
Jam menunjukkan pukul 17.00, Nabila masih bermalas-malasan di tempat tidur, sambil memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan pada Tama.
Kira-kira dia mau apa ya? Apa yang akan direncanakan nya? Aku tahu dia masih sangat berharap aku membalas cintanya. Kalau terus-terusan seperti ini, bisa-bisa aku luluh dengan sikapnya. Tapi aku terlalu takut untuk memulai, Oh Tuhan aku harus bagaimana?
Itulah yang ada di dalam benak Nabila, kemudian hatinya tergerak untuk menjawab chat dari Tama.
Oke.
Melihat jawaban Nabila yang begitu singkat, Tama tertawa geli. "Emang ya dasar si jutek, enggak pernah berubah," Ucapnya.
***
Kemudian mereka pun bersiap-siap, sebenarnya Nabila begitu gugup, namun hatinya seperti di tumbuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Nabila, kamu nggak boleh terkecoh dengan sikap manisnya. Dia itu playboy, ingat Nabila udah berapa banyak wanita yang pernah dekat dengannya, bahkan mungkin ia juga udah pernah tidur dengan wanita-wanita itu?
Nabila terus mencoba mengingat-ingat segala keburukan Tama yang ia ketahui, agar ia tidak terpancing dengan segala sikap manis Tama.
Nabila selalu menutup hatinya untuk laki-laki, karena rasa sakit hatinya terhadap Papanya yang meninggalkan keluarga demi selingkuhannya, dan kini Papanya sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya, sementara Nabila harus bekerja keras untuk membiayai hidup Mamanya dan adiknya.
Ditambah lagi Nabila yang hampir melangsungkan pernikahan dengan 'suami orang' yang ingin menjadikannya istri kedua, sejak itu ia semakin tertutup hatinya untuk memulai sebuah hubungan baru, bisa dikatakan Nabila trauma dengan yang namanya cinta-cintaan.
Nabila memilih pakaian yang pantas ia pakai untuk dinner malam ini.
"Kenapa nggak ada yang cocok sih," Ucapnya kesal.
Kemudian Nabila bergegas mandi, selama 15 menit, dan mengenakan celana jeans putih dan kemeja longgar, karena itulah setelan yang paling cocok menurutnya,
"Daripada harus pakai setelan kerja, ini lebih pantas," ucapnya sambil bercermin.
Sudah hampir jam 7 malam, Nabila hampir selesai hanya tinggal memoles sedikit lipstik, dan blush on perona pipi yang biasa ia pakai sehari-hari dan membiarkan rambut panjangnya terurai, tanpa menguncirnya seperti yang ia lakukan saat bekerja.
"Ih, kayaknya kebanyakan deh," Kemudian menutupi lagi dengan bedak.
"Nah, pas" Ucapnya tersenyum.
Tepat jam 7, Tama sudah menunggunya di depan pintu kamar. Nabila pun melirik ke arah jam tangannya, kemudian berjalan menuju pintu kamar. Saat membuka pintu, Nabila tidak menyangka jika Tama sudah berdiri di hadapannya. Membuat jantungnya berdegup tak karuan.
"Ayo," Ucap Tama.
Kemudian mereka berjalan beriringan menuju lift.
"Kita mau kemana?"
"Mau makan malam,"
"Iya tahu, tapi kemana?"
"Sstt" Tama meletakkan jari telunjuknya di bibir Nabila, kemudian Nabila langsung menepisnya.
Hal yang paling Nabila resahkan adalah saat berduaan bersama Tama di dalam lift. Nabila berharap saat itu ada orang lain yang turun bersama mereka.
Setelah keluar dari lift mereka berjalan menuju pintu utama hotel,
"Lihat deh, mereka itu serasi banget ya, aku kira suami istri loh ternyata bukan," Ucap seorang resepsionis hotel yang pernah melayani mereka saat Check in.
"Iya ya, tapi sepertinya mereka cuma rekan kerja," Jawab rekannya.
"Tapi bisa saja mereka pasangan kekasih kan?"
"Enggak mungkin, soalnya nggak sekamar, jaman sekarang kalau pasangan kekasih walau belum halal, pasti mereka pesan cuma satu kamar doang, udah biasalah seperti itu,"
"Iya juga sih, ah udah ngapain kita nggosipin orang,"
***
Kemudian selama dalam perjalanan, Nabila hanya berdiam diri, tidak banyak bertanya lagi pada Tama.
Terserah dia aja lah mau kemana.
Setelah kurang lebih setengah jam, mereka tiba di sebuah tempat dengan gemerlap lampu yang membuat resto tersebut semakin romantis.
Nabila melihat sekeliling, ada beberapa pasangan yang sedang berbincang dan menikmati makanan mereka.
Apa? Kenapa dia ajak aku ke tempat seperti ini? .
"Ayo duduk," Nabila pun hanya mengikuti apa yang diucapkan Tama.
"Sebentar ya," Kemudian Tama meninggalkan Nabila selama kurang lebih 5 menit.
