My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Harus Rajin



Hai, baru update nih. Kalau agak lupa cerita sebelumnya, baca aja dulu dikit biar ingat 😉


---------------------------


Usai percintaan panas mereka, Tama merapikan anak-anak rambut Nabila yang basah karena keringat, berserakan menutupi sebagian wajahnya. Lelaki itu menyadari, sedari tadi saat ia melakukan pemanasan dan penyatuan pada istrinya, wanita itu terlihat berbeda. Kurang agresif seperti biasanya, bahkan kini, dapat ia lihat tatapan sendu yang menghiasi wajah istrinya.


"Kamu kenapa? kok beda?" Tama bertanya kemudian mengeratkan pelukannya pada Nabila.


"Nggak apa-apa, aku cuma capek," jawabnya tidak jujur. Sebenarnya ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan para Ibu-Ibu yang berbicara semaunya tadi saat ia menghadiri acara arisan keluarga itu.


"Yang bener? ada yang mengganjal dihati kamu, kan? ayo ngomong! Aku kenal kamu udah sepuluh tahun sayang, jadi aku tau kalau sekedar capek, kamu nggak bakalan kayak gini."


Mendengar ucapan suaminya, seketika hatinya terenyuh. Air mata menggenang dipelupuknya. Ingin sekali ia menangis dan menceritakan semua yang ia alami hari ini.


"Tuh kan, malah nangis? kenapa sih?" merangkup kedua pipi istrinya.


"Tadi... waktu diacara arisan itu, ada beberapa orang yang nanyain, soal..."


"Anak?" seolah tahu apa yang dialami istrinya, Tama langsung menyambut ucapan istrinya.


Nabila mengangguk, "sebenarnya, kalau cuma itu aja sih aku nggak masalah, tapi... aku sedih banget pas mereka bilang..." Nabila menangis terisak, menelan salivanya sebagai jeda. Ada rasa sesak didadanya.


"Bilang apa?" Tama mengusap-ngusap punggunya yang masih polos belum dibalut oleh pakaian.


"Harusnya kalau aku nggak bisa ngasih kamu keturunan, setidaknya aku harus ngasih kamu izin buat, nikah lagi... apa iya harus begitu? kamu mau?"


Nabila mencoba jujur tentang apa yang ia alami, sambil menguji lelaki itu. Apa yang akan ia jawab perihal penawaran menikah lagi.


"Siapa yang ngmong kayak gitu ke kamu?"


"A-aku nggak tau namanya, aku lupa. Ya yang pasti mereka saudara-saudara Mama lah." Tama terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa? menurut kamu itu ide bagus?" timpal Nabila.


"Kamu tuh apa-apaan? buat apa aku nikah lagi, kamu udah cukup buat aku."


"Tapi andai aku memang beneran nggak bisa hamil, gimana? kamu mau nikah lagi?" Nabila mengusap air matanya, ia ubah posisinya menjadi duduk.


"Nggak!" satu jawaban yang cukup tegas. "Nggak ada perempuan yang bisa bikin aku tergila-gila, selain sama kamu." lanjut Tama.


"Nggak ada, atau belum ada?"


"Sayang... udah dong, ganti pembahasan aja. Nanti di Bali kita sering-sering bikin anak, siapa tau jadinya waktu bikin disana. Kita memang harus rajin bikinnya." Tama menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh istrinya.


"Aku serius ini, lagi nggak bercanda, Tama."


"Siapa yang bercanda, aku juga serius."


"Udah ah, males ngomong sama kamu. Orang lagi sedih, di bercandain." Nabila memungut pakaiannya yang berserakan kemudian berlalu menuju kamar mandi.


Nabila tak menghiraukan lagi kalimat Tama barusan, ia memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


-----------------------------


Beberapa hari kemudian. Nabila terlihat sibuk dengan membongkar lemarinya memilah-milah pakaian untuk nya dan juga untuk suaminya. Karena besok siang mereka akan berangkat ke Bali sesuai yang telah dijadwalkan oleh Tama. Ia duduk di lantai tepat disamping koper yang akan ia isi pakaian. Ia merasa, berat badannya akhir-akhir ini sepertinya meningkat. Itu terbukti saat ia mencoba beberapa baju favoritnya dan ternyata mulai sempit dan sesak saat ia mengenakannya.


