
Nabila membuka heelsnya memijat sedikit-sedikit tumitnya yang terasa sakit, kemudian meluruskan kakinya dibawah meja kerjanya.
Mereka bertiga Clara, Doni, dan Evan hanya berdiam berpura-pura sibuk dengan laptop dan berkas-berkas, padahal sebenarnya tidak ada yang mereka kerjakan.
"Clara, tolong kamu fotocopy surat kuasa ini dan disimpan di arsip ya" Suara Nabila memecahkan keheningan diantara mereka.
"Baik bu" Jawab Clara mengambil 2 lembar surat tersebut dari meja Nabila dan segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu.
"hmm, kamu Doni karena kebetulan kamu sedang pegang laptop, tolong kamu cek email-email yang masuk ya, jika ada yang penting, segera beritahu saya" Perintah Nabila pada Doni.
"Tapi... saya tidak tahu bu yang mana yang penting dan yang tidak" Jawab Doni gugup.
"sudah berapa lama kamu kerja disini? pekerjaan sepele seperti itu saja kamu gak bisa?" Kata Nabila ketus.
"baiklah bu, akan saya coba" Doni.
Evan yang belum mendapat giliran tugas dari Nabila, sebelum Nabila bersuara, dia langsung mengambil inisiatif.
"apa yang bisa saya bantu bu?" Ucapnya.
"kamu, dari tadi saya lihat terus menguap saja, emangnya cuma kamu disini yang mengantuk? saya juga, mending kamu keluar belikan kami kopi, nih uangnya" Cerocos Nabila sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dalam tasnya.
"hehehe, baiklah bu" Jawab Evan santai, dan tentunya dia senang karena tugas yang diberikan Nabila sangatlah gampang menurutnya.
***
Sementara diruang atas
"Baiklah om, saya paham. Saya akan mendampingi Nabila seperti yang om perintahkan" Ucap Tama yang duduk dihadapan Pak John.
"Tapi kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya, hahaha" Pak John
"maksudnya om?" Tama tidak paham maksud pria paruh baya yang ada dihadapannya.
"Nabila itu kan cantik, pintar, hatinya juga baik, walaupun sedikit judes, dia itu idaman setiap pria, jadi om takut kalau kamu akan mendekatinya" kali ini Pak John serius dengan ucapannya.
"mana mungkin om saya berani mendekati istri orang?" Jawab Tama tegas.
"hah? istri orang? kamu salah Tama, dia belum menikah" Jawab Pak John. Sontak membuat Tama kaget atas pernyataan bos nya barusan, tentu saja Tama senang mendengarnya. Ia seperti ketiban durian runtuh atau memenangkan sebuah lotre milyaran rupiah, begitulah kira-kira gambaran perasaan Tama saat mendengar ternyata Nabila masih single.
"ehm.. yang bener om, bukannya dia sudah menikah dengan seorang pengusaha ternama di kota ini? siapa ya namanya.." Tama mencoba mengingat-nginat nama calon suami Nabila yang ia dengar saat itu.
"Dimas sial*an itu? hahaha" Ucap Pak John dan tertawa.
"iya, itu om" Jawab Tama.
Pak John menceritakan semua yang Nabila alami mengenai rencana pernikahan Nabila dengan Pengusaha itu. Nabila yang sudah bisa membuka sedikit hatinya untuk seorang pria yang dia anggap akan menjadi suaminya itu, ternyata Dimas akan menjadikannya istri kedua.
Tentu saja hal itu membuat Nabila, mamanya dan termasuk juga Pak John yang akan menjadi wali nikahnya terkejut mendengarnya, dan pernikahan mereka digagalkan.
Sekarang Tama sudah mengetahui semuanya, bahkan Tama juga sudah mendapat jawaban hubungan antara Nabila dengan Pak John adalah paman dan keponakan.
"Begitulah ceritanya Tam, makanya sejak saat itu ia benar-benar sudah tidak perduli lagi dengan hubungan dan urusan cinta-cintaan, yang ia pikirkan hanyalah kerja dan kerja" Pak John menjelaskan semuanya kepada Tama, tentu saja membuat Tama juga terkejut mendengat semuanya.
'ini adalah kesempatan emas bagiku' Pikirinya.
"hei..hei kenapa kamu bengong?" Tanya Pak John pada Tama.
"gak apa-apa om, hanya kasihan dengan Nabila, soalnya dia itu susah sekali jatuh cinta sama orang" Jawab Tama.
"dari mana kamu tahu?" Tanya Pak John heran.
"dari orang-orang di kampus dulu om" Jawab Tama.
"oh.. om kira kamu adalah salah satu korban yang di tolak Nabila, hahaha" Jleb, Tama menelan salivanya seperti mendapat tamparan keras, padahal semua yang dikatakan Pak John adalah benar adanya.
"yasudah om, saya permisi ya" Tama bangkit dari kursinya dan ingin beranjak pergi dari ruangan bosnya.
"sebentar Tama, bolehkah om menanyakan sesuatu?" Tanya Pak John lagi menghentikan langkahnya.
"boleh om, apa itu?" Tama.
"Kenapa kamu memilih untuk magang disini, sementara papa kamu juga punya Firma hukum yang lebih tenar daripada disini, om sangat penasaran cuma belum ada waktu yang tepat untuk menanyakannya" Tanya Pak John.
"ehm, begini om, papa selalu saja meremehkan saya, jadi saya mau membuktikan kalau saya juga punya potensi. dan dapat diterima belajar dan bekerja di tempat lain tanpa bantuan papa" Jelas Tama.
"hmm begitu" Jawab Pak John singkat.
"Tapi om, apakah sebelum menerima saya disini, om sudah tahu kalau saya anaknya Pak Darwin?" Tama meragukan satu hal.
"Awalnya saat kamu mengajukan surat lamaran, om sama sekali tidah tahu kamu siapa, dan om memang berniat menerima kamu disini, karena tertarik dengan Daftar Riwayat Hidup yang kamu kirimkan, namun setelah sehari om nerima surat lamaranmu, Papa me menelpon dan menanyakanmu, memberitahu kalau kamu anaknya, tentu saja itu menjadi rekomendasi lebih untuk om bisa nerima kamu disini, makanya saat perkenalan awal kita om tidak mau kamu panggil dengan sebutan 'Pak' supaya kita bisa lebih akrab" Jelas Pak John panjang lebar.
"baiklah kalau begitu om, saya janji untuk tidak mengecewakan om, dan saya akan bekerja dengan benar" Ucap Tama dengan rasa penuh terimakasih.
"yasudah kalau begitu, kamu bantu Nabila persiapkan semuanya ya"
"baik om"
Tama pun keluar dari ruangan Pak John dengan perasaan yang campur aduk, terharu dan bahagia. Ia bingung harus memulai dari mana untuk mendekati Nabila lagi, kali ini ia tidak boleh gagal, pikirnya.
Sampai saat ini, walaupun ia sudah memiliki seorang kekasih, nama Nabila masih ada terukir didalam hatinya.
Tama menganggap bertemunya kembali ia dan Nabila adalah takdir Tuhan, maka kali ini ia tidak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan.