
Lanjut yah 😊😊😊
***
"Assalamualaikum, selamat malam," Ucap Tama.
"Wa..alaikum..salam," Jawab Nayla.
"Nabila nya ada?"
"Oh, ada. sebentar Mas, silahkan masuk" kemudian Nayla langsung masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar Nabila.
"Mbak, ada mas ganteng nyariin," karena suara Nayla yang besar, terdengar hingga ke teras rumah, Tama tersenyum mendengarnya.
"Iya, iya." kemudian Nabila keluar kamar sudah bersiap, dengan menggunakan dress dibawah lutut. dan lengan yang sedikit terbuka.
Tama terpana melihatnya karena itu adalah kali pertama ia melihat Nabila menggunakan dress dan di padu dengan flat shoes.
"Tama, ayo masuk dulu, ketemu Mama," suara Nabila menyadarkannya.
"Halo Tante, selamat malam." ucapnya.
"Malam, sepertinya kita pernah ketemu ya, tapi tante lupa dimana,"
"Iya Tante, di kampus saat Nabila selesai ujian skripsi"
"Oh iya Tante ingat, yang nggak jadi ikut makan soto kan?"
"Ih Mama kenapa itu yang di ingat sih," sahut Nabila.
"Tante ingat, nama kamu Tama. iya bener kan?"
"Iya tante," jawab Tama seraya tersenyum.
"Ya udah Ma, Nabila pergi dulu ya."
"Iya, hati-hati Nak, Tama jangan kemalaman ya ngantar Nabila pulang."
"Iya Tante, siap."
Kemudian setelah Tama dan Nabila pergi, Nayla mulai bertanya-tanya pada Mamanya. Nayla yang sejak kedatangan Tama hanya berdiam di ruang makan, namun memasang telinganya dengan tajam, sehingga ia mendengar semua percakapan mereka di ruang TV.
"Mama, tadi itu siapa? aku pernah ketemu dengan Mas itu di kantornya Mbak Nabila."
"Oh iya? apa mereka rekan kerja? Mama juga nggak terlalu tahu Nay, Mbak mu nggak banyak cerita soal dia, dan Mama baru tahu tadi kalau ternyata mereka pacaran." Jelas Mamanya.
"Hah? pacaran Ma? Mbak Nabil nggak jomblo lagi, wah bagus dong. tapi ternyata Mas ganteng itu pacarnya Mbak Nabila?"
"Iya, kenapa kamu naksir? jangan gatal ya kamu belajar dulu yang bener ih, selesain kuliah, kurangi beban Mbakmu."
"Iya, iya Ma. Nayla senang akhirnya Mbak Nabila udah bisa membuka hatinya lagi." Ucapnya tersenyum.
***
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar, serta halaman nya yang luas.
"Ayo turun,"
"Aku gugup, takut."
"Tenang aja, kamu nggak bakal di apa-apain kok sama orang tua ku, haha." kemudian Tama turun dari mobilnya, dan segera membukakan pintu di samping kiri Nabila.
"Ayo, silahkan tuan putri," memberikan lengan nya untuk di gandeng.
"Ih, nggak usah gandengan. malu sama Mama dan Papa kamu."
"Kita nggak boleh kalah mesra dengan mereka, mereka bahkan sering ciuman di hadapanku." ucap Tama santai kemudian menggandeng tangan Nabila, menggiringnya masuk ke dalam rumah.
"Mama, Papa...," ucap Tama saat melihat kedua orang tuanya Bu Irin dan Pak Darwin, sudah duduk di ruang makan. Kemudian Bu Irin langsung menyambut mereka, Nabila memberikan senyuman termanis dan menyalami Bu Irin, begitu juga dengan Papanya.
"Selamat datang, ayo silahkan Nak, nama kamu Nabila kan?"
"Iya benar tante," jawab Nabila pelan.
Lalu Tama menarik kursi dan mempersilahkan Nabila untuk duduk, Nabila duduk tepat disebelah Tama. Dan mereka saling berhadapan dengan kedua orang tua Tama.
Bu Irin terus menatap Nabila dan sedikit tersenyum, wajar saja anakku berpaling dari Citra, ternyata dia jauh lebih cantik dan lebih sopan.
