My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Gebetan Baru



"Sa-saya mencintai Nabila Om, dan sebentar lagi kami akan menikah." adalah kalimat yang keluar dari mulut Tama, tanpa ragu dan percaya diri.


"Nggak Om, kami udah putus." Nabila langsung menyanggah, Tama berucap seolah tak ada kejadian apa-apa hari ini diantara mereka.


"Nggak bisa gitu Nabila, aku tetap akan nikahin kamu!"


"Aku nggak mau nikah sama kamu!"


"Sebentar, ini sebenarnya bagaimana? kalian memang menjalin hubungan?" Pak john menatap keduanya secara bergiliran.


"Dulunya begitu Om, tapi sekarang enggak." Nabila menjawab mantap, dengan nada kesal.


"Sekarang juga masih, Om. Saya sangat mencintai Nabila, izinkan saya menikahi keponakan Om."


"Baiklah---" belum sempat Pak John meneruskan kalimatnya Nabila langsung memotong.


"Enggak Om, tolong carikan jodoh untuk Nabila, Nabila yakin pilihan Om adalah yang terbaik, bukan laki-laki penghia---"


"Nabila please, kamu harus dengar penjelasan aku dulu."


Nabila memejamkan matanya, menikah dengan pria disampingnya ini mungkin dulu memang impiannya, tapi tidak untuk sekarang.


"Om beri waktu kalian untuk menyelesaikan masalah kalian dulu, dan jangan berlarut-larut. Kalian udah dewasa kan? bukan anak kecil lagi. Percayalah setiap masalah ada jalan keluarnya!" Pak Johnatan dibuat bingung dengan mereka berdua.


Nabila bangkit dari duduknya dan kemudian mengambil langkah duluan daripada Tama. "Dan kamu Tama, om harap kamu benar-benar bertanggung jawab atas apa yang udah kamu lakukan sama Nabila." Lanjut Pak Johnatan.


"Kamu Nabila, coba pikir sekali lagi. Kalian udah berciuman seperti itu, kamu nggak mau dinikahi Tama? dimana harga diri kamu?" Nabila mematung seketika saat mendengar kalimat dari Pak Johnatan . Terlebih lelaki itu menekankan kata 'harga diri'.


Andai Tama tidak berkhianat menurutnya, dia pasti akan dengan senang hati menikah dengan lelaki itu.


"Iya, kami permisi Om,"


Akhirnya mereka keluar dari ruangan, Nabila mempercepat langkahnya sebelum akhirnya Tama menarik lengannya. "Dia yang memulai, Citra wanita itu yang memulai duluan, Nabila tolong dengarin aku."


"Dan kamu menikmatinya?" Nabila berbalik, menatap tajam pada pasang mata lelaki itu.


"Kalau dasarnya playboy dan brengse*k, emang nggak akan berubah sampai kapanpun, aku nyesal pernah percaya sama laki-laki seperti kamu!" Lanjut Nabila, sebisa mungkin ia menahan air matanya, namun pertahanannya runtuh. Menangis dihadapan lelaki ini hanya akan membuat harga dirinya semakin tercoreng.


"Oke mungkin menurut kamu di masa lalu aku memang brengs*ek. Tapi enggak untuk sekarang Nab, aku cuma cinta sama kamu." kedua tangannya mencengkram keras bahu Nabila.


"Beri aku waktu untuk berfikir," segera ia tepis tangan itu. Dan berlalu pergi meninggalkan Tama.


-------------------


Sore ini, mereka pulang masing-masing. Nabila jelas-jelas menolak ajakan Tama untuk mengantarnya pulang kerumah. Tidak tau bagaimana menggambarkan rasa kesalnya sekarang. Nabila tiba dirumah dengan wajah kusut, membuat Mamanya heran dan ingin sekali bertanya.


"Kenapa kamu?"


"Nggak apa-apa Ma, banyak kerjaan." jawabnya sambil berjalan menuju ke kamarnya.


"Biasanya kamu juga sering banyak kerjaan tapi nggak pernah wajah kamu seperti ini, ayo bilang ada apa?"


