My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Will you marry me?



Sudah satu bulan Nabila dan Tama kembali menjalani hubungan hanya sebatas rekan kerja. Tama merasa dirinya seperti dejavu, mengalami hal pahit enam tahun lalu dimana ia harus bersusah payah mengejar cinta Nabila. Sekarang, lelaki itu sedang berusaha lagi. Bersusah payah, seolah mulai dari awal.


Tapi dia merasa beruntung, bahwa ini tidaklah se-pahit enam tahun lalu karena ia bisa melihat wajah Nabila setiap hari.


"Tama, kamu kenapa bengong sih? kita udah nyampe." Nabila memukul pelan lengan Tama, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Hari ini mereka akan bertemu salah satu klien yang merupakan seorang wanita muda, usianya berkisar tiga puluh lima tahun. Jika klien wanita dengan usia seperti itu membutuhkan jasa konsultasi hukum, Nabila sudah bisa memastikan bahwa ini adalah pengajuan perceraian.


"Selamat pagi, Ibu." sapa Nabila, wanita itu tidak menyadari kehadira mereka karena tengah menunduk sambil memegang ponselnya.


"Hai, selamat pagi." setelah menyapa Nabila, pandangan wanita yang bernama Rumi itu beralih kepada Tama, dan melempar senyum. Baginya, melihat Tama seperti melihat sebuah harta karun terpendam yang sangat lama ia cari-cari.


"Ehm, bisa kita mulai, Ibu?" Nabila berdehem kala menyaksikan Rumi terus menatap Tama tanpa kedip.


"Iya, baiklah. Hem, jadi gini... suami saya selingkuh. Tapi dia nggak mau ngaku, saya minta cerai, dianya nggak mau lepasin saya. Tapi saya muak hidup dengan dia dan terus-terusan ditipu." jelas Rumi.


"Ibu yakin, suami Ibu yang selingkuh?" tanya Nabila seoalah tak percaya dengan ucapan wanita dihadapannya ini.


"Maksud Anda apa bertanya seperti itu, jadi menurut Anda, saya yang selingkuh, begitu?" tuduhnya pada Nabila dengan tatapan tajam.


"Bukan begitu maksud saya Bu, apa Ibu punya buktinya?" tanya Nabila kembali.


"Bukti? buktinya ada pada percakapannya melalui chat dengan perempuan itu di hape suami saya, gimana bisa saya bawa bukti itu?" tanya Rumi dengan nada ketus. Semnetara Nabila mencoba menahan emosinya. Haduh, kali ini kehilangan satu klien sepertinya tidak masalah.


Tama yang mulai menyadari bahwa atasannya itu sedang emosi, segera mengambil sikap. "Ibu tenang dulu dong, jangan pake emosi." Tama mencoba menenangkan keduanya, ia pun menampilkan senyumnya. Dan ternyata berhasil membuat Rumi luluh.


"Kayaknya saya mau konsultasinya dengan Mas ini aja deh, bikin hati saya lebih adem." ucapnya dengan nada angkuh tanpa menoleh ke Nabila.


Nabila yamg mendengar itu segera bangkit dari duduknya, "Tolong ya Tama, aku tunggu di tempat lain aja." tak lupa membawa tas jinjingnya yang ia letakkan di atas meja.


"Nabila, tunggu. Kamu disini aja." Tama menahannya, namun melihat tatapan Nabila yang mengerikan menurutnya membuatnya mengerti bahwa kini, ia harus menghandle klien itu sendirian.


Nabila tidak benar-benar pergi, ia masih berada di restoran yang sama, hanya saja ia mengambil tempat duduk di bagian luar. Selama bertahun-tahun ia menjalani profesinya sebagai pengacara, tak pernah ia se-konyol ini. Merasa tidak profesional, kenapa juga harus terbawa emosi dengan sikap klien yang menurutnya genit itu. Ia pun tak mengerti ada apa dengannya? terlalu sulit jika harus mengakui bahwa ia cemburu dengan Tama yang sedang di goda oleh wanita lain. Itu mustahil menurutnya.


Tama mendengarkan cerita, konsultasi atau mungkin lebih tepatnya curhatan Rumi dengan seksama, sesekali ia mengangguk tanpa memberi tanggapan. "Jadi menurut Masnya saya harus gimana? cerai atau nggak?"


