My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Butuh Kopi



Nabila sudah bersiap rapi dan cantik dengan mengenakan dress selutut, legan sesiku. Dress berwarna biru dongker itu terlihat sangat anggun pada tubuhnya. Ia keluar kamar, tak lupa membawa tas jinjingnya, berjalan menuju ruang keluarga. Ia duduk disana dan meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya.


Tiga kali panggilan, Tama tak juga menjawab. Hingga akhirnya ia hanya mengabari melalui pesan singkat bahwa ia akan pergi bersama Mama Irina.


Ingin sekali Nabila membanting ponselnya saat ini, padahal ini kan sudah hampir jam istirahat, mengapa lelaki itu hanya menerima panggilannya saja tidak bisa?


"Ayo sayang, kamu yang nyetir atau kita ajak Pak Didit?" Bu Irina juga sudah siap, tak kalah cantik dengan dirinya. Terpancar style ala ibu-ibu sosialita, tas branded, perhiasan mewah, cincin berlian, semuanya ia kenakan hari ini.


Saat melihat penampilan mertuanya, Nabila berpikir sejenak, sepertinya bukan hanya acara arisan keluarga. Tapi mungkin akan ada ajang pamer disana. Itu sudah pasti.


"Nabila aja yang nyetir, Ma. Tapi... naik mobil Nabila nggak apa-apa kan?" tanya Nabila hati-hati.


"Emang kenapa? mobil kamu, sehat kan?" Bu Irina berkerut kening.


"Sehat sih Ma, tapi... Mama nggak malu kan? soalnya mobil Nabila bukan mobil mewah." Nabila tertawa kecil setelah mengatakan itu.


Bu Irina menggeleng pelan, "Nggak apa-apa kok sayang... nggak masalah buat Mama, yuk kita jalan sekarang?" Nabila mengangguk mengiyakan.


-------------------


Didalam perjalanan, Nabila fokus menyetir meski sesekali pikirannya tertuju pada Tama. Hatinya begitu sakit diperlakukan seperti ini.


Hiruk pikuk jalanan siang hari yang padat, ia lalui dengan pikiran yang tidak tenang.


"Nabila..."


"Sayang?" Bu Irina mengusap lengannya dan menyadarkan lamunannya.


"Eh iya Ma, kenapa?"


"Harusnya Mama yang nanya, kamu kenapa?" Bu Irina menyadari sedari tadi menantunya itu tidak banyak bicara seperti biasa.


"Nggak apa-apa kok Ma," Nabila menoleh sedikit dan tersenyum.


"Oh iya, haid kamu gimana? udah lancar?"


"Belum Ma, ya... masih telat-telat gitu." Nabila menjawab sambil menampilkan cengirnya.


"Ya udah nggak apa-apa, yang penting kamu jangan stres dan tetap jaga pola makan sesuai anjuran Dokter, ya?"


Nabila mengangguk sebagai jawaban.


Anak Mama tuh yang bikin aku stress. Sayangnya Nabila hanya mampu mengucapkan itu didalam hatinya.


Benar saja, Nabila terbebas dari beban pekerjaannya selama ia mengambil cuti dua bulan ini, namun tetap saja pikirannya tak bisa tenang dan rileks mengingat sikap suaminya akhir-akhir ini.


Tanpa terasa, mereka sudah tiba disebuah restoran mewah dikota mereka. Setelah turun dari mobil, Nabila berjalan tepat dibelakang mertuanya, ia celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Dan kemudian matanya tertuju pada sosok yang ia kenal. Namun ia langsung mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak melihat.


Restoran yang sudah di booking khusus untuk acara arisan keluarga itu kini benar-benar penuh, tak hanya ada orang-orang tua tapi juga ada muda-mudi, yang Nabila tak kenal sama sekali. Hanya ada beberapa orang yang ia ingat itupun karena menghadiri resepsi pernikahannya waktu itu.


Duduk disalah satu kursi yang sudah disediakan, Nabila duduk tepat disamping mertuanya.


"Nabila kenalin, ini Bude Morin, Mbaknya Mama," Bu Irin memperkenalkan menantunya satu persatu kepada keluargnya. Di meja itu ada beberapa Ibu-Ibu lain yaitu para sepupu dari Bu Irina.


Nabila pun menyalami satu persatu para perempuan-perempuan yang berpenampilan sosialita itu.


"Hai menantu nggak jadi," Bude Morin tertawa setelah mengatakan itu. Nabila hanya tersenyum kecut.


"Apa sih Mbak," sahut Bu Irin.


Bude Morin adalah mamanya Leo, laki-laki yang sempat naksir dan menaruh hati pada Nabila. Namun saat itu setelah tau bahwa Nabila adalah calon istri sepupunya sendiri, ia langsung mundur.


"Sebentar ya sayang, Mama ke meja sebelah dulu." Bu Irin berbisik pada Nabila. "Iya, Ma."


Nabila yang merasa asing dengan lingkungan dan kegiatan seperti ini, hanya bisa berdiam diri, kembali ia lihat ponselnya namun tak juga ada notifikasi balasan dari Tama.


"Cantik ya menantu si Irin," ucap salah seorang Ibu-Ibu di meja itu. Nabila hanya tersenyum saja.


"Iya nih, eh... gimana? udah isi belum? udah lumayan lama kan ya nikahnya?"


"Hehe, belum tante." hati Nabila saat ini terasa dicabik-cabik. Ia sudah menduga pasti akan ada pembahasan seperti ini.


Obrolan perihal anak terus berlanjut hingga kemana-mana. Saat ini, Nabila hanya bisa menjadi pendengar baik meski ia merasa tersudut bahkan salah satu dari mereka menyarakan Nabila untuk mengizinkan Tama menikah lagi karena menurut mereka, Bu Irina sudah sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Mendengar itu, Nabila hanya bisa merespon dengan senyum tipis dan terpaksa. Saran gila macam apa itu? pikirnya. Menghadiri arisan keluarga seperti ini, ia pikir akan menyegarkan pikirannya tapi ternyata sebaliknya.


Hingga Nabila memilih pergi dari meja itu dengan alasan harus menerima panggilan telepon. Ia pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Kembali, air matanya menetes. Namun ia bisa menahan, Nabila yang belum menyelesaikan makan siangnya tak memilih kembali ke meja, ia keluar dari restoran dan berdiri sebentar di area parkir. Kemudian matanya tertuju pada sebuah coffe shop yang terletak diseberang jalan. Sepertinya ia bisa menenangkan pikiran sebentar, disana. Tak lupa ia memberitahu pada mertuanya melalui pesan singkat.


Nabila berdiri dipinggir jalan untuk menyebrang, tiba-tiba disamping nya berdiri sosok laki-laki yang tentu postur tubuhnya lebih tinggi darinya. Sepertinya lelaki itu sedari tadi memang memperhatikan gerak gerik Nabila, hingga bisa mengikutinya sampai disini.


"Mau kedepan ya? yuk bareng," ajak lelaki itu. Nabila hanya melirik sekilas, belum menjawab.


"Aku butuh kopi, kayaknya kamu juga ya?" lanjut lelaki itu sambil melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan tak ada kendaraan yang akan melintas.


Sementara Nabila masih berpikir, harus ikut ajakan itu atau menghindar?


---------------


Author udah usahakan up setiap hari, jadi jangan lupa dukungannya ya. Like dan koment biar rame.


Sabar ya Nabila, kadang hidup memang tak adil 😳