"Menurut Mama, apa Tama bisa menjadi suami yang baik untuk Nabila?" Mama mengangkat alisnya, benar dugaannya ternyata apa yang sedang dihadapi putri sulungnya tak jauh-jauh dari lelaki itu.


"Gitu ya Ma? Nabila masuk dulu ya," kemudian menutup pintu kamar.


-------------------


Tama tidak langsung pulang kerumahnya, ia singgah ditoko perhiasan untuk membeli sesuatu yang sangat penting menurutnya. Sebuah cincin untuk tand keseriusannya pada Nabila yang katanya sangat ia cintai. Setelah memilih yang menurutnya tepat, dan dengan mengandalkan sisa saldo yang ada di rekeningnya, ia melakukan transaksi.


Semenjak ia memilih bekerja dan magang di tempat lain, sang Papa memberhentikan mengirim uang ke rekeningnya. Terlebih Tama dianggap sudah dewasa dan harusnya sudah bisa mencari uang sendiri, padahal jika ia mau menurut dengan Papanya, tentu hal ini tidak akan terjadi.


-------------


Nabila sudah selesai membersihkan diri, kembali berbaring di ranjang. Mencoba menutup matanya karena sedari tadi ia tak bisa tidur, begitu banyak yang bermain didalam pikirannya.


ting.


Ada notifikasi masuk ke ponselnya, dan itu bukan notifikasi chat atau pesan, melainkan instagram. Ia membuka pesan yang masuk melalui akun instagram nya.


Selamat malam, apa benar ini dengan Mbak Nabila Mariska Setyarini, S.H, M.H ?


Ia mengernyitkan dahinya kala mendapat pesan itu, mengapa lengkap sekali orang itu menuliskan namanya, lengkap dengan gelar pula. Padahal ia tidak menuliskan informasi lebih pada profil instagramnya yang bernama @Nabilamariska Hanya sekedar itu saja.


Sebelum membalas, Nabila terlebih dahulu mengecek profil si pengirim pesan, laki-laki itu... wajahnya sangat familiar. Ia mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu. Dilihat dari foto-foto yang lelaki itu unggah di akunnya, "Wah keren, arsitektur." seru Nabila.


Lelaki tampan pemilik akun @Leonata itu berprofesi sebagai arsitektur, Nabila langsung ingat ini adalah lelaki yang ia temui di ATM center siang tadi. Sudah tak salah lagi, pikirnya.


Nalarnya pun berjalan cepat dan berharap bahwa laki-laki ini membawa keberuntungan untuknya yaitu Kartu Tanda Pengenal Advokatnya pasti ia yang menemukan. Tak mau berlama-lama lagi, Nabila segera membalas pesan itu.


iya benar, saya Nabila. Apa Mas ini yang nemuin kartu pengenal advokat saya?


Tak perlu menunggu lama, Nabila langsung mendapat jawaban.


Mbaknya udah cakep, pintar lagi langsung bisa nebak. Iyap benar, ini kan?


pesan terkirim disertai foto benda yang Nabila cari-cari siang tadi. Seketika ia langsung tersenyum lebar.


Ya ampun, makasih banget ya Mas. Saya nggak tau harus gimana, tanpa kartu itu. Dimana bisa saya ambil Mas?


Iya Mbak, sama-sama. Besok siang kita ketemuan aja. Saya harap ini nggak gratis ya Mbak.


Oh tentu saja, besok saya traktir makan siang ya Mas sebagai ucapan terimakasih saya.


Oke Mbak, dengan senang hati. Ada baiknya kita tukaran nomor hape


Dan akhirnya mereka bertukar nomor, dan berlanjut pada chat. Malam ini beban Nabila sedikit berkurang karena benda penting yang ia cari bisa ia dapatkan besok.


-----------


Nah loh sepertinya Nabila bakalan dapat gebetan baru, nah gimana nasib Tama ya? 😂😂😂


Jangan lupa like dan koment yaaa biar author rajin upnya 🤗