama kembali beraksi dengan cara seperti biasa ia menaklukkan istrinya diatas ranjang.
Tangan Nabila tak tinggal diam, jari-jarinya mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan suaminya. Hingga kini lelaki itu bertelanjang dada.
Sore itu, mereka seolah melepas kerinduan karena sudah melewati masa-masa sulit selama beberapa hari ini. Tama mengerti dirinya yang tak bisa mengendalikan emosi kala isi kepalanya dipenuhi dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Ia menyadari kesalahannya yang telah menumpahkan emosinya kepada Nabila. Tak seharusnya ia seperti itu, bagaimanapun Nabila adalah cintanya, hasil perjuangan cintanya selama bertahun-tahun.
Nabila tidak peduli bagaimana rasa lelah ditubuhnya, yang pasti saat ini, ia hanya ingin melayani suaminya dengan hati yang berbunga, tanpa menolak dan tentu ia sambut dengan baik.
-------------------------
Telat upnya ya, maaf 😌😌😌