
Sepanjang perjalanan menuju rumah Nabila, pikiran Tama tak bisa tenang. Sungguh ia sangat merasa bersalah pada Nabila. Tidak memberi kabar, terlebih ia telah merasa mengkhianati Nabila kala terbuai dan membalas ciuman Citra.
Tama merasa menjadi lelaki paling bodoh, saat itu. Ia tak bisa fokus menyetir, dan masih mencoba beberapa kali untuk menghubungi Nabila.
----------------------------
Nabila sedang asyik bercengkrama dengan Dhea, bercanda tawa. Mereka benar-benar melepas kangen. Banyak cerita yang mereka bagi hari ini. Nabila sudah membaca pesan dari Tama. Rasa khawatirnya terhadap lelaki itu juga menghilang pergi kala mengetahui ternyata tidak terjadi apa-apa padanya.
Nabila, maaf. Tiba-tiba aku harus menemani Mama ke suatu tempat. Maaf aku telat mengabarimu. Sekarang aku jemput kamu, ya?
Nabila sengaja mengabaikan pesan dari lelaki itu. Untuk memberi pelajaran padanya. Biarlah dia terlihat kekanak-kanakan, pikirnya. Yang penting ia sudah merasa puas agar lelaki itu merasakan apa yang ia rasakan. Pesan dan panggilan yang terabaikan.
Sebenarnya, Nabila sudah malas menanggapi, ia benar-benar kecewa pada Tama saat ini. Walaupun mereka batal pergi karena Tama harus menemani Mamanya, kenapa tidak mengabari sebelumnya, setidaknya Nabila tidak merasa digantung dan diabaikan seperti ini.
Dan lagi sebenarnya Nabila juga belum bisa mempercayai Tama sepenuhnya. Ia mengingat bagaimana tingkah laku Tama di masa lalu. Yang terkenal suka mempermainkan wanita.
--------------------------------------
Tama sudah tiba didepan rumah Nabila. Sebelum turun dari mobil, ia menghela nafasnya pelan. Sedang memikirkan bagaimana caranya agar Nabila tidak marah padanya. Lelaki itu tak tahu jika Nabila sudah tidak berada dirumah.
Setelah yakin, barulah ia melangkah masuk. Mengetuk pintu dan tak lupa mengucapkan salam, saat pintu terbuka, "Nabila, sorry banget..."
"Tama? Nabilanya nggak ada dirumah." Tama salah mengira, ternyata Bu Devi lah yang membuka pintu.
"Ehm, maaf Tante. Tapi Nabila bilang nggak dia kemana?" Tama mengubah nada bicaranya selembut mungkin.
"Enggak bilang, tapi katanya mau ketemuan sama Dhea." jelas Bu Devi.
"Dhea?" Tama ingat, Dhea juga salah satu seniornya dikampus.
"Iya, tapi nggak bilang ketemuan nya dimana." lanjut Bu Devi.
"Baiklah Tante, saya permisi."
"Iya Nak Tama, hati-hati."
Tama kembali masuk ke dalam mobil, ia tak tahu harus kemana mencari Nabila? Hari ini ia benar-benar merasa gusar, dua wanita yang ia cintai marah dan kecewa padanya.
"Nabila please jawab aku!" gerutu nya sambil memukul stir dengan kesal. Kala mencoba melakukan panggilan lagi ke Nabila.
Nabila memang berencana menghabiskan waktu bersama Dhea hari ini, bahkan ia ingin pulang malam sekalian. Karena jarang-jarang ia punya waktu seperti ini. Ketemu dan bermain dengan Tama? tidak terlalu penting lagi baginya, toh setiap hari mereka juga bertemu di kantor.
Akhirnya Tama melajukan mobilnya tanpa arah tujuan, ia akan menghabiskan waktu di jalan mengelilingi kota Jogja, berharap ada jawaban dari Nabila, jadi ia bisa langsung menemui wanita itu. Namun setelah dua jam menunggu, tak juga Nabila memberi jawaban. Bahkan sore harinya Tama kembali kerumah Nabila, namun hasilnya sama. Ia tak dapat menemui wanita itu karena belum kembali kerumah.
Akhirnya Tama menyerah, ia pulang kerumah, namun sebelumnya ia mengirimkan pesan pada Nabila.
Nabila please maafin aku, kamu boleh marah. Tapi setidaknya kabari aku kalau kamu udah dirumah. Aku khawatir. Pesan terkirim namun Nabila belum membacanya.
-------------------------------------
Sekitar jam sembilan malam, Nabila tiba dirumah. "Ngapain Ma?" Nabila masuk keruang tamu mendapati Mamanya yang sedang duduk di sofa.
"Ya nunggu kamu lah. Kalian berantem?"
"Berantem?" Nabila mengerutkan dahinya, bagaimana Mama bisa tahu. "Nggak berantem sih Ma, cuma lagi malas aja." sahut Nabila enteng sambil melangkahkan kaki ke kamarnya.
"Kamu tahu Tama dua kali datang kesini nyariin kamu, kamu nggak jawab telepon dan pesan dari dia?"
Nabila mengangkat alisnya heran, benarkah sepert itu. Lalu kemudian mengangguk pelan. "Iya, Ma. Siapa sih yang nggak kesal, udah ngajak jalan. Dianya malah pergi ketempat lain. Ya... meski sama Mamanya sih." Jelas Nabila.
"Kamu jangan kekanakan seperti itu Nabila, komunikasi adalah yang paling penting untuk suatu hubungan."
"Mama benar tapi dianya yang duluan begitu Ma, nggak ngabarin kalau nggak jadi pergi, dua jam Nabila nungguin Ma," jawab Nabila kini tangan kirinya sudah memegang gagang pintu, hendak masuk ke kamarnya.
"Terserah kamulah Nab, yang penting Mama udah ngasih tau."
Nabila mengangguk, "Iya Ma, Nabila masuk ya, capek."
Nabila merebahkan tubuhnya, sebelum ia menggantung tasnya di balik pintu, ia mengambil ponselnya. Membaca banyak sekali pesan dari Tama. Lelaki itu tampak giat berjuang demi mendapat maaf dari Nabila. Hingga Nabila tak tega kala membaca pesan terakhir yang ia kirim, dan mulai membalasnya.
Aku udah dirumah. Pesan terkirim, tak perlu menunggu lama, langsung bercentang biru.
Lelaki diseberang sana bernafas lega dan melengkungkan bibirnya membentuk senyum. Makasih udah mau ngabarin, aku mohon maafin aku. Boleh aku telpon?
---------------------------------
Makasih buat yang masih menunggu kelanjutan cerita ini, kalau ada yang lupa jalan ceritanya karena upnya kelamaan, boleh tuh diulang lagi sedikit ehehe..☺