My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Dasar, Nggak Tau Diri !



Tama dan Nabila sudah berada di dalam mobil, saat hendak memasangkan safety belt pada Nabila, Tama mencuri kesempatan mengecup pucuk kepala Nabila. "Aku senang banget hari ini, aku sayang kamu Nabila." Tama memang paling bisa meluluh lantahkan hati Nabila yang sempat membeku. "Nggak usah kamu bilang juga aku tau kalau kamu senang, keliatan banget dari tadi kamu senyum-senyum terus." Nabila tersenyum tersipu malu karena perlakuan dan kalimat-kalimatnya.


ting


ting


ting


Ponsel Nabila terus saja berbunyi, notifikasi masuk bertubi-tubi. Ponsel yang masih berada didalam genggamannya. Dengan hati-hati ia membuka kunci layar dan disana tertera nama 'Leo'. Rasa penasaran Tama selama beberapa hari ini, t7idak bisa ia tahan lagi. Ia penasaran, siapa sih yang membuat Nabila akhir-akhir ini sering menunduk terus-terusan menatap layar ponsel?


Oke mungkin sekarang saatnya ia tahu, dan saat ini ia sudah punya hak untuk tahu kan? Nabila sudah jadi calon istrinya, meski belum resmi. Secara tiba-tiba, Tama merampas ponsel Nabila.


"Tama!!" Tentu saja Nabila kaget kini ponselnya berpindah ke tangan Tama.


"Leo? ini?" Tama melihat foto profil pemilik nama Leo tersebut. "Mas Leo?" ucapnya sekali lagi.


"Dia Leo Mardinata kan?" Tama menahan emosinya, sebelum bertanya lagi pada Nabila.


Deg


Deg


Jantung Nabila berdegup kencang, apa Tama mengenal Leo? Kenapa bisa mengetahui nama lengkap lelaki itu. "Ka-kamu kenal dia?" tanya Nabila hati-hati, sementara Tama masih fokus pada ponsel yang berada di tangannya, membaca semua isi percakapan antara Leo dan Nabila.


"Dia sepupu aku, sejak kapan kamu kenal dia dan dimana?" Nadanya ketus, tanpa menoleh ke Nabila, ia masih terus membaca isi percakapan mereka.


"Tama, kamu jangan salah paham. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, waktu itu kebetulan dia nemuin Kartu Advokatku yang jatuh di ATM. sekitar sebulan lalu, waktu kita ketemu Citra." Nabila menjelaskan panjang lebar.


"Shit !! Dasar Mas Leo nggak tau diri!!" umpatnya kesal setelah membaca semua isi percakapan mereka, Tama paham sekali semua yang Leo katakan dalam chat itu adalah menjurus untuk mendekati Nabila.


Mengetahui Tama sedang sangat marah, Nabila ketakutan, telapak tangannya dingin, perlahan ia mengusap kedua tangannya pada rok yang ia kenakan. "Kenapa? eh kamu jangan salah paham dulu, jangan marah. Aku baru sekali ketemu dia waktu ngambil kartu itu, Tama." Nabila mencoba menenangkan Tama, mengumpulkan keberanian untuk mengambil tangan kiri lelaki itu.


"Dasar bujang lapuk nggak tau diri, sialan!! Aku tau orang tuanya udah maksa banget dia nikah, umurnya juga udah tiga puluhan, tapi Kenapa harus kamu Nabila, yang jadi tagetnya?" masih saja mengumpat kesal, tapi untunglah di dalam percakapan itu Nabila hanya merespon biasa saja. Dan untung saja Tama cepat mengambil tindakan segera melamar Nabila, mungkin kalau terlambat sedikit, bisa saja Nabila berpaling, kan? pikirnya.


"Dia sepupu kamu?" tanya Nabila sekali lagi.


"Iya." jawab Tama singkat.


"Iya, aku bakal bilang ke dia untuk nggak ganggu aku lagi," Nabila tak menyangka kenapa dunia ini begitu sempit. Siapa juga yang tau kalau mereka sepupuan?


"Dan kamu, ngaku single waktu kenalan sama dia?" pertanyaan Tama begitu menyudutkan hingga akhirnya Nabila mengangguk sebagai jawaban.


"Bagus!! berarti kamu ngasih kesempatan ke dia."


"Tapi waktu itu kita emang udah putus kan, dan aku sakit hati ngeliat foto kamu ciu--"


"Cukup Nabila, jangan dibahas lagi. Dan aku mohon sama kamu, jangan berpaling ke dia karena dia lebih mapan dari aku." Nada bicara Tama mulai pelan seolah memohon.


"Nggak mungkinlah Tama, aku cuma cinta sama kamu kok." mendengar pengakuan Nabila, senyum lebar terukir diwajahnya. "Makasih," ucap Tama, kini ia yakin bahwa Nabila tidak mungkin berpaling.


Sebelum mengembalikan ponsel Nabila, ia tatap layar ponsel itu sekali lagi, tak lama kemudian Leo kembali mengirim chat berisikan


Besok siang, kalau kamu kosong, kita makan bareng yuk? tempat kamu aja yang nentuin.


Tama mengernyitkan dahinya kala membaca chat itu, ingin sekali ia mengumpat sekali lagi. "Kenapa lagi?" tanya Nabila kala melihat ekspresi wajahnya kembali berubah.


"Nih kamu liat," menampilkan layar ponsel itu dihadapan Nabila. "Sini, biar aku balas aku mau ngasih tau baik-baik ke dia," bukannya memberikan ponsel kepada Nabila, Tama malah mengambil tindakan sendiri.


Oke Mas Leo, kamu aja yang nentuin tempatnya. Aku tunggu besok.


"Tama, kenapa kamu yang balas? kenapa juga di iyakan ajakannya?" Nabila berdecak kesal, "Biarin, sengaja. Biar dia tau kalau target dia itu calon istri aku, besok kita pergi bareng buat ketemu dia." Ucap Tama tersenyum miring, kemudian melajukan mobilnya.


"Kamu jangan konyol ya, aku nggak mau kalau kamu sampe baku hantam sama dia besok!!" Nabila memegang keningya sendiri. Kenapa bisa jadi begini.


Tama terkekeh pelan, "Kamu tenang aja, nggak bakalan ada adegan film action kok, kamu kira aku anak abege yang suka main kekerasan?"


"Ya mana aku tahu, emosi kamu kan masih labil." Jawab Nabila jutek, entahlah apa yang terjadi besok, terserah mereka berdua aja.


"Jangan cemberut gitu, tenang aja kamu. Sekalian aku mau ketemu dia, meskipun kami tinggal di kota yang sama, tapi ketemu paling setaun sekali doang. Aku nggak bisa bayangin gimana sedihnya dia waktu tau kalau ternyata tergetnya adalah calon istri sepupunya sendiri," Tama tersenyum, ada kebanggaan tersendiri dalam dirinya, merasa menang.


-------------


Author makin rajin nih upnya 😂😂😂