"Ayo silahkan, kita makan." Kata Bu Irin.
"Iya Tante, makasih." jawabnya pelan.
"Makan yang banyak ya sayang seperti biasa saat kita makan berdua, jangan malu-malu. haha."
Nabila menyenggol kaki Tama, memberi kode bahwa jangan mempermalukan dirinya di hadapan kedua orang tuanya.
"Sayang? kalian udah jadian?" Tanya bu Irin,
"Udah dong Mama, tinggal nunggu restu dari Mama Papa nih, iya kan sayang," Nabila hanya tersenyum malu.
Apa sih Tama, nggak gitu. terlalu cepat. Gumamnya dalam hati, kalau saja tak sedang berhadapan dengan kedua orang tua Tama, pasti Nabila sudah mengomel sejak tadi. Tapi kali ini Nabila hanya bisa mengangguk dan tersenyum saja.
"Hehe, sepertinya begitu Om." Jawab Nabila hati-hati.
"Nggak apa-apa, itu artinya kamu bisa di andalakan." Jawab Pak Darwin.
Nabila hanya tersenyum,
"Berarti kamu termasuk Pengacara senior ya di kantor itu?" Tanya Pak Darwin lagi.
"Iya Om,"
"Tama, kamu harus banyak belajar dari Nabila, bagaimana caranya menghandel kasus,"
"Iya Papa tenang aja, nggak cuma belajar menangani kasus kok, tapi belajar hal lain juga."
"Hal lain apa itu Nak?" Tanya Bu Irin.
"Masa mama nggak paham sih?" mengedipkan matanya.
Ya ampun Tama, benar-benar ya nih anak.
Kemudian Nabila menyentil keras paha Tama.
"Aduh, kenapa sih?" Tama menoleh ke Nabila.
"Emangnya kamu kenapa?" Nabila memasang wajah datar pura-pura tidak bersalah.
Bu Irin tersenyum melihat tingkah keduanya.
Setelah selesai makan malam, mereka berpindah duduk ke ruang keluarga, berbincang banyak hal. Karena jam sudah jam menunjukkan pukul 21.45, Nabila pun pamit pulang.
"Tante, Om. Nabila pamit pulang ya,"
"Iya nih Ma, tadi sebelum kesini udah di ancam sama Mamanya jangan pulang kemalaman."
"Iya, hati-hati ya." ucap Pak Darwin.
"Baiklah Nak," Bu Irin ikut bangun dari duduknya kemudian mengantar mereka kedepan.
"Sering-sering kesini ya Nabila, tante nggak punya teman," ucapnya sambil memegang tangan Nabila.
"I-iya, tante,"
Mereka pun berlalu pergi, karena sudah malam dan tidak ingin membuat Mamanya khawatir, mereka langsung pulang kerumah.
"Makasih ya untuk hari ini,"
"Iya," Jawab Nabila.
"Aku turun ya, kamu hati-hati." Saat Nabila hendak turun dari mobil, Tama menarik tangannya.
"Kenapa?"
Kemudian Tama menunjuk ke arah bibirnya,
"Enggak, nggak ada jatah malam ini, aku lagi kesal!"
"kesal kenapa sayang? orang tuaku kan berlaku baik sama kamu, kamu harus ingat loh kata Mamaku tadi sering-sering datang." Katanya sambil tetap memegang tangan Nabila.
"Mama Papa mu memang baik, yang nggak baik itu kamu."
"Aku?"
"Iya. kamu tuh ya, malu-maluin aku tau nggak," sambil memukul lengan Tama.
"Haha, santai aja sayang. mereka bukan orang tua yang kaku kok." mengacak rambut Nabila.
"Iya, tapi aku kan malu, kamu ngomong nya ngaco terus, ya udah aku masuk ya. hati-hati kamu."
"Jadi beneran nggak dapat nih?"
"Enggak, bye." Nabila langsung melangkah masuk kerumahnya sambil tangannya melambai.
Tama tersenyum geli melihat tingkahnya.
***
Bersambung...
Nih author kasih visual Nabila saat hendak pergi bertemu orang tua Tama,
Jangan lupa
Like
komen
Terimakasih semoga terhibur ❤