My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Ciuman Perpisahan



"Anak itu, apa dia benar-benar sudah dewasa sekarang?" Kata Pak Darwin sambil menikmati mi instan buatan istrinya.


"Iya dong Pa, dia bukan anak kecil lagi."


"Iya, maksud Papa sikapnya sejak kapan dia jadi perhatian seperti itu, biasanya berpapasan dengan Papa aja dia langsung buang muka."


"Pa, gimana menurut Papa si Nabila? apa kamu setuju jika dia menjadi menantu kita." Bu Irin merampas sendok dari tangan suaminya dan ikut menikmati mi instan itu.


"Ma, kenapa kamu nggak masak dua porsi sih?"


"Mama takut gendut, percuma dong Mama aerobic seminggu tiga kali."


"Papa sih terserah Tama, karena dia yang akan menjalaninya, semua juga ada ditangan kamu Ma, apa perjodohan dengan Citra masih ingin kamu lanjutkan?"


"Enggak Pa, tapi Mama bingung cara mengatakannya sama Miranda." Bu Irin memegang pelipisnya.


"Ya tinggal katakan kalau ternyata mereka nggak cocok, nggak bisa di paksakan, lagian kamu sih terlalu buru-buru."


"Iya Pa, Mama tahu ini salah Mama,"


"Ya udah nanti kita pikirkan lagi, ayo ke kamar."


***


Minggu pagi, seperti biasa Tama menjalani aktifitasnya yaitu fitnes, ia selalu rajin berolah raga dan menjaga bentuk tubuhnya dengan fitnes secara rutin. Setelah dari ruang fitnes, Tama menuju kamarnya mengambil ponselnya, melakukan panggilan pada Nabila.


"Kok nggak dijawab sih?" akhirnya setelah panggilan ketiga Nabila menjawab panggilannya.


--- dalam panggilan ---


"Sayang kemana aja kamu?"


"Apaan sih Tama, ini masih pagi loh. aku ngantuk." suara serak khas bangun tidur.


"Jam segini kamu belum bangun?"


"Belum, ada apa nelpon pagi-pagi begini?"


"Aku kangen sayang,"


"Hemmm, tapi aku ngantuk."


"Ayo kita menghabiskan waktu berdua hari ini,"


"Boleh,"


"Oke nanti siang aku jemput kamu, bye sayang."


--- Panggilan berakhir ---


Tama turun ke bawah hendak mengambil minuman dingin, di dapur. "Nak, temani Mama ya hari ini?" ucap Bu Irin.


"Kemana Ma? aku mau kencan sama Nabila."


"ini penting demi masa depan kamu dan Nabila, ayo kamu pilih mana?" Bu Irin memasang ekspresi mengancam.


"Kemana sih Ma?" Tama mengerutkan dahinya.


"Kerumah Tante Miranda, kita bicarakan semua pembatalan perjodohanmu dengan Citra."


"Mama sendiri aja, aku udah janji sama Nabila Ma."


"Tama, please. kamu juga harus jadi laki-laki yang bijak. kamu harus katakan sendiri kalau kamu udah punya seseorang yang kamu cinta." Bu Irin menyeret tangan putranya agar duduk dihadapannya.


"Mama yang benar aja, gimana perasaan Citra kalau aku katakan itu?"


"Jujur itu lebih baik Tama, katakan aja apa adanya."


"Baiklah, aku siap-siap dulu Ma."


***


"Silahkan Masuk Bu Irin dan Den Tama, Nyonya sudah menunggu,"


"Terimakasih Bi." mereka berdua jalan keruang utama dirumah itu.


"Hai Rin, apa kabar?" Bu Miranda menyambut sahabatnya, mereka berpelukan.


"Baik, kamu gimana? aku kira kamu masih di Melbourn loh."


"Ya seperti yang kamu lihat, aku begini. Eh Calon menantu Tante, makin tampan aja kamu." Melirik ke arah Tama.


"Makasih Tante. Citranya dimana Tante?"


"Oh dia di kamarnya, mending kamu naik aja."


"Nggak usah Tante aku tunggu di taman belakang aja," Tama pun berlalu meninggalkan kedua wanita paruh baya itu, dan langsung menuju taman belakang rumah tersebut. kemudian mengirimkan pesan ke Citra,


Aku sedang dirumahmu sekarang, temui aku di taman belakang.


***


"Ada apa kok mendadak kesini Rin? apa kita akan mempercepat jadwal pertunangan mereka?" tanya Bu Miranda.


"Maafkan aku Miranda harus mengatakan ini, sepertinya perjodohan ini nggak bisa dilanjutkan,"


"Alasannya?"


"Biarkan anak-anak kita bahagia dengan pilihan mereka," ucap Bu Irin hati-hati karena melihat raut wajah Bu Miranda yang langsung berubah drastis.


"Tentu saja Citra bahagia dan Tama memang pilihannya, lalu apakah Tama sudah ada pilihan lain? bukan Citra?"


"Ya, dengan berat hati aku harus mengatakannya, Tama punya seseorang yang dia cintai." Bu Irin mengangguk.


"Aku sih nggak masalah jika perjodohan ini nggak bjsa dilanjutkan, toh kita masih tetap bersahabatkan?"


"Benar Miranda,"


"Tapi aku khawatir dengan Citra, aku tahu dia begitu mencintai anakmu Rin."


"Biarlah itu menjadi urusan Tama bagaimana cara dia mengatakannya pada Citra,"


***


--- di taman belakang rumah ---


Tama sedang menghadap ke kolam renang yang ada ditaman itu, lalu tiba-tiba Citra memeluknya dari belakang,


"Aku tau kamu kangen aku sayang, makanya kamu datang tiba-tiba. aku sengaja nggak menghububgi kamu beberapa hari ini, biar kamu tahu rasanya kangen." tangannya terus melingkar di badan kekar laki-laki itu.


Tama meraih kedua tangan Citra, dan berbalik menghadapnya, "Maaf aku harus mengatakan ini, kita sudahi sampai disini ya?" aku mau kita sama-sama bahagia, dengan pilihan kita masing-masing." ucap Tama dengan sangat hati-hati.


"Pilihan masing-masing, maksud kamu?"


"Ya aku udah punya pilihan, sekarang kamu carilah orang yang benar-benar mencintaimu."


"Tapi aku hanya mencintai kamu, bukan orang lain. jika suatu saat nanti kamu menikah dengan wanita pilihanmu, aku juga siap jadi istri kedua kamu, asalkan aku tetap bersamamu Tama."


Mendengar ucapan Citra barusan membuat Tama menggeleng, ia tak habis pikir, entah apa yang ada dalam pikiran wanita dihadapannya ini.


"Kamu jangan bicara asal, kamu berhak hidup bersama orang yang mencintaimu, dan itu bukan aku,"


Mata Citra mulai berair, saat Tama mengucapkan kalimat itu.


"Aku mohon, kali ini aja." tak mengerti dengan ucapan Citra, tiba-tiba saja Citra sudah mendaratkan ciuman lembut nya dibibir Tama dan melingkarkan kedua tangannya, karena tak tega melihat Citra yang sudah meneteskan air mata, Tama pun membalas ciumannya, sehingga mereka terbawa suasana.


anggaplah ini ciuman pertama dan terakhirku untukmu, setelah itu pergilah menjauh dari kehidupanku. Gumam Tama dalam hatinya.


"Tama, Citra, apa yang kalian lakukan?" Bu Irin dan bu Miranda menghampiri mereka, Tama langsung menghentikan apa yang ia lakukan bersama Citra.