
Nabila sedang terbaring lemah di kamar hotel. Sejak di dalam pesawat tadi, kepalanya terasa sangat pusing hingga ia menyebabkan kekacauan, memuntahkan isi perutnya di kemeja yang dikenakan suaminya.
"Ini sayang, minum air hangatnya," Tama menyodorkan segelas air putih hangat pada Nabila.
Nabila membenarkan posisinya menjadi duduk, kemudian menerima gelas dari suaminya, dan meminumnya hanya beberapa teguk saja.
"Aku udah pesan makanan, sebentar lagi diantar." ucapnya sambil mengusap-ngusap kening istrinya.
"Maafin aku ya, harus ngerepotin kamu." Nabila kembali memejamkan matanya, tak kuasa untuk membuka mata lebih lama karena seperti penglihatannya berputar-putar.
"Nggak ada yang harus dimaafin, kondisi kamu kayak gini juga bukan kamu yang mau, sayang. Dan nggak biasanya 'kan? kamu kayak gini?" Tama bertanya, dijawab anggukan oleh Nabila.
"Kamu, kenapa belum ganti baju? itu kan basah." Sekilas, Nabila melihat suaminya masih mengenakan kemejanya tadi.
"Iya ini aku buka sekarang," lelaki itu berjalan menuju koper untuk mencari pakaian ganti.
"Kalau aku tau bakalan kayak gini, aku pasti nggak jadi ikut," Nabila berbalik, menghadap suaminya yang sedang bertukar pakaian.
"Jangan dong, masa aku cuma berdua aja sama Marsha, 'kan bahaya. Kalau dia godain aku, gimana?" Tama berkata seperti itu sambil menampilkan seulas senyum.
Yang dikatakan Tama ada benarnya. Perempuan itu masih muda dan cantik. Apalagi, masih tergolong baru bergabung dan menjadi asisten suaminya. Tapi, menurut Nabila, ada yang lebih berbahaya lagi dari itu. "Dan kamu bakalan tergoda juga sama dia?"
"Makanya kamu harus ikut, biar aku nggak tergoda sama dia." celetuk Tama kemudian ikut berbaring disamping istrinya.
Nabila menghela napas kasar, ia tahu Tama hanya mencoba menggodanya saja, maka ia tidak terlalu terpengaruh meski ada sedikit rasa khawatir.
"Gimana? masih pusing?" Tama memijat pelan kepala istrinya.
"Masih, perut aku kram juga. Kayaknya aku mau haid. Biasanya gini sih kalau dua hari sebelum datang," Nabila memegang bagian perut bawahnya.
"Duh, jangan dulu dong---"
"Jangan kenapa? aku udah telat sebulan loh sayang, kan bahaya bisa jadi penyakit."
"Ssst..." Nabila meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya. "Kita liat nanti, kan aku bilang 'kayaknya' belum tentu juga."
-------------------------------
Malam harinya, Tama harus pergi menemui kliennya. Nabila ingin sekali ikut menemani, tapi kondisinya masih belum benar-benar stabil. Ia pun tidak mengerti mengapa kondisinya bisa seperti ini. Tama sedang bercermin sambil mengancingkan ujung lengan pada kemeja yang ia kenakan. Nabila sedari tadi memperhatikannya. "Mukanya jangan ganteng pake banget gitu, bisa nggak?" celetuk Nabila asal. Entahlah ia merasa tak rela saja ketampanan suaminya itu juga ikut dinikmati oleh orang lain.
"Ngomong apa sih kamu?" Tama mendekati Nabila yang sedang duduk bersandar diatas ranjang, mengecup keningnya sebelum berpamitan.
"Aku pergi." ucapnya kemudian melangkah.
Ponselnya berdering, masih terletak diatas meja. "Hape kamu, sayang." Nabila mengingatkan. Tama berbalik dan meraih ponselnya dillayar tertera nama Marsha.
"Halo, Maaf Pak. klien kita udah nyampe dari tadi--"
"Iya bilangin saya lagi turun ke bawah." Tama langsung memotong kalimat asistennya itu, dan mengakhiri panggilan.
"Kalau ada apa-apa telpon aku ya sayang!" seru lelaki itu sebelum benar-benar meninggalkan istrinya. Nabila mengangguk sebagai jawaban.
Didalam kamar, Nabila hanya sibuk memainkan ponselnya. Ada seseuatu yang membuatnya penasaran, tentang apa yang ia alami hari ini. Benar memang, jika menjelang haid ia cenderung merasa pusing. Tapi, tidak pernah sampai mual apalagi muntah. Ia pun membuka google untuk melakukan pencarian mengenai tanda-tanda hamil. Namun Nabila tidak mau terlalu berharap.
Matanya terlihat fokus menatap layar saat hasil pencariannya keluar. Dari begitu banyak tanda-tanda wanita yang sedang hamil muda, hanya ada dua yang ia alami yaitu mual dan pusing. Ia menjadi kecil hati, karena kecil kemungkinan bahwa ia hamil. Terlebih kram diperutnya sama persis seperti tanda menstruasi akan datang seperti yang biasa ia alami.
Berharap boleh, tapi jangan terlalu. Yang ada kecewa. Tiba-tiba, Nabila ingat akan benda kecil pipih alat tes kehamilan yang masih tersisa satu didalam tasnya.
Tapi Nabila tidak mau tergesa-gesa, lebih baik ia lakukan tes dipagi hari saja. Agar hasilnya akurat, soal menggunakan alat tes kehamilan, Nabila tentu sudah ahli. Selama dua tahun ini entah berapa kali dalam satu tahun ia mencoba dan hasilnya selalu nihil.
--------------------------------
Aku up dua kali loh hari ini, jangan lupa dukungannya yah 😁