
Malam itu adalah malam yang paling bahagia bagi Tama, akhirnya Nabila mencoba menerima cintanya setelah sewindu menunggu. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, sebisa mungkin untuk membuat Nabila percaya padanya bahwa ia tidak seperti yang Nabila pikirkan selama ini.
Tama terus memandangi wajah Nabila yang masih malu-malu karena status baru mereka.
"Tama, emangnya kamu nggak malu pacaran sama aku?" Tanya Nabila meragukan sesuatu.
"Maksud kamu apa sayang?" Tama.
"Kalau kita pacaran, kamu kan lebih muda dari aku, kamu ingat kan gimana kamu di cibir sama cewek-cewek kampus dulu karena kedekatan kita?" Nabila kembali mengingat masa lalu.
"Itu nggak masalah buat aku, apa itu salah satu alasan kamu nggak nerima aku dari dulu?" Tama menatap dalam mata Nabila.
"Bisa jadi, lagian ada yang ingin aku tanya dari dulu tapi selalu tertunda," Nabila sedikit menunduk.
"Apa itu?" Tama penasaran.
"Begitu banyak wanita yang yang ingin dekat denganmu, tapi kenapa kamu memilih aku?"
"Karena kamu selalu cuekin aku, dan itu membuat aku semakin penasaran dan akhirnya aku tak bisa lepas darimu, jelas?" Tama Mengelus pelan tangan Nabila yang ada dalam genggamannya.
Nabila hanya terdiam, tidak menjawab apapun. Tanpa terasa setelah lama mereka berbincang dan sedikit bernostalgia, jam sudah menunjukkan pukul 22.45.
"Pulang yuk, udah malam," Ucap Nabila.
"Pulang? ke Jogja maksud kamu? Haha,"
"Eh bukan, balik ke hotel," Jawab Nabila gugup.
"Masih jam segini, kalau aku kengen gimana?" Tama mulai merayu Nabila.
"Ih lebay, itu urusan kamu," Jawab Nabila jutek, kemudian menarik tangannya dari genggaman Tama.
"Kamu jangan jutek gitu dong sama calon suami," Tama malah makin menjadi-jadi.
"Uhuk..Ehm, apa kamu bilang calon suami? percaya diri sekali,"
"Hei, emangnya kamu nggak bisa menyadari kalau kita ini sudah di takdirkan bersama, bayangin aja udah berapa tahun kita nggak ketemu bahkan nggak saling mengabari, tapi akhirnya kita ketemu lagi, dan...," Ucapan Tama terhenti, kini gantian Nabila yang meletakkan jari telunjuknya di bibir Tama agar ia berehenti mengoceh. Kemudian Tama menggigit kecil jarinya.
"Aw, sakit. udah cukup nggak usah diterusin, ayo kita balik ke hotel," Nabila langsung menarik jarinya.
"Oke ayo," Tama hanya tersenyum dan kemudian bangkit menuju kasir untuk membayar, Nabila mengikutinya dan berjalan malu-malu membawa buket bunga yang diberikan Tama tadi.
Akhirnya mereka kembali ke hotel, selama di dalam perjalanan kembali, ponsel Tama terus bergetar, hingga akhirnya Tama melihat ke layar ponselnya.
Citra
Memanggil.
Nabila juga melirik ke arah ponsel Tama, matanya terbelalak melihat nama itu.
"Kenapa nggak di jawab?" Tanya Nabila dengan menatap mata Tama yang mulai gugup.
"Nggak penting,"
"Kenapa? takut ketahuan sama aku?" Nabila tersenyum sinis.
Ya ampun, baru beberapa jam loh, kita memulai. Gerutu Nabila kesal.
Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di hotel, dan Nabila langsung turun mempercepat langkahnya masuk dan menuju lift.
"Nabila, aku bisa jelasin," Menarik lengan Nabila.
"Oke, aku nggak mau bersifat kekanak-kanakan, aku dengar penjelasan dari kamu," Nabila mengentikan langkahnya.
"Sayang, Citra itu bukan siapa-siapa, aku udah memutuskan hubunganku dengannya, awalnya kami di jodohkan, namun aku nggak pernah mencintainya, percayalah." Jelas Tama memegang pundak Nabila, mereka tidak menyadari jika sejak tadi dua orang resepsionis sedang memperhatikan gerak gerik mereka.
"Gimana aku bisa percaya? kamu selesaikan dulu urusanmu dengan dia, sampai dia benar-benar nggak ganggu kehidupan kamu lagi."
Nabila berlari kecil menuju lift. Tama pun langsung mengejarnya, setelah didalam lift, seperti biasa mereka hanya berdua tidak ada orang lain. Kemudian Tama mengunci Nabila dengan kedua lengannya.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Nabila, dan panik dengan posisi tersebut.
Tama mendekatkan wajahnya dengan wajah Nabila, kemudian mendaratkan ciuman lembut ke bibir mungil itu, Nabila tersadar dan langsung menolaknya, memalingkan wajahnya.
"Itu...ada cctv," Dengan gugup Nabila menunjuk ke arah kiri atas, kemudian Tama melirik sedikit ke arah yang di tunjuk Nabila. Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka.
Nabila berlari kecil dan langsung kabur dari Tama.
"Nabila, dengerin aku please," Membalikkan tubuh Nabila menghadapnya.
"Aku harus dengar apa lagi? kamu selesaikan dulu hubungan kamu dengan dia, aku nggak mau jadi orang ketiga, paham?" Tanpa Nabila sadari, air mata mengalir perlahan dari sudut matanya.
Tama segera memeluknya erat,
"Maafkan aku, diawal hubungan kita aku malah membuatmu menangis, aku bisa ganti nomor ponselku sekarang juga," Masih mendekap Nabila.
"Nggak perlu sejauh itu Tama, kamu bisa bicarakan baik-baik dengan dia," Melepaskan pelukan Tama.
"Bicara baik-baik udah aku lakukan sebelumnya, dia itu emang nggak tahu diri,"
"Ya udah terserah kamu aja, aku lelah mau istirahat," Nabila berjalan pelan menuju kamarnya.
***
Sial, kenapa dia harus menghubungiku disaat seperti ini.
Tama masih menatap Nabila hingga benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Nabila di dalam kamar, merebahkan dirinya di ranjang, rasanya ia tak percaya dengan apa yang ia alami hari ini.
Lagian kenapa air mata ku jatuh? dihadapannya, ini memalukan. Nabila, sejak kapan kamu menjadi cengeng?
Dengan perasaan campur aduk dan tangisan yang masih berlanjut.
Ada apa denganku? Bahkan saat mengetahui Dimas ternyata sudah berisitri dan pernikahan kami dibatalkan, aku tak meneteskan air mata sedikitpun.
Bersambung...