Aneh, padahal akhir-akhir ini aku sering banyak pikiran juga makannya dikit, tapi kok malah makin gemuk.


Perasaan kecewa menghampirinya. Padahal dulu saat masih gadis, bahkan hampir setiap malam ia selalu mengkomsumsi makanan manis seperti es krim, cokelat dan camilan-camilan lainnya tapi berat badannya masih cukup stabil.


Ia lirik jam dinding dikamarnya, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, matanya mulai berair karena mengantuk. Tapi, sebelumnya ia harus menyelesaikan kegiatannya ini terlebih dahulu. Sementara Tama yang masih berada diruang kerja bersama sang Papa untuk membahas pekerjaan yang akan dibawa Tama ke Bali.


Mata Nabila tertuju pada dua buah lingerie miliknya yang tidak pernah ia pakai sama sekali. Melirik ke arah pintu kamar, berharap suaminya tidak masuk dulu untuk saat ini karena ia ingin sekali mencobanya.


Nabila bercermin dan menempelkan lingerie itu pada tubuhnya sebelum mencobanya. Namun tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka. Ia pun terkesiap dan mencampakkan kembali pakaian itu ke tumpukan bajunya yang lain.


"Ya ampun, udah dari jam lapan belum selesai juga, sayang?" Lelaki itu masuk dengan membawa laptop di tangan kanannya.


"Iya belum, aku bingung mau bawa yang mana. Kalau pakaian kamu, udah beres kok." jawabnya sambil membenarkan rambutnya untuk menghilangkan rasa gugup karena hampir saja ketauan oleh Tama.


"Bawa yang menurut kamu nyaman dipake aja,"


Lelaki itu meletakkan laptop di atas ranjang, saat ingin membuka laptopnya. Matanya tertuju pada salah satu tumpukan pakaian milik istrinya. Ia bangun dari ranjang dan menghampiri sesuatu yang membuatnya penasaran itu.


"Ini apa?" tanya Tama kemudian mengangkat lingerie itu dengan kedua tangannya.


"Eh," Nabila terlihat gelagapan menjawab. "Itu..." Nabila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku kok nggak pernah tau, kamu punya beginian?" sambil tersenyum penuh makna..


"I-iya... soalnya aku juga lupa kalau punya itu," sambil tersenyum kaku, memegang tengkuknya. Nabila tidak tahu lagi harus menjawab apa.


"Ini, dibawa aja." Titah lelaki itu.


"Hah?" membuat Nabila tak percaya.


"Ini, bawa aja ke Bali. Siapa tau perlu." ulangnya dengan menambahkan sedikit kata.


"Enggak, maksudnya itu udah enggak muat lagi kalau aku pake," Nabila mengelak, tapi sepertinya memang benar. Pakaian mini itu mungkin sudah tidak pas lagi dibadannya.


"Dicoba aja dulu, nih." Tama mengalihkan apa yang ada ditangannya, kepada Nabila.


"Enggak ah, ya udah aku bawa aja. Tapi nggak usah di coba ya." Cepat-cepat Nabila melipatnya menjadi sangat kecil dan menyelipkannya kedalam koper.


Haduh gawat. Nabila sendiri benar-benar lupa jika telah membeli pakaian itu, dulu awal-awal menikah. Tidak jadi ia pakai karena merasa tidak percaya diri didepan suaminya jika harus mengenakan itu.


Tama tersenyum, ia tahu Nabila takut mendapatkan penyerangan darinya jika mengenakan itu. Ia kembali naik ke atas ranjang dan melanjutkan pekerjaannya. Dan Nabila melanjutkan aktifitasnya, karena rasa kantuknya sudah tak bisa ia tahan lagi.