
Flash back satu hari sebelumnya.
Tama sudah menceritakan semua hal yang berkaitan dengan hubungan percintaannya yang rumit bersama Nabila kepada sang Mama. Awalnya Bu Irina sama sekali tidak peduli, karena menurutnya wajar jika Nabila marah saat mengetahui Tama sudah berciuman dengan perempuan lain.
"Makanya kamu tuh, jaga hati dan mata kamu dong. Ini juga nggak bisa dijaga, bisanya main nyosor aja!!" Sambil menunjuk ke arah bibir putranya.
"Aku khilaf Ma," dengan entengnya ia menjawab seperti itu, membuat Bu Irin menggeleng pelan, tak habis pikir.
"Terus kalau waktu itu nggak kepergok sama kami berdua, kamu mau ngelanjutin lebih dari itu? gitu? eleh dasar playboy." cerocos Bu Irin yang masih kesal jika mengingat tingkah Tama.
"Ma, bisa nggak sih nggak usah bahas itu lagi? itu masa lalu, dan sekarang aku mau bahas masa depan aku, Ma."
"Ya udah, terus sekarang kamu maunya gimana?"
"Ini tanda keseriusan aku sama Nabila, Ma." Bu Irin meraih apa yang ada di tangan kanan Tama, box berisikan cincin. Sederhana memang tapi sangat cantik. "Hem, bagus juga selera kamu." sedari tadi, memasang wajah yang tidak ramah, baru inilah Bu Irin tersenyum dihadapan Tama, pertanda setuju.
"Jadi Mama setuju kan?" ia pun tak bisa menyembunyikan wajah sumringahnya.
"Jangan senang dulu kamu, Mama sih setuju, tapi tanya Papa dulu gih." Tama segera bangkit dari sofa,
"Tapi kalau sampai Papa nggak setuju kira-kira alasannya apa Ma?"
"Ya mana Mama tau, temui Papa kamu sekarang!" titah sang Bu Irin, sebenarnya ia hanya ingin menguji Tama, menguji keberaniannya berbicara serius soal wanita dihadapan sang Papa. Tama yang selama ini sering berselisih paham dengan Papa, apakah bisa berbicara serius dengan mengambil hatinya?
Dengan langkah gontai dan berat, ia berjalan menuju ruang kebesaran Pak Darwin yang berada dirumah itu. Mengetuk pintu terlebih dahulu secara hati-hati. "Masuk, sayang! ngapain ketuk pintu segala." Terdengar suara dari dalam, sungguh Pak Darwin mengira itu adalah istrinya.
Perlahan, Tama membuka pintu dan membuat Pak Darwin terbelalak melihat siapa yang berada di ambang pintu, "Kamu? Kirain Mama." sambil membuka kacamata bacanya
"Boleh masuk, Pa?" bertanya dengan hati-hati, ia melangkah masuk kedalam ruangan yang tak pernah ia singgahi sebelumnya. Betapa takjupnya Tama menatap sekeliling ruangan itu terpajang begitu banyak bingkai foto mulai dari foto pernikahan Papa dan Mama sekitar dua puluh tujuh tahun silam, foto Papa wisuda Sarjana hingga Magister, dimana dalam foto itu Mama tak pernah absen mendampingi. Lalu pandangannya teralihkan pada foto kecil dirinya, hingga wisuda. Sepertinya Papa sangat bangga dengan Tama karena berhasil menjadi seorang Sarjana Hukum, sama seperti dirinya.
"Ehem, ada apa kamu mencari Papa?" berdehem karena Tama bengong sejak melangkah masuk keruangan ini.
"Pa, aku... mau bicara serius," Tama duduk di sofa yang ada diruangan itu. Sementara Pak Darwin masih bertahan dikursinya dibalik meja kerjanya, pandangannya lurus kepada Tama. Tak pernah ia melihat putra satu-satunya bersikap seperti ini.
"Soal apa?" barulah lelaki tu bangkit kemudian berpindah duduk tepat dihadapan putranya.
"Aku mau nikahin Nabila, apa Papa setuju?" ia bertanya dengan hati-hati.
"Apa? nikah?" balik bertanya dengan nada serius.
"I-iya Pa."
"Setelah menikah, gimana cara kamu menghidupi keluargamu nanti? kamu kan masih Pengacara magang, emanganya gaji kamu cukup?" Tama tercengang memdengar itu, jadi Papa sama sekali tidak akan mendukungnya lagi soal finansial? jadi ia benar-benar harus mencari nafkah sendiri saat ini, lantas untuk apa harta yang Papa miliki begitu banyak kalau bukan untuknya?
