My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Maafkan Aku



Tama ingin mengejar Nabila yang sudah melangkah menuju lift. Namun langkahnya terhenti saat dua orang kliennya sedang berjalan kearah ruangannya, dan tersenyum ramah padanya.


"Selamat siang Pak Tama,"


"Siang Pak, silahkan masuk," jawab lelaki itu dan menyambut uluran tangan.


Tama hanya bisa menatap Nabila yang terus berjalan, dengan sedikit kesusahan. Ia sendiri pun tak tahu penyebab istrinya berjalan seperti itu.


Dengan pikiran yang bercabang, Tama mulai melayani kliennya. Otaknya tidak bisa fokus karena memikirlan Nabila. Seketika ia ingat bagaimana ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya tadi, tentu menyakiti hati sang istri. Terlebih dengan nada yang tidak ramah didengar.


Nabila masuk kedalam mobil, sejak tadi ia menahan tangisnya dan kini pecah. Kepalanya ia sandarkan pada stir mobil. Menangis sesenggukan, karena hatinya begitu sakit. Dua tahun menikah, baru kali ini Tama membentaknya dengan nada yang keras. Entah kemana hati Nabila yang dulunya kuat, tegar dan jarang menangis.


Perlahan, ia melajukan mobilnya tanpa tujuan. Yang pasti ia tidak ingin pulang kerumah mertuanya saat ini. Dengan kecepatan sedang, ia menginjak gas. Untuk sementara ia hanya ingin mengelilingi kota saja. Lama kelamaan air matanya mulai mengering, Nabila melajukan mobilnya ke arah rumah Mama Devi. Sudah satu bulan ia tidak bertemu dengan sang Mama.


Tiba dirumah Mama Devi, sebelum turun dari mobil, ia memastikan penampilannya agar tidak menimbulkan kecurigaan karena habis menangis, setelahnya barulah ia turun dari mobil.


Memencet bel berulang-ulang, namun tak ada jawaban dan sambutan. Ia pun meraih ponselnya untuk menghubungi sang Mama.


"Halo Ma, dimana?"


"Mama lagi dirumah tante Tita. Baru aja nyampe, kenapa Nak?"


"Oh, Nabila di depan rumah, kirain ada Mama, ya udah Ma nggak apa-apa."


"Loh emangnya kamu nggak kerja? ini kan bukan hari libur?"


"Iya Nabila udah mulai cuti, Ma. Ya udah Mama lanjut aja, ini Nabila balik kerumah Mama Irina aja,"


"Maaf ya sayang, nanti kapan-kapan main lagi kerumah ya."


"Iya Ma, nggak apa-apa... bye Ma."


Nabila mengakhiri panggilan dengan raut wajah kecewa, karena tak bisa bertemu dengan sang Mama untuk sekedar melepas rindu, yang jelas Nabila begitu merindukan masakan sang Mama saat ini.


Tiba dirumah, ia langsung menuju kamar, duduk di depan meja riasnya. Memijit-mijit pergelangan kaki kanannya yang masih terasa sakit dan sedikit ngilu jika digerakkan. Ia kembali menangis, entah apa sebabnya.


"Kok sakit banget sih ya ampun..." ucapnya, kemudian menatap layar ponselnya tak ada notifikasi sama sekali. Itu artinya Tama tidak menghubunginya untuk sekedar menanyakan keberadaannya atau memastikan ia sudah dirumah atau tidak.


Rasanya begitu sakit mengingat sang suami benar-benar mengabaikannya saat ini.


-----------------------------


Malam harinya, Nabila tertidur dan melewati makan malamnya. Ia pun terbangun mengambil ponselnya, ia tatap ternyata sudah jam sepuluh malam. Nabila berbalik, melihat sisi disampingnya kosong, sang suami belum juga pulang dan tanpa kabar.


Rasa lapar diperutnya mengharuskan Nabila keluar kamar untuk menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya. Ternyata, Mama Irina juga belum tidur, terlihat wanita itu masih bersantai diruang TV. Setelah mengambil makanan didapur, Nabila pun menghampirinya.


