My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Khilaf



"Iya, wanginya khas parfum cewek, emang kurirnya cewek ya?" Nabila tersenyum mengejek.


"Hem, enggak. cowok kok." Ucapnya masih tak jujur.


Nabila mulai curiga. sebaiknya aku jujur.


"Oke aku jujur sayang," duduk di hadapan Nabila.


Nabila hanya memasang ekspresi datar, mencoba mendengarkan apa yang akan di jelaskan oleh Tama.


"Tadi itu Citra ada di bawah, lalu aku mengajaknya pergi dari sini dengan mobilku, dia cuma mau ngucapin salam perpisahan kok," Jelasnya.


"Oh," Jawaban singkat dari Nabila.


"Sayang, kamu marah?"


"Enggak, aku senang kamu mau jujur," Nabila tersenyum.


"Jadi kapan kamu bisa ketemu orang tuaku?"


"Besok, gimana?"


"Boleh sayang, lebih cepat lebih bagus, lagian besok kita kan libur." Jawab Tama yang terlihat semangat.


Aduh gimana ya, aku terlanjur berjanji pada Tama. Sebenarnya aku nggak siap, kenapa secepat ini sih ketemu sama orang tuanya?


***


Hari ini, pekerjaan mereka tidaklah terlalu banyak, sehingga mereka bisa santai, sesekali Tama turun ke ruangan bawah bergabung dengan rekan-rekannya yang lain. Namun berbeda dengan Nabila yang sejak pagi hingga sore hari tetap berada di atas, ia bisa lebih bebas dan santai di ruangan itu. Nabila merasa sangat lelah karena perjalanan kemarin, makanya sesekali Nabila merebahkan tubuhnya di sofa.


Untunglah hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan, jadi aku bisa santai.


Saat Tama turun ke lantai bawah, Nabila memejamkan matanya, hingga ia benar-benar tertidur.


Karena sudah jam 5 sore dan itu adalah jam pulang mereka, Tama kembali naik ke ruangan atas niatnya untuk mengajak Nabila pulang.


Ternyata malah tidur. Tama mendekat ke Nabila, duduk disampingnya, mulai menatap wajah cantiknya, ia membelai pipi kanan Nabila dengan tangan kanan nya.


"Sayang bangun, ayo kita pulang." tapi Nabila tak kunjung bangun.


Tama tetap berada diruang tersebut, menemani Nabila yang masih tertidur. Ia memainkan ponselnya sambil sesekali melirik ke Nabila yang masih tertidur lelap, tanpa terasa sudah setengah jam lebih ia menunggu, dan rekan-rekannya yang lain sudah pada pulang, bahkan Aldi si OB juga sudah pamit pulang sejak tadi. Sekarang hanya tinggal mereka berdua di kantor itu.


"Nabila, sayang, ayo bangun, kita pulang."


Ini pingsan atau tidur sih?


Tama mendekati wajahnya dengan wajah Nabila, kemudian


Cup. mengecup sekali bibir Nabila tidak membuat Nabila membuka mata. Kemudian mengecup lagi dan bibirnya mulai bermain disana, karena merasa ada sesuatu diwajahnya, hembusan nafas Tama membuat Nabila membuka matanya ia terbangun dan tentu saja terkejut dengan perlakuan Tama. Tapi kali ini ia membalas ciuman itu dengan sangat lembut, cukup lama mereka melakukan itu, bahkan Nabila mulai melingkarkan kedua tangan nya di leher Tama akhirnya Nabila tersadar dan melepasnya.


"Udah, ayo kita pulang." Nabila bangun dan duduk, merapikan rambutnya.


"Kok udahan? hahaha." Tama menertawakannya.


Nabila tidak peduli, ia mengambil cermin kecil dari dalam tasnya, kemudian bercermin melihat bagaimana keadaan wajahnya terutama bibirnya yang habis di ***** oleh kekasihnya itu.


"Makasih ya," Ucap Tama.


"Karena sudah membalasnya," Jawab Tama.


Nabila tertunduk malu, seketika wajahnya memerah.


"Aku khilaf," Jawab Nabila ketus.


"Nggak apa-apa sekarang kamu khilaf, semoga khilafnya sering-sering ya." Mengacak-acak rambut Nabila, padahal baru saja ia rapikan.


"Itu memang maunya kamu, dasar laki-laki, selalu saja memanfaatkan keadaan," mengambil tasnya kemudian melangkah keluar.


"Aku hanya mencoba membangunkanmu dengan cara itu," Jelasnya.


"kenapa kamu nggak pulang duluan?"


"Mana mungkin aku ninggalin kamu sendiri disini,"


"Aku udah biasa, bahkan menginap disini sendirian kalau kerjaan lagi numpuk juga pernah," mereka jalan beriringan mulai menuruni tangga.


"Sayang, aku antar kamu pulang ya. jangan khawatir, mereka udah pada pulang kok, tinggal kita berdua."


"Oke, ayo."


Sepanjang perjalanan, Nabila hanya diam. Sebenarnya ia sangat malu karena terbawa suasana ia jadi membalas ciuman Tama, bahkan dengan sangat mesra.


"ini aku antar kemana?" Tanya Tama.


"ya kerumah lah,"


"Sayang, aku kan belum tahu alamat rumahmu yang baru, tapi aku ingat saat kamu berjalan kaki dari swalayan, apa di daerah itu rumah barumu?" Tanya Tama.


"Iya benar," Tama langsung melajukan mobilnya kearah rumah Nabila.


Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka hampir tiba,


"Masuk ke komplek perumahan itu ya Tam," Tama mengangguk mengerti dan mengikuti arahan Nabila.


"Stop, disini." Ucap Nabila, kemudian Tama mengehentikan mobilnya.


"Kamu pasti heran kan rumahku yang dulu berbanding terbalik dengan yang sekarang? ya beginilah keadaan ku dan keluargaku sekarang," Jelas Nabila lagi, padahal Tama tidak bertanya apa-apa.


"Aku turun ya, oh iya kirimkan alamat rumah kamu ya."


"Besok sore aku jemput kamu," Jawab Tama.


"Baiklah, sampai ketemu besok." Kemudian Nabila melambaikan tangannya pada Tama dan mulai memasuki pagar rumahnya yang sederhana.


Setelah memastikan Nabila sudah masuk kerumahnya, Tama melajukan mobilnya memutar balik dan keluar dari komplek perumahan tersebut.


Apa Papanya bangkrut? kok bisa keadaannya sekarang seperti itu? Pantas dia bekerja keras demi keluarganya.


Tama sama sekali tidak mengetahui tentang Papa Nabila yang sudah punya keluarga lain dan meninggalkan Nabila. yang Tama ingat dulu Nabila sama seperti dirinya, anak orang berada dan serba berkecukupan.


***


Bersambung....