My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Pijatan dan Hujan



Nabila memilih tempat duduk sofa karena pasti nyaman menurutnya. Setelah duduk di sofa, Nabila membuka heels yang sejak tadi sangat menyiksanya, dan ternyata ada sedikit lecet di bagian pergelangan kakinya, tepat di atas tumit dan terasa perih. Tama yang melihat Nabila memijat-mijat kakinya sendiri, bangkit dari kursinya, dan mulai berjongkok didepan Nabila.


Melihat kedua pergelangan kaki Nabila yang lecet, Tama bangkit lagi menuju mobilnya mengambil kotak P3K.


"Kenapa dia" Ucap Nabila yang melihat Tama buru-buru menuju mobil.


Saat melihat Tama kembali dengan sebuah kotak putih di tangannya, kini Nabila pun paham.


"Sini kaki mu" Ucap Tama menarik kaki Nabila.


"Nggak usah Tam, aku bisa sendiri" Jawabnya.


Tanpa menghiraukan perkataan Nabila, Tama langsung mengoleskan salap di kedua pergelangan kaki Nabila yang lecet, kemudian menempelkan plaster. Dan memijat-mijat kecil jari-jari kakinya dengan lembut, Nabila ingin menolaknya tapi karena dia merasa pijatan Tama sangat nyaman, ia pun hanya bisa menikmatinya dan tersenyum kecil.


"Apa memijit kaki ku juga bagian tugas yang diberikan oleh Om John? Hahaha" Nabila bertanya dan kemudian tertawa kecil.


"Anggap aja iya" jawab Tama tersenyum.


Setelah selesai, Tama pun bangkit dan duduk kembali di hadapan Nabila.


"Terimakasih ya Tam, tapi kenapa kamu begitu berani memegang kaki istri orang? Kalau ada yang lihat bagaimana?" Nabila menguji Tama, selama ini Nabila tidak tahu bahwa Tama sudah mengetahui semuanya dari Pak John.


"Gak masalah tuh, kapan-kapan kenalkan aku dengan suami mu, agar dia nggak cemburu kita kan sering bersama" Jawabnya enteng.


Nih anak bener-bener ya, kalau aku beneran udah bersuami gimana.


Nabila hanya tersenyum konyol.


Hmm dia kira aku belum tahu semuanya.


Saat pesanan mereka sudah tiba, mereka langsung menghabiskan makanan mereka, mengingat tak banyak waktu, karena harus menyelesaikan pekerjaan lainnya.


Sejak awal mereka tiba di Cafe, ponsel Tama tak berhenti bergetar, namun Tama mengabaikannya, sehingga membuat Nabila penasaran.


"Kok panggilannya nggak di terima? Siapa tahu penting" Nabila kepo.


"Biarin aja, biasalah penagih utang, hahaha" Jawab Tama tertawa.


"Orang kaya seperti mu juga di kejar-kejar penagih utang?" Nabila tak percaya.


"Bukan itu, penagih cinta dan kasih sayang dari ku, kamu tahu kan berapa banyak wanita yang tergila-gila padaku?" Sambil menaikkan alis, dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.


"Cih, ternyata kamu benar-benar nggak berubah ya, saat ini berapa wanita yang sedang kamu pacari?" Ketika itu entah kenapa Nabila begitu kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Tama.


"Berapa ya?" Tama menghitung dengan jari-jarinya.


"Udah-udah, aku nggak perlu tahu dan aku nggak peduli" Nabila menghabiskan minumannya, dan pergi ke kasir untuk membayar.


Setelah selesai membayar, mereka berjalan beriringan menuju pintu Cafe.


"Dimana harga diriku, kamu terus yang bayarin" kata Tama.


"Udah kamu tenang aja, aku nggak pake uang pribadi ku, ada uang operasional kantor" Jawab Nabila sambil mendorong pintu kaca Cafe, dan ternyata diluar hujan deras.


"Yah, gimana ni gak mungkin kita hujan-hujanan kan ke mobil kamu" Ucap Nabila, Tama memarkirkan mobilnya agak jauh dari pintu masuk, karena hanya itu tempat parkir yang tersisa.


"Kamu tunggu disini ya" Tama berlari menuju mobilnya, dan mengambil payung dan kembali ke tempat Nabila menunggu.


Karena hujan yang sangat deras, membuat kemeja biru muda yang dikenakan Tama menjadi basah kuyup sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang tegap dan tentunya sangat sexy idaman setiap wanita.


Nabila terdiam dan tercengang saat melihatnya, dan seketika tersadar memukul kepalanya sendiri.


Apa sih Nab, kelamaan jomblo nih. Makanya gini, sadar, sadar.


"Ayo, kok malah bengong" Kata Tama yang tiba-tiba sudah berada disampingnya dengan membawa payung, kemudian mereka berjalan pelan beriringan menuju mobil.


Tama membukakan pintu untuk Nabila.


"Makasih Tam" Nabila tersenyum dan terus memperhatikan Tama, namun saat Tama sudah masuk ke mobil, dia pura-pura sibuk melihat ponsel.


Kemudian saat sudah di dalam mobil, Tama membuka kancing kemejanya satu persatu, yang basah kuyup. Kali ini Nabila melihat tubuh sexy itu secara langsung tanpa pelapis apapun.


Nabila langsung memalingkan wajahnya ke arah kaca jendelea di sebelah kirinya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Nabila.


"Ya ganti baju lah, emang ngapain, hahaha" Tama hanya tertawa cengengesan melihat Nabila yang panik.


"Emang ada bawa kemeja ganti?" Tanya Nabila lagi yang masih memalingkan wajahnya.


"Ada dong, aku kan selalu sedia payung sebelum hujan" Jawabnya sambil mengambil tas ranselnya di jok belakang, dan mengambil selembar kemeja dan langsung memakainya.


"Sedia payung sebelum hujan, tapi tetap basah juga kena hujan" Ucap Nabila sewot.


"Kan itu semua demi kamu" Jawabnya kemudian menyalakan mobilnya melajukan mobilnya.


Setelah Nabila memastikan bahwa Tama sudah mengenakan pakaiannya, barulah Nabila memandang lurus ke jalan dan melirik sedikit ke arah Tama.


"Kita kembali ke kantor ya" Kata Nabila.


"Siap Ibu Boss" Jawab Tama.


Nabila tersenyum kecil mendengar jawaban Tama.