"Sepertinya alasan Ibu untuk menggugat cerai belum terlalu kuat, Bu." jawab Tama tegas. Sebenarnya lelaki itu mulai tak tenang kala melirik Nabila melalui jendela kaca yang tembus pandang keluar. Ia gelisah melihat Nabila sedang menerima panggilan telepon sambil sesekali tertawa, jelas ia tak rela jika ada laki-laki lain yang memberikan kebahagiaan pada Nabila seperti itu.


"Tapi saya harus tetap menggugat, saya sudah terlanjur benci sama dia!!" ucapnya setengah berteriak, membuat orang-orang sekitar mereka menoleh.


"Bu, pikirkan sekali lagi ya, Ibu tau kan perceraian itu sangat dibenci oleh agama. Tapi nanti segera hubungi kami jika memang tidak berubah pikiran dan tetap ingin mengajukan gugatan," jawab Tama sebenarnya bisa saja Tama meyakinkan Rumi untuk mantap dengan keputusannya, dan mereka akan mendapatkan klien . Tapi Tama pun paham jika perceraian bukanlah jalan terbaik jika alasan atas itu semua tidak masuk akal, jika masih bisa dipertahankan kenapa tidak.


"Saya hubungi nanti, ya!" seru Rumi lagi. Tama mengangguk, "Saya permisi, Bu. Rekan saya sudah menunggu." Lalu Tama pergi meninggalkan Rumi.


Tama menghampiri Nabila yang sedang menatap layar ponselnya, "Kamu tadi telponan sama siapa?" segera Nabila mendongak kala mendapat pertanyaan itu.


"Udah selesai?" Nabila malah balik bertanya. "Udah, sekarang kemana lagi?" Nabila segera berdiri.


"Balik ke kantor," jawab Nabila.


"Mau minum kopi dulu nggak? tapi di tempat lain aja," Mendengar ajakan Tama, Nabila melirik ke jam tangannya, masih ada waktu setengah jam pikinya.


"Boleh deh,"


---------------------------


Mereka sudah tiba di salah satu kedai kopi favorit di kota itu, Tama sudah memesan dua jenis kopi berbeda untuk nya dan untuk Nabila. Ia sudah tahu selera kopi wanita itu seperti apa. "Makasih Tama,"


Tama tersenyum, menatap Nabila yang masih saja sibuk dengan layar ponselnya. "Kamu ngapain sih dari tadi ngeliat hape mulu?" Ia benar-benar risih melihat pemandangan itu. Meski saat ini ia tak memiliki hak apapun untuk melarang Nabila berhubungan dengan orang lain.


Selama ini juga Nabila masih sering berhubungan dengan Leo, walau hanua sekedar chatingan tak penting, dan melalui percakapan telepon meski hanya sekedar berbagi cerita tentang pekerjaan masing-masing. Dan sejak pertemuan pertamanya dengan Leo waktu itu, mereka belum pernah bertemu lagi. Hanya ponsel lah yang menghubungkan mereka.


"Nggak apa-apa kok, ada yang mau kamu omongin?" Kini Nabila benar-benar meletakkan ponselnya dan menatap Tama.


"Aku mau ngomong serius," ucap lelaki itu, matanya menatap lekat pada Nabila. Nabila yang mendapat tatapan seperti itu pun menjadi gugup.


"Iya Tama, kamu mau ngomongin apa?" Tama tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan sebuah box perhiasan dari dalam sakunya. Lalu membukanya tepat dihadapan wanita itu. Nabila tertegun, menatap isi box itu.


"Will you marry me Nabila?" dengan menampilkan senyum terbaiknya, "Jadilah teman hidupku," lanjutnya lagi. Sementara Nabila masih saja terdiam, lidahnya kelu seperti tak mampu mengucapkan apapun, selain terkejut dengan tindakan Tama, ia juga takjup.


"Jadilah istriku, Ibu dari anak-anakku, aku nggak bisa tanpa kamu, Nabila." Tama terus saja berucap.


Nabila mencoba mennjawab, "Tama, aku..."


-------------------------


Ramein dong dengan komentar, sepi banget 😭


Diterima nggak tuh si Tama 😂