
Hai, author lagi rajin nih up di novel ini. Semoga terhibur ya ❤
***
Dua bulan berlalu...
Tama dan Nabila sudah mendapatkan restu dari orang tua mereka, Pak Johnatan pun turut berbahagia akhirnya keponakannya akan segera menikah dengan orang yang tepat menurutnya. Siapa sangka setelah bertemu kembali waktu itu membuat cinta bersemi diantara mereka. Tentu saja Pak Johnatan banyak berperan dalam penyatuan cinta mereka, jika tidak keseringan bersama karena tugas, mungkin Tama akan sulit mendapatkan cinta Nabila.
Hari ini, mereka akan fiting baju untuk akad nikah dan resepsi. Sudah tiga hari berturut-turut, mereka mengambil cuti dan izin dari kantor, selama tiga hari itu mereka gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka. Selain fiting baju, hari ini mereka juga akan menghitung dan mempersiapkan nama-nama yang akan menjadi tamu undangan mereka.
Mereka sudah sampai di salah satu butik gaun pengantin ternama di kota Jogjakarta, Tama sudah berjanji pada Nabila bahwa akan memberi kebebasan pada calon istrinya untuk memilih gaun yang ia sukai. Nabila masuk ke dalam ruang ganti, membawa beberapa gaun yang sudah ia pilih dan dibantu dengan dua orang pegawai butik.
Sementara Tama tengah duduk di sofa menunggu Nabila sambil memainkan ponselnya membuka semua group chat yang ada pada Whatsapp. Memilah nama-nama yang akan masuk ke dalam list undangannya.
"Cantik Mbak," tutur salah satu pegawai butik saat Nabila sudah mengenakan salah satu gaun pilihannya. Wanita itu membantu Nabila menaikkan resleting yang berada di bagian belakang gaun, Nabila menggulung dan mengikat tinggi rambutnya agar memudahkan.
"Iya, coba deh Mbak perlihatkan sama calon suaminya," sahut pegawai yang satunya.
Sementara Nabila masih menatap dirinya di pantulan cermin. Tak percaya jika dirinya akan secantik ini dengan gaun pengantin, rasa bahagia bercampur haru menyelimuti hatinya. Akhirnya impiannya selama ini untuk menikah akan segera terwujud, walau hingga saat ini Nabila masih tidak menyangka ternyata Tama yang dulu ia benci akan menjadi suaminya.
Jika saja saat ini tidak ada dua pegawai butik yang sedang mendampinginya, mungkin air mata yang tertahan itu sudah ia tumpahkan. Saat pegawai butik hendak membuka tirai untuk memperlihatkan pada lelaki yang sedang menunggunya, "Mbak, jangan dibuka!" titahnya, ia masih belum terlalu percaya diri jika Tama melihat penampilannya sekarang.
"Loh, kenapa? biar Masnya bisa ngasih pendapat Mbak, ini kan harus atas kesepakatan bersama." mendengar itu, Nabila kemudian mengangguk.
Beberapa detik kemudian, tirai terbuka. Tama yang tengah asyik dengan ponselnya langsung menoleh, menatap Nabila tanpa kedip, bersusah payah menelan salivanya. Nabila bak bidadari dimatanya, kecantikannya bertambah seratus persen. terlebih gaun itu terbuka dibagian pundak dan leher, memperlihatkan leher jenjang Nabila.
Perlahan, Nabila berjalan ke arah Tama. "Gi-gimana menurut kamu?" Tama mengerjapkan matanya berkali-kali. "Cantik, sayang." ucapnya dengan penuh damba. Ia harus bersabar, selangkah lagi hanya tinggal beberapa minggu lagi wanita cantik ini akan menjadi istrinya yang setelahnya akan bebas ia perlakukan seperti apa.
"Jadi, yang ini oke?" tanya Nabila sekali lagi. Tama bangkit dari sofa mendekati calon istrinya, meraih pinggang Nabila "Kamu mau gimana pun tetap cantik," bisiknya di telinga Nabila, membuatnya terdiam terpaku tak bisa berkata apa-apa.