Jari-jari Nabila mengetuk pelan meja yang ada dihadapannya, untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Ya ampun Nabila, santai aja kenapa sih, kenapa bisa tegang seperti ini, lebih gugup dari pada sidang ujian tesis waktu itu. Kamu nggak lagi menghadapi Hakim, Jaksa seperti di persidangan Nab, yang kamu hadapi cuma Tama, asistenmu sendiri.
Nabila terus menenangkan dirinya yang sejak tadi tak karuan. Kemudian Nabila membulatkan matanya saat melihat Tama kembali dengan sebuah buket bunga yang ada di tangannya.
"Selamat ulang Tahun Nabila, aku mohon kali ini biarkan aku mencoba memasuki hatimu yang selalu tertutup, aku janji nggak akan pernah mengecewakan dan menyakitimu seperti yang kamu takutkan,"
Mendengar ungkapan cinta dari Tama, Nabila menghela nafas panjang, ternyata benar dugaannya hal ini pasti terjadi. Walau ini bukan kali pertama Tama menyatakan cintanya, tapi hari ini sangatlah berbeda menurutnya.
Kemudian Nabila mengambil buket bunga dari tangan Tama.
"Terimakasih Tam, aku akan memikirkannya," Ucal Nabila seraya tersenyum.
"Jangan lama-lama mikirnya ya," Ucap Tama kemudian duduk dihadapan Nabila.
"Eh tapi, kamu lupa ya kalau aku ini istri orang?" Nabila mencoba memancing Tama lagi, apakah Tama benar-benar sudah mengetahui kalau sebenarnya ia belum menikah.
"Udah lah Nab, berhenti bersandiwara, aku udah tahu semuanya, bahkan alasan pernikahanmu gagal aku juga sudah tahu," Jelas Tama, Nabila hanya bengong dan berfikir.
Darimana dia tahu?
"Kok bisa?" Nabila penasaran.
"Om John yang cerita semuanya," Tama menjawab jujur.
Sudah kuduga.
"Nabila, aku tahu kamu terlalu takut untuk memulai lagi sebuah ikatan, tapi aku mohon beri aku kesempatan sekali saja, setelah kamu mencobanya maka kamu akan mengetahuinya," Mencoba menggenggam tangan Nabila.
"Jadi maksud kamu, hubungan kita ini cuma coba-coba?" Jawab Nabila sambil menyibakkan rambutnya dari depan ke belakang.
"Bukan begitu, kita jalani saja dulu ya, sayang." Tama memberanikan diri dengan segala ucapannya.
"Sayang?" Nabila tak percaya dengan kata terakhir yang diucapkan Tama.
"Pokoknya hari ini kita jadian," Tama kehabisan kata-kata untuk meluluhkan hati Nabila.
"Hahaha, kok kamu maksa sih, kamu lupa aku ini atasan kamu? beraninya kamu ya." Nabila tertawa mendengar kalimat Tama yang terkesan memaksa.
"Ini bukan soal pekerjaan tapi soal hati dan masa depan, jadi kamu sekarang bukan atasanku," Sambil mencengkram erat tangan Nabila.
"Aduh, sakit."
"Maaf," Tama melepas cengkramannya.
"Oke baiklah, tapi ada satu syarat" Nabila mengiyakan namun tidak mau menerima mentah-mentah tawaran Tama.
"Sebutkan, jangankan satu, sepuluh juga bakal aku penuhi," Ucap Tama dengan percaya diri seakan-akan mampu memenuhi semua syarat yang akan diberikan Nabila.
"Berhenti berurusan dengan banyak wanita seperti yang kamu lakukan dulu, saat kuliah, entah berapa wanita yang sudah keluar masuk dari mobil mu itu," Jawab Nabila ketus.
"Hahaha, jadi dulu kamu selalu memantauku ya?" Tama malah tertawa.
"Jangan banyak tanya, kalau kira-kira nggak bisa, lupain aja," Nabila memalingkan wajahnya kearah lain.
"Itu terlalu gampang sayang, kamu mau tau kenapa banyak wanita yang keluar masuk mobil ku waktu itu? Aku hanya nggak enak kalau menolak mereka untuk mengantar pulang. Mereka itu cuma teman-temanku. Dan lagi mereka yang membantuku menyelesaikan tugas-tugas yang begitu banyak, jadi apa salahnya kalau aku mengantar mereka pulang, hanya itu."
Tama terus memanggil Nabila dengan ucapan sayang dan sayang, serta menjelaskan panjang lebar tentang masa lalu yang membuat Nabila ragu untuk menerimannya.
"Baiklah, tapi sekali aja kamu ketahuan dekat dengan wanita lain, cukup sudah," Kali ini Nabila benar-benar menerima Tama namun dengan ancaman.
"Iya sayang," Tersenyum semanins mungkin ke Nabila.
Tanpa terasa sudah tiga puluh menit berlalu, kemudian pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Ayo makan dulu, nanti kita sambung lagi" Ucap Tama.
Nabila masih saja cuek, hanya melirik sedikit ke arah Tama.