My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Penyesalan



Sejak satu jam yang lalu, Nabila sudah bersiap cantik. Karena pagi-pagi sekali Tama menghubunginya untuk mengajaknya jalan-jalan siang ini. Namun sudah satu jam menunggu, Nabila tak kunjung mendapat kabar dari Tama bahkan pesan dan panggilan Nabila juga diabaikan oleh lelaki itu.


Nabila mulai kesal, siapa sih yang nggak kesal, sudah rapi, cantik dan wangi namun yang memiliki rencana tak berkabar seperti ini.


"Kamu mau kemana sih Nak?" Mama menghampiri Nabila yang sedang duduk berselonjor di sofa ruang tamu.


"Mau jalan sama Tama, tapi dari sejam yang lalu dianya nggak ada kabar." jawab Nabila dengan nada kesal.


"Ya udah tunggu aja, mungkin dia lagi siap-siap atau terjebak macet perjalanan kesini."


"Tapi masalahnya Ma, Nabil udah coba hubungi dia berkali-kali nggak ada jawaban." Nabila berdecak kesal, namun sebenarnya ia juga khawatir apakah terjadi sesuatu sama lelaki itu?


------------------------------------------------


Sejak Mamanya mengajak kerumah Bu Miranda pagi tadi untuk membicarakan pembatalan perjodohan Tama dan Citra, lelaki itu benar-benar bersemangat hingga ia melupakan janjinya pada Nabila. Ia tidak membatalkan, ataupun menundanya. Bahkan sampai saat ini ponselnya ia terapkan silent mode.


Sehingga tanpa ia sadari, Tama telah membuat Nabila kesal sekaligus khawatir.


Sepanjang perjalanan pulang, Tama hanya fokus menyetir. Sementar Bu Irin masih berpikir dan tak habis pikir dengan tingkah Tama. Mengapa mereka bisa-bisanya berciuman seperti itu.


"Tama, maksud kalian tadi tuh apa? Mama nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, kamu serius nggak sih sama Nabila?" Tatapan tajam Bu Irin berikan ke Tama yang sejak tadi pandangannya lurus kedepan.


"Maaf, aku terbawa suasana Ma, Citra yang memulai. Aku nggak tega sama dia." jawab Tama yang masih tak berani menoleh ke arah Mamanya.


"Kamu jadi laki-laki harus tegas dong sama hati kamu, Mama udah terlanjur suka sama Nabila. Dia sopan, cantik dan pintar. Kamu harus bersyukur kalau dia mau nerima kamu." Omelan Bu Irin masih berlanjut.


Tama tak berani terlalu bersikeras menjawab atau membantah perkataan Bu Irin karena dia menyadari kesalahannya, harusnya ia tidak bertindak seperti itu tadi. Harusnya ia tegas dan menolak segala perlakuan Citra. "Ma aku sadar aku salah Ma. Tolong jangan di bahas lagi. Please."


"Jadi kamu masih mau kembali sama Citra atau melanjutkan hubungan dengan Nabila?" Pertanyaan Bu Irin tegas, sebenarnya ia sudah tahu putranya akan memberi jawaban apa.


"Ya ampun Ma, ya aku pilih Nabila dong. Mama nggak tau kan gimana perjuangan aku dapetin dia." Tama mengusap wajahnya, bagaimana mungkin ia memilih Citra hal itu sangat jauh dari pikirannya.


"Kamu jangan main-main sama perasaan, gimana kalau sampai Nabila tau kamu tadi ngelakuin hal iti sama Citra? pikirin dong perasaannya!"


"Ma, udah please jangan dibahas lagi, Nabila nggak bakalan tau selama Mama nggak ngomong apapun ke dia."


--------------------------------------------------


Mendapat pesan dan ajakan dari sahabatnya Dhea, Mood Nabila langsung berubah, setidaknya tidak sia-sia ia sudah bersiap dan berdandan cantik.


Oke boleh, sekarang kan?


Lima belas menit kemudian Nabila langsung berangkat ke tempat yang sudah mereka tentukan untuk bertemu. Dengan menggunakan taksi online seperti biasa Nabila tiba di tempat tujuan.


"Susah ya emang ketemu sama Pengacara kondang," tutur Dhea saat melihat kedatangan Nabila.


"Ih nggak gitu Dhe, tapi ia aku beneran sibuk akhir-akhir ini, maaf yah." Jawab Nabila lalu duduk dihadapan Dhea.


Mereka memesan makanan dan minuman, sambil berbincang. "Nab, kamu masih punya utang sama aku." tatapan Dhea mengintimidasi Nabila, ia heran karena merasa tidak punya utang apapaun.


"Hah? apaan? kapan?" Nabila bertanya heran.


"Cerita soal Tama, gimana waktu itu kalian bisa barengan dan kelihatannya akrab banget! Cerita Nab, jangan ngelak."


Nabila menghela nafasnya ternyata Dhea masih ingat saat mereka bertemu di Pengadilan Agama beberapa minggu lalu, dan saat itu juga Dhea melihat Nabila bersama Tama.


Maka Nabila pun mulai bercerita, dari awal mereka bertemu lagi hingga bagaimana hubungan mereka saat ini. Heran dan tercengang sudah pasti seperti itulah respon dari Dhea, ia tak menyangka akhirnya hati Nabila bisa luluh juga dengan berondong itu.


--------------------------------------------------


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, Tama sudah sampai dirumah. Saat mobilnya terhenti, Bu Irin langsung keluar dari mobil dengan sedikit membanting pintu mobil dengan keras menunjukkan kekesalannya terhadap Tama yang terlihat plin plan.


Tama masih didalam mobil, meraih ponselnya yang begitu banyak pesan masuk serta beberapa panggilan tak terjawab yang tak lain adalah dari Nabila.


"Astaga, Nabila." ia menepuk pelan keningnya, bagaimana bisa lupa dengan wanita itu. Pagi tadi ia yang membuat janji tapi malah dengan gampangnya ia melupakan.


Tama langsung melakukan panggilan balik ke Nabila sebanyak beberapa kali namun tak ada jawaban. Ia yakin wanita itu pasti sangat marah dan kecewa terhadapnya.


"Ah, ****** banget sih!!" Tama mengumpat dirinya sendiri berkali-kali. Ia pun memutar balik mobilnya hingga keliar gerbang rumah, dan melajukan mobilnya dengan cepat. Tujuannya adalah rumah Nabila.


--------------------------------------------------


Maaf baru bisa up cerita ini, sebenarnya ini tuh episode untuk coba-coba. kalau novel ini masih banyak peminatnya akan di lanjut β˜ΊπŸ˜šπŸ˜‚