Tidak bisa menjawab, ia hanya terdiam ditempatnya. "Kalau Nabila bersedia dengan penghasilan kamu yang pas-pasan ya nggak masalah." Lanjut Pak Darwin.
Tama masih tak bisa mengucapkan apa-apa. Ternyata Papa tega sekali kepadanya, dan sekarang ia berpikir apa mungkin Nabila mau hidup susah? di saat fasilitasnya dibatasi oleh Papanya. Walau Tama paham bahwa Nabila adalah perempuan yang sederhana, tidak banyak menuntut. Tapi laki-laki mana sih yang tak ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya kelak?
"Mama?" tak percaya sekarang sang Mama terlihat sedang membelanya. Ternyata sedari tadi ia menguping pembicaraan antara anak dan ayah itu.
"Papa nggak ngelarang Tama nikah Ma. Cuma mengingatkan, dan kalau Nabila bersedia, ya nggak masalah, silahkan, Papa setuju aja."
"Terus ini harta sebanyak ini, mau Papa kasih ke siapa kalau bukan Tama?" Lanjut Bu Irin.
Tidak menjawab, Pak Darwin hanya mengangkat kedua bahunya. Sudah ia duga pasti akan seperti ini, istrinya selalu saja membela Tama. Itulah yang sedari dulu sejak masa remaja membuat Tama membangkang, selalu saja dibela dan dibenarkan.
"Udah cukup, Ma, Pa. Aku keluar," tersenyum, Tama yang sekarang bukanlah dirinya yang dulu. Jika dulu ia selalu bangga saat Mama membelanya, tapi sekarang tidak. Benar memang yang di katakan oleh Papa, dia harus jadi laki-laki sejati yang bertanggung jawab. Dan harapannya sekarang adalah Nabila yang mau menerimanya apa adanya.
"Mama selalu saja belain dia, gimana dia nggak besar kepala!" setelah Tama keluar, pasangan suami istri itu melanjutkan perdebatannya.
"Tapi Pa kita harus dukung niat baik anak kita."
"Siapa bilang Papa nggak dukung? dukung banget malah, kalau aja dia mau nurut sama Papa dari dulu, nggak bakalan begini Ma. Ngapain juga dia harus susah payah magang dan bekerja di firma hukum lain, bukannya membantu Papa." Bu Irin memejamkan matanya, menyadari setiap kalimat yang diucapkan suaminya adalah benar. Waktu itu Tama sangat keras kepala, bersikeras untuk memulai karirnya di tempat lain.
Flashback off
---------------
"Tama, aku...," sebelum berucap, sekali lagi Nabila memantapkan hatinya
Nabila please jangan tolak aku. Ada yang sedang gelisah menunggu jawaban.
"Aku mau, dengan satu syarat." tercengang mendengar jawaban Nabila.
"Sebutkan!" titahnya dengan semangat.
"Jangan pernah kamu permainkan pernikahan, kamu tau kan angka perceraian pada pasangan muda meningkat karena perselingkuhan?" jelas Nabila.
"Aku, nggak mungkin aku begitu Nab--"
"Nggak ada yang nggak mungkin Tama. Kita masih muda, dan kamu lebih muda dari aku. Bisa aja itu terjadi." Nabila kali ini benar-benar pesimis, karena pengalaman pahit yang ia ambil dari Papanya yang berselingkuh, membina rumah tangga dengan wanita lain. Lalu meninggalkan keluarganya begitu saja.
Nabila hampir menangis saat mengatakan itu, "Aku nggak seperti yang kamu pikirkan, Nabila." Tama meraih tangannya, kemudian mengusapnya pelan.
"Aku belum pernah cerita ke kamu ya, tentang hancurnya keluarga aku?" tanya Nabila. Tama mengangguk. "Walaupum aku penasaran, tapi aku nggak bertanya apapun, karena aku menghargai perasaan kamu." ucapnya, menatap lekat pada Nabila yang kini sedang menunduk.
"Kayaknya nggak sekarang ya, kita harus balik ke kantor." Nabila menahan air yang akan keluar dari sudut matanya, antara haru dan sedih karena mengingat masa lalunya yang pahit.
"Iya, aku siap dengar cerita kamu kapan aja. jadi aku diterima nggak?" Nabila mengangguk pelan lalu tersenyum, "Makasih sayang." setelah satu bulan lamanya, akhirnya Tama memberanikan mengucapkan kata 'sayang' itu lagi kepada Nabila.
----------------
Lamaran diterima, akankah hubungan mereka berjalan mulus? 😌