"Ma belum tidur?"


"Belum, nungguin Papa."


"Iya, mereka masih banyak kerjaan. Emang Tama nggak ngabarin kamu?"


Nabila menggeleng sebagai jawaban, kemudian ia mulai mengarahkan sendok pada mulutnya. Meski tak berselera, tapi ia terpaksa harus makan, mengantisipasi penyakit asam lambungnya kambuh nantinya.


"Dikit banget makannya?" tanya Bu Irina.


"Iya Ma, lagi nggak selera," jawabnya.


"Kalian lagi bertengkar?"


"Ha? enggak kok Ma." Nabila menampilkan ekspresi yang biasa saja, meski heran bagaimana Mama mertuanya bisa tahu.


"Syukurlah kalau gitu."


Nabila cepat-cepat menyelesaikan makannya, ia ingin kembali lagi ke kamar, dari pada bergelut dengan sakit hati dan gelisah, lebih baik ia meneruskan tidurnya.


Tepat pukul jam satu dini hari, Tama masuk ke dalam kamar, Nabila yang tidak benar-benar tidur menyadari kehadiran sang suami dan langsung menyibakkam selimutnya untuk bangun.


"Kamu udah makan?" tanya Nabila dengan ramah dan tersenyum


"Udah," Tama hanya menjawab dengan satu kata dan singkat tanpa menoleh kearah Nabila.


"Sini, aku bukain," seperti biasa, Nabila ingin membukakan jas dan dasinya. Namun Tama langsung mengelak, "Aku bisa sendiri kok."


Nabila kembali duduk diranjang, ia hanya menatap Tama yang berjalan menuju ke kamar mandi.


"Tama," panggil Nabila, lelaki itu menoleh sekilas ke istrinya.


"Kamu kenapa sih? nggak biasanya kamu kayak gini."


"Aku capek, kamu tau kan ini jam berapa?"


"Oh ya udah, abis mandi langsung istirahat ya."


Nabila masih menahan emosinya, bagaimanapun ia masih menghormati Tama sebagai suaminya. Bukan ia tak mengerti bahwa suaminya sedang capek, justru ia ingin sekedar memberikan perhatian seperti biasa, namun tak menyangka reaksi Tama akan seperti ini. Nabila salah mengira, ia berharap saat lelaki itu tiba dirumah, ia akan membujuk dan kembali meminta maaf padanya. Namun yang Nabila dapat justru sebaliknya.


Nabila kembali berbaring miring diranjang, menutup tubuhnya dengan selimut, mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa. Justru matanya kini mulai mengeluarkan bulir-bulir air bening yang tak bisa ia tahan.


Tangisnya semakin terisak, Tama menyadari istrinya sedang menangis pun menghampiri Nabila, memeluknya dari belakang. "Maafin aku, sayang," ucapnya kemudian membenamkan wajahnya pada rambut panjang Nabila. "Aku cuma capek, pusing juga sama kerjaan, maaf kalau akhir-akhir ini aku--"


"Iya-iya... aku nggak apa-apa kok, aku emang ngerasa kamu agak beda aja akhir-akhir ini, aku nggak tau kamu kenapa. Kalau emang kamu capek, ya udah istirahat." Nabila menjawab dengan masih menangis terisak. Ia memindahkan tangan Tama dari pinggangnya.


"Sini dong menghadap ke aku, biar aku jelasin," Tama menarik pundak Nabila setengah memaksa.


"Aku mau tidur, besok aja," jawab Nabila, saat ini ia tak mau berhadapan dengan suaminya. Hatinya masih sakit mengingat bagaimana perlakuan Tama hari ini padanya.


"Iya, maaf ya." ucap Tama penuh penyesalan, tak seharusnya ia menumpahkan dan memperlihatkan emosi dan amarahnya pada sang istri hanya karena alasan capek.