My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Istirahat



Tiga hari kemudian, waktu bulan madu Tama dan Nabila berakhir, dan mengharuskan mereka untuk kembali ke kota Jogja. Terlebih, begitu banyak pekerjaan yang mereka tinggalkan, mereka berharap semoga ada kesempatan lagi untuk mereka liburan bersama seperti ini.


Sejak hari dimana Papa Nabila mengirimkan pesan kepadanya, hingga saat ini Nabila sama sekali belum membalas pesan itu. Ia ragu, rasanya Nabila ingin membiarkan sang Papa merasakan apa yang ia rasakan dulu, yaitu diabaikan.


Awal-awal Papanya menikah lagi, sekitar sepuluh tahun yang lalu, ia masih berusaha untuk menghubungi Papanya walau untuk sekedar meminta uang saku dan biaya kuliah, tapi tak pernah sekalipun ia dapat balasan. Bahkan sang Papa sengaja mengganti nomor untuk menghindari Nabila. Sungguh sakit bukan? hingga akhirnya Mama memilih menjual aset mereka satu-satunya yaitu rumah. Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan, untuk menyambung hidup dan biaya pendidikan Nabila dan adiknya, Nayla. Mobil yang biasa Nabila pakai pun juga harus lenyap karena dengan menjual rumah saja ternyata tidak cukup.


------------------------------


Setibanya di Jogja, sebelum kerumah orang tua Tama, Nabila pulang kerumahnya untuk bertemu sang Mama dan menceritakan perihal uang seratus juta kiriman sang Papa.


"Itu kan kado pernikahan dari Papa kamu, kamu gunakan sebaik-baiknya." tutur Bu Devi.


"Tapi Ma, Mama dan Nayla lebih butuh ini. Anggap aja ini pemberian dari Nabila untuk Mama dan Nayla... apalagi Nayla kan lagi butuh banget buat biaya kuliahnya." Nabila segera mengambil ponselnya untuk melakukan transaksi dan mengirimkan uang itu ke rekening Mamanya.


"Ya udah kalau gitu, makasih ya sayang."


"Iya Ma, sama-sama." Nabila tersenyum.


"Tama, kamu... tolong jaga Nabila sebaik-baiknya ya. Kamu harus banyak maklum, dia urusan dapur masih kurang banget, nggak bisa masak sama sekali." Pandangan Bu Devi beralih kepada Tama yang kini resmi menjadi menantunya itu.


Tama tertawa kecil sebelum menjawab, "Nggak masalah Ma. Selagi masih ada makanan cepat saji yang dijual--"


"Tama, nanti aku bakal belajar kok," Nabila langsung menyangkal kalimat Tama.


Nggak masalah kalau urusan dapur, yang penting urusan ranjang harus beres. Batin Tama, tersenyum ke arah Nabila penuh arti.


"Mbak, bakal sering pulang kesini kan?" Nayla keluar dari kamar, meski Nabila sering mengolmelinya, entah kenapa saat Mbaknya itu tak berada dirumah ia merasa ada yang kurang.


"Kalau Mbak kamu nggak sibuk," sahut Mama.


Nabila tersenyum miring, sebenarnya ia juga ingin mengatakan itu tapi ia tak mau mengecewakan Nayla dan Mama.


"Bakalan sepi deh tinggal berdua," Meski bersedih karena putri sulungnya itu harus tinggal terpisah dengannya, tapi Bu Devi harus menerima ini toh ini juga salah satu do'anya yang sudah terkabul. Akhirnya Nabila menemukan jodohnya dan menikah.


Setelah berpamitan dengan di selimuti sedikit rasa haru, akhirnya mereka berdua pulang ke kediaman orang tua Tama. Sepanjang perjalanan, Nabila hanya diam menyandarkan kepalanya.


"Kamu capek?" Tangan kiri Tama memegang pundak Nabila. "Lumayan," Nabila menoleh.


"Ya udah nanti nyampe rumah, istirahat ya." Nabila mengangguk mengiyakan.


"Apalagi besok udah mulai ngantor kan? kita istirahat full hari ini nggak usah ngapa-ngapain." Lanjut Tama.


"Beneran istirahat? aku nggak yakin sama kamu." Nabila mencibik kesal, sungguh omongan lelaki itu tak dapat dipercaya. Karena selama mereka bulan madu di Lombok, jarang sekali Nabila bisa tidur nyenyak. Niatnya untuk tidur selalu berakhir dengan 'ditiduri' oleh suaminya itu.


"Iya beneran sayang, aku nggak bakal ganggu kamu." Jawab lelaki itu, Nabila menyipitkan matanya, memastikan apakah kalimat itu terlihat sungguh-sungguh?


"Tapi semuanya tergantung kamu sih," Tama melanjutkan kalimatnya sambil menyentuh kepala Nabila. "Kok aku?" Nabila mengernyitkan dahinya.


"Iya, tergantung kamu terlihat menggoda atau enggak." Leleki itu tertawa setelah mengatakan itu, Nabila berdecak kesal. "Tuh kan, sama aja!"


------------------------------


Maaf kalau upnya lama 🤗