My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Semoga Berhasil



Mobil Nabila sudah terparkir sempurna diperkarangan rumah, ia senang melihat mobil suaminya belum terparkir disana, itu artinya, Tama belum pulang. Sambil menenteng box yang berisikan cake. Ia masuk kedalam rumah dengan senyum sumringah dan disambut oleh Bu Irina yang terlihat sedang bersantai diruang TV.


"Kamu senang banget kayaknya, ada apa sayang?"


"Nggak apa-apa kok Ma, mau ngasih surprise ke Tama, hari ini dua tahun pernikahan kami," jawab Nabila.


"Duh, selamat ya buat kalian..., semoga selalu saling cinta, dan makin mesra kayak Mama sama Papa," Bu Irina memegang kedua pundak Nabila.


Nabila tertawa, mengingat bagaimana kemesraan mertuanya itu sampai setua ini.


"Kasih rahasianya dong Ma."


"Kuncinya itu, saling percaya dan saling terbuka, jangan ada yang ditutupi, dulu tuh ya Papa sering banget dapat telpon dari klien perempuan. Mereka selalu curhat masalah keretakan rumah tangga mereka, dan akhirnya bisa sampai ke perceraian."


Nabila mendengarkan dengan saksama, siapa tahu ada pelajaran yang dapat ia ambil dari cerita Bu Irina.


"Awalnya ya Mama memang cemburu, dan nggak suka, tapi lama kelamaan ya udah biasa aja, bahkan waktu Papa nerima telpon, Mama selalu ada disamping Papa. Jadi Mama ikutan juga dengar curhatan ibu-ibu itu, intinya jangan curiga berlebihan sama suami, itu nggak baik."


Nabila terdiam sesaat mengingat bagaimana tingkahnya akhir-akhir ini, bahkan sama seorang office girl di kantor Tama saja ia cemburu tak beralasan, hanya karena perempuan itu cantik dan muda. Mungkin, faktor usia Nabila yang lebih tua dari Tama membuatnya sedikit minder dan kurang percaya diri.


"Iya Ma, Nabila ngerti kok," Nabila tersenyum.


"Mama tau loh, kalau Tama sering pulang malam, kamu pasti resah kan?" Nabila mengangguk pelan.


"Tapi Nabila nggak curiga sama Tama, Nabila yakin Tama sayangnya cuma sama Nabila," jawabannya sedikit bertolak belakang dengan yang ada dihatinya.


"Bagus, Tama susah loh dapetin kamu, butuh perjuangan bertahun-tahun. Jadi ingat sayang, dia nggak mungkin nyia-nyain kamu, ya?" tangan kanan Bu Irina memegang pipi Nabila, sekali lagi ia meyakinkan menantunya.


"Iya Ma, Nabila tau kok. Oh iya Ma, Nabila kekemar dulu ya."


"Ciye yang mau siap-siap sambut suami pulang, ngerayain anniversary. Semoga membuahkan hasil ya! semoga berhasil!" Seruan Bu Irina seketika membuat pipi Nabila memerah karena malu.


"Ih Mama, apaan sih. Tapi do'anya aku aminkan ya."


"Tuh kan berarti bener dong rencana kalian malam ini," Bu Irina terkekeh melihat wajah Nabila yang tampak kaku karena kata-katanya yang menggoda.


"Mama... udah ah," Nabila berjalan cepat menuju kamarnya, mengingat sudah pukul enam sore hampir malam.


Ia letakkan kue di atas meja dikamarnya, ia pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tiba-tiba Nabila teringat akan menstruasinya yang sudah terlambat tiga minggu. Lagi dan lagi seperti ini, ini sudah biasa baginya. Bahkan pernah ia tidak menstruasi sama sekali dalam satu bulan. Dengan rasa percaya diri yang tinggi ia pun melakukan tes kehamilan pada saat itu, dan ternyata hasilnya negatif.


Dokter mengatakan, jadwal menstruasinya yang tidak teratur akibat hormon Nabila yang tidak stabil dan harus diperbaiki dengan cara banyak beristirahat serta tidak terlalu stress memikirikan pekerjaan. Maka saran Dokter kandungan waktu itu ia harus cuti, paling tidak selama dua bulan untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.


"Udah ah ngapain di tes juga yang ada kecewa, telatnya baru tiga minggu juga," Nabila berbicara sendiri untuk meyakinkan dirinya.


Tapi Nabila yang seolah tak sabar menunggu pulangnya sang suami, ia mengambil ponselnya untuk menanyakan. Tak butuh waktu lama, panggilan pun langsung tersambung.


"Sayang, kamu masih lama?" tanya Nabila.


"Masih, ini kerjaan aku banyak banget. Kasian anak-anak kalau aku tinggal duluan, mereka lagi repot. Besok ada sidang, jadi persiapannya harus mantap," jawab Tama. Ekspresi wajah Nabila langsung berubah, ia belum memeberikan respon apapun. Masih terdiam.


"Kenapa sayang? kamu udah dirumah?"


"Ehm, nggak apa-apa aku cuma kangen. Ya udah, kamu hati-hati nanti pulangnya, jangan lupa makan malam ya sayang," terdengar nada bicara Nabila yang penuh kekecewaan.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar yang sedang dibuka. Nabila langsung menoleh dan ternyata, lelaki yang sedang berbicara dengannya itu sudah berdiri diambang pintu dengan menampilakan senyum menggoda.


"Kamu ih! paling bisa ya bikin aku deg-degan," Nabila tak bisa menyembunyikan senyumnya. Raut wajah kecewanya langsung hilang seketika. Ia pun langsung bangun dari duduknya untuk menyambut Tama. Padahal, sejak Nabila menelpon tadi, Tama sudah berada di halaman rumah.


"Kamu udah makan?" tanya Nabila sambil jarinya bermain di leher suaminya, untuk membuka dasi yang ia kenakan. Tak biasanya Nabila bersikap seperti ini.


"Belum, kamu?" Tama balik bertanya, Nabila menggeleng, kemudian membawakan cake yang tadi ia beli kehadapan suaminya.


"Selamat dua tahun pernikahan, ya sayang." Nabila mengecup bibir suaminya.


"Aku kira kamu lupa," jawab Tama. "Kita dinner diluar yuk?" ajak Tama.


"Emang kamu nggak capek?"


"Lumayan sih. Tapi demi hari jadi kita---"


"Tapi aku pinginnya ngerayain dikamar aja bareng kamu," Nabila menampilkan senyum menggoda.


"Hem, kamu mulai nakal. Oke, aku mandi dulu sayang," ucap Tama setelah melepaskan kemeja dan celananya, ia pun beranjak ke kamar mandi.


Sambil menunggu suaminya mandi, Nabila melakukan pemesanan makanan melalui aplikasi. Ada sesuatu yang ingin ia makan.


Sambil memegang ponselnya membuka sosial medianya, dengan posisi telungkup. Saking asyiknya ia tak menyadari suaminya sudah berdiri didekatnya sejak tadi.


"Yuk, sekarang?" ajak Tama. Lelaki itu tidak mengenakan apapun saat ini. "kamu, kok gitu sih sayang, mana baju kamu?" Nabila berbalik dan kaget melihat Tama saat ini.


"Untuk apa aku pake baju, kalau nanti akhirnya kamu buka juga?" dengan seringai penuh makna, Tama mendekatkan tubuhnya dengan istrinya.


------------------------


Hai, maaf ya upya lama. Habisnya terlalu semangat nulis cerita Ray ama Celine sih, jadi yang ini sedikit terlupakan. Wkwkw sorry beb 😄