
Selama dalam perjalanan, banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Tama. Dia berpikir apa mungkin wanita yang ada disebelahnya itu adalah seorang janda? atau mungkin Nabila sengaja menyembunyikan statusnya demi kelancaran urusannya bertemu dengan klien-klinennya ?
Yang jelas kini Tama mulai sedikit menaruh harapan lagi pada Nabila. Namun kali ini Tama tidak mau bertingkah gegabah, kali ini ia akan tetap bersifat cool dan lebih dewasa dihadapan Nabila.
"kita kembali ke kantor kan Nab?" Akhirnya setelah 10 menit mereka berdiam, Tama membuka suara.
"iya Tam" Jawab Nabila singkat.
setengah jam kemudian mereka pun tiba di kantor
'Firma Hukum Johnatan and Partners'
Mereka turun dari mobil dan kemudian Nabila melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, tujuannya tidak lain adalah memberi laporan kepada Bos sekaligus omnya itu.
Namun berbeda dengan Tama, ia memilih bergabung dengan rekan-rekan yang sama dengannya di ruang bawah.
"Hai semuanya, salam kenal, saya Tama"
Tama masuk keruangan dimana ada 3 orang didalamnya 1 wanita dan 2 pria bisa dibilang mereka semua seumuran dengan Tama.
"Hai, aku Clara" Ucap wanita itu yang langsung menyodorkan tangannya pada Tama dan Tama pun menyambutnya.
"Hai juga, aku Doni" Ucap pria yang sedang duduk di sofa dengan memangku laptopnya, Tama melirik sedikit, apa yang sedang dia lakukan dengan laptopnya, ternyata Doni sedang menonton Drama Korea, Tama pun tersenyum geli melihatnya.
"hello bro tampan, aku Evan, wellcome to the jungle bro, semoga kita bisa bertahan bersama ya menghadapi nenek sihir...." Ucapan Evan terhenti saat Clara menginjak kakinya, Evan memang agak berbeda, terkesan sok asyik.
"Hah?" Tama terbelalak heran tak mengerti apa maksud Evan.
"Sini dong duduk disebelahku, kamu pasti capek kan, atau kamu habis di hajar sama Bu Nabila?" Ucap Clara sambil menyodorkan segelas air pada Tama.
Tama langsung duduk di sebelah Clara, dia pun bingung ada apa dengan mereka, mengapa terkesan seperti ada sesuatu. Apa selama ini mereka sering di marah, di bentak sama Nabila.
'hahaha, Bu Nabila? ternyata Nabila belum berubah ya, masih aja kejam dan jutek' Gumam Tama yang sudah tidak heran lagi dengan sifat Nabila.
"enggak kok, tidak seperti yang kalian pikir, aku baik-baik aja" Jawab Tama santai.
"ya iyalah, masih hari pertama" Sambung Doni.
"tunggu aja sebulan bro, kalau kira-kira gak tahan, mending nyerah, apalagi kamu langsung ditunjuk Pak John untuk selalu ikut kemana Bu Nabila pergi" Jawab Evan.
Tama hanya tertawa kecil, mereka tidak tahu jika dirinya dan Nabila memiliki sejarah.
"oh iya, aku minta nomor handphonenya Nabila dong" Ucap Tama pada Clara.
"Tuh kan kamu, udah hampir seharian bareng Bu Nabila, tapi minta kontaknya aja kamu gak berani?" Jawab Clara sambil mengambil ponselnya.
"hehe, aku lupa tadi, dan dia terlihat sangat sibuk" Ucap Tama.
mereka pun saling bertukar nomor, dan akhirnya Tama mendapatkan nomor Nabila.
Sementara diruang atas Nabila sudah melaporkan semuanya kejadian hari ini pada Pak John.
"Tapi om, nanti saat sidang mendampingi Pak Edward apa harus Nabil juga yang berangkat ke Malang?" Tak jarang Nabila berdebat dengan bosnya.
"jadi siapa lagi?" Jawab Pak John.
"om, please Pak Edward itu mengerikan om, Nabila takut" Nabila tetap mengelak perintah Pak John yang menyuruhnya untuk mendampingi Klien ganjen nya itu saat persidangan, perusahaan Pak Edward di gugat oleh Pemerintah setempat, karena tidak menaati peraturan-peraturan yang berlaku.
"tenang Nabil, om tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian" Ucap Pak John.
"Tapi om, Nabila takut kita gak bakal menang di kasus ini kalau om gak langsung turun tangan" Berbagai macam alasan Nabila untuk tetap mengelak pergi. Karena Nabila sudah paham, pasti omnya itu akan menyuruh Tama untuk menemaninya.
"Om yakin kamu pasti bisa, kapan itu jadwal sidang perdananya?" Tanya Pak John.
"Seminggu lagi om" Nabila menghela nafas panjang, tidak mungkin lagi dia melawan omnya, yang sudah sangat banyak membantu kehidupannya selama ini.
"yasudah, kalian berdua berangkat ke Malang, soal tiket biar om yang urus, pokoknya kalian kerja yang benar ya, persiapkan semuanya mulai hari ini" Ucap Pak John tegas, pertanda ia tidak ingin ada bantahan.
"kalian?" Tanya Nabila lagi, memastikan dengan siapa ia akan berangkat, namun ia tetap berharap berangkat dengan Clara, atau mungkin Doni?
"ya, dengan Tama dong memang nya siapa lagi, kali ini gantian, supaya dia nambah ilmu dan pengalamannya, kalau yang lain kan sudah tergolong lama magang disini, jadi kita beri kesempatan pada Tama kali ini untuk belajar" Jelas Pak John pada Nabila.
Nabila membulatkan matanya, ternyata benar dugaannya. Tanpa menjawab pernyataan Pak John, Nabila pun bersiap turun kebawah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus Pak Edward.
"oh iya nanti kalau kamu sudah dibawah, tolong katakan pada Tama ya, untuk keruangan om segera" Lanjut Pak John.
"iyaaaaa om" Jawab Nabila dengan nada malas.
Sesampainya dibawah, Nabila langsung menuju ruang kerjanya, saat Nabila membuka pintu, mereka berempat yang sedang bercengkrama tertawa ria pun langsung berdiam, seakan tidak ada yang terjadi. Doni yang masih membuka laptopnya dengan tontonan drama Koreanya langsung menutup laptopnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Nabila santai.
"Kami sedang mengajarkan Tama agar tidak salah langkah Bu" Jawab Clara.
"salah langkah maksudnya?" Nabila mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.
"ya, Tama kan baru disni Bu, jadi kami membertitahu aturan-aturan yang berlaku di kantor kita" Sambung Evan.
"oh begitu, oiya Tama kamu di panggil Pak John ya segera keruangannya" Kata Nabila.
"Oke Nab, aku ke atas sekarang" Ucap Tama santai, sontak membuat rekannya yang lain terheran dan saling menatap. Kenapa Tama bisa sesantai itu bicara dengan Nabila, bahkan hanya dengan sebutan nama.
Tama pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu, dan segera menemui Pak John.