Semakin hari lelaki ini semakin romantis saja. "Tama, jangan gini, malu... kamu lupa ada orang selain kita?" bisik Nabila pelan. Tama hanya menampilkan senyumnya, kemudian mengambil langkah mundur, mengelus pelipisnya agar menyadarkan dirinya yang hampir khilaf.
Sabar, sebentar lagi. Tama menguatkan dirinya sendiri. Mungkin jika tidak ada orang lain selain mereka, sudah bisa dipastikan ia akan mencium gemas bibir Nabila. Bagaimana tidak, Nabila sudah membuat dirinya tergila-gila.
Dua pegawai butik saling bertatapan, jelas mereka iri dengan adegan romantis di hadapan mereka saat ini.
"Ehm, sekarang giliran kamu yang pilih jasnya, ya?" ucap Nabila, Tama mengangguk dan mulai mengikuti arahan pegawai butik untuk memilih beberapa jas.
"Heboh pasti, anak-anak alumni bakalan heboh dengar kabar ini Nabila. Akhirnya perjuangan cinta Tama nggak sia-sia ya, akhirnya Nabila jatuh juga ke pelukan Tama. Udah pasti mereka bakalan bilang gitu." adalah ocehan Tama dengan penuh rasa bangga, ia mengingat bagaimana dulu ia di bully habis-habisan oleh beberapa teman angkatannya karena tergila-gila pada seniornya ini.
Nabila memukul tangan Tama, "Kamu ngoceh terus dari tadi sayang, ia aku tau kamu bangga banget kan dapetin aku?" Nabila terkekeh setelah mengucapkan itu.
"Iya dong," jawabnya kemudian menyeruput kopi dihadapannya.
"Ya udah dilanjut, selain anak-anak kampus, dan teman-teman sekolah kamu, ada lagi?" tanya Nabila.
"Sebentar, ini siapa sayang? Dimas mantan kamu yang nggak tau diri itu? kenapa dia masuk dalam list undangan kamu? aku nggak setuju!"
"Iya, aku sengaja ngundang dia supaya dia tau kalau aku udah nikah, nggak boleh?"
"Terserah kamu," hanya dua kata, tapi penuh makna, hingga membuat Nabila berpikir dua kali untuk tetap mengundang lelaki bernama Dimas itu.
"Sayang, maaf aku mau nanya, boleh?" Tama ingin menanyakan sesuatu yang penting menurutnya.
"Iya boleh, kamu mau nanya apa?" Nabila masih menunduk, sibuk dengan tablet yang berada ditangannya.
"Kamu serius nggak akan melibatkan papa kamu dalam pernikahan kita?" Nabila menoleh, "Aku nggak butuh dia, sayang. Lagian aku juga udah nggak dianggap lagi, kok. Dia udah punya keluarga baru dan bahagia." Lidah Nabila terlalu berat untuk mengucapkan itu.
"Tapi bagaimanapun beliau ayah kandung kamu sayang, dia berhak tau kalau putri pertamanya akan menikah."
"Tapi aku nggak mau dia tau, aku udah terlanjur sakit hati," Nabila kembali menunduk, wajahnya berubah sendu. Bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya mengingat masa lalu pahit itu.
"Ya udah sayang, itu hak kamu, senyum lagi dong." Tama merasa bersalah karena topik pembicaraan itu membuat ekspresi wajah Nabila berubah drastis.
"Citra bakalan kamu undang nggak?"
"Apa, Citra?" Nabila mengangguk, menaikkan alisnya.
"Aku sih nggak, tapi mungkin Mama yang bakalan ngundang, Mama dan Mamanya Citra kan teman dekat." Tama berkata jujur, tapi ia tetap berharap semoga wanita itu tidak akan hadir di hari bahagia mereka nanti.
---------------
Para pembaca yang baik hati, jangan lupa tinggalin jejaknya ya, hehe 😄 biar agak rame gitu novel yang ini.