
"Warna mata kamu hari ini beda?" Tama bertanya setelah mengecup kening Nabila, rutinitas mereka dipagi hari sebelum akhirnya berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Mereka masih saling bertatap mata, Nabila memegang pipi kedua pipi Tama. "Lagi pingin pake softlens yang warna ini, biar keliatan lebih feminim aja," jawab Nabila, kemudian mengecup pipi Tama.
"Hem, boleh juga, cantik kok." jawab lelaki itu.
"Thankyou sayang."
Mereka berjalan beriringan keluar kamar dan menuju pintu utama, "Oh iya, nanti siang kita lunch bareng gimana? hari ini aku cuma beresin beberapa kerjaan aja, kemungkinan jam makan siang kelar," Nabila menggandeng lengan Tama dengan manjanya.
"Ide bagus, nanti biar aku yang---"
"Aku aja yang ke kantor kamu, udah lama nggak main kesana," Nabila langsung memotong kalimat suaminya.
"Okey, aku tunggu, sayang,"
"Lagian kamu kan juga lagi sibuk ya? nanti aku beliin makanan aja, aku bawa kesana," lanjut Nabila.
Tama mengangguk tanda setuju.
"Duh... yang habis ngerayain anniversary, makin lengket aja nih." Bu Irina keluar dari kamar, melihat mereka yang sedang saling merangkul.
"Mudah-mudahan berhasil ya yang tadi malam," Bu Irina mendekat, mengusap perut menantunya. Nabila hanya tersenyum geli.
"Gimana mau berhasil Ma, gagal! digagalin sama driver ojol," terdengar nada kesal dari kalimat yang dikeluarkan lelaki itu.
"Ih, kamu masih aja di bahas ya, kan aku udah minta maaf dan udah ngajak lagi---"
"Tapi aku udah nggak mood, mending tidur," Tama melepaskan tangan kanannya dari bahu Nabila, kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Ngambek Ma, kayak anak kecil," Nabila membiarkan Tama keluar duluan dari rumah, dan mengalihkan pandangannya pada Bu Irina.
"Biasalah, laki-laki emang sering kesal kalau udah menyangkut hal itu," jawan Bu Irina.
"Ya udah Ma, kami pergi ya?" sebelum melangkah keluar rumah, Nabila berpamitan dengan Bu Irina.
"Hati-hati, sayang!"
-------------------------
Nabila terlihat sedang fokus dengan beberapa dokumen diatas mejanya, untuk ia bawakan kehadapan Pak Johnatan. Ia lirik jam sudah hampir jam dua belas, tersenyum sekilas tak sabar ingin pergi menemui suaminya siang ini.
"Om, beneran ini kan nggak apa-apa ya Nabila cuti dua bulan?" Setelah menyerahkan dua berkas dokumen penting, Nabila meyakinkan Omnya sekali lagi, mengingat ia adalah tangan kanan di firma hukum ini. Semuanya sudah dipercayai pada Nabila tanpa terkecuali.
Pak Jonathan mengangkat kedua bahunya, "Mau gimana lagi? kamu juga perlu waktu buat diri kamu sendiri, pernikahan kamu udah berjalan dua taun, dan memang udah waktunya kalian memikirikan masa depan untuk fokus punya anak kan?" Jelas Pak Jonathan.
"Iya Om, doain ya, bye Om," Nabila bangkit dari duduknya. "Mau kemana kamu?" tanya Pak Johnatan.
"Mau ke kantornya Tama, mau lunch bareng," Nabila melangkah menuju pintu keluar.
"Oh okey, salam buat dia ya!"
"Baik Om, Nabila pergi ya."
Perlahan, Nabila menuruni anak tangga, tiba-tiba tapak heels yang ia kenakan patah sebelah. "Aw, ya ampun sakit banget," Nabila duduk sebentar di tangga sambil memegangi pergelangan kaki kanannya.
Kok patah sih? udah waktunya kali ya? Nabila menatap heels favoritnya yang setiap hari selalu ia kenakan, bukan karena tidak ada yang lain. Tapi hanya ini yang selalu ingin ia kenakan.
Nabila mencoba bangkit lagi, perlahan ia turun lagi meski merasakan sedikit tidak nyaman pada kakinya.
Sudah tiba didalam mobil, Nabila meraih ponselnya untuk menghubingi Tama.
Satu kali panggilan, dua kali, hingga ketiga kali barulah tersambung.
"Sibuk banget ya sayang?" tanya Nabila saat lelaki diseberang sana mengatakan halo.
"lumayan, udah mau jalan kesini?"
"Iya, kamu mau makan apa? Eh iya, Papa ada disana nggak? biar aku beliin sekalian makan siangnya." ponselnya ia jepit diantara bahu dan pipinya. Perlahan ia mulai melajukan mobilnya untuk keluar dari area kantornya.
"Aku tersersah kamu aja, kamu kan tau selera aku. Papa ada tapi bentar lagi mau meeting sama klien penting di hotel."
"Oh ya udah, okey. Tunggu aku ya!"
"Ya sayang, hati-hati nyetirnya."
Panggilan pun terputus, Nabila mulai berpikir makanan apa yang akan ia beli.
-------------------------------
Setengah jam kemudian, setelah membelah jalanan kota Jogjakarta disiang hari, Nabila pun tiba di depan gedung Firma Hukum milik Papa mertuanya.
"Untung ada sepatu cadangan di mobil," ujarnya sambil menatap kedua kakinya setelah turun dari mobil, Kemudian Nabila berjalan pelan sambil menenteng sebuah paper bag berisikan 2 lunch box untuknya dan untuk Tama.
Nabila disambut ramah oleh satpam dan petugas yang bekerja di bagian depan, karena ini bukan pertama kalinya Nabila menginjakkan kaki disini, hanya saja sudah sekitar dua bulan Nabila tidak pernah mengunjungi gedung ini.
Nabila langsung menuju lift dan memencet angka empat, lantai tertinggi di gedung ini, dimana ruangan suaminya berada.
Sudah tiba tepat depan ruangan suaminya, ia hanya berdiri didepan pintu.
"Ide kamu bagus juga, okey strategi itu bisa kita terapkan untuk kasus ini," ucap Tama pada salah satu dari mereka.
"Kalau kamu gimana? ada pendapat?" pandangan Tama beralih pada wanita disamping kirinya. Mereka sama sekali belum menyadari kehadiran Nabila saat ini.
"Hai Nabila, kenapa berdiri aja? masuk lah," Nabila dikejutkan oleh suara yang sangat familiar, ia pun menoleh. Dan ternyata itu adalah Pak Darwin, Papa mertuanya.
"Iya Pa, ini mau masuk." jawab.
"Hai sayang? udah lama? kenapa disitu? sini!" Tama baru menyadari kehadiran istrinya langsung bangkit dan menyambut Nabila.
"Enggak kok baru aja," jawab Nabila dan melangkah masuk.
"Oh iya, kalian boleh istirahat. Nanti kita sambung lagi," Tama langsung mempersilahkan dan memberi kode pada ketiga rekannya.
"Oke Pak,"
Sebelum keluar, mereka melempar senyum kepada Nabila, dan Nabila pun membalasnya dengan ramah.
"Kata kamu, Papa mau meeting, aku cuma beli makanannya dua loh," Nabila memelankan suaranya karena saat ini didalam ruangan juga ada Pak Darwin.
"Ini Papa mau pergi, kalian silahkan menikmati waktu makan siang berdua ya?" ternyata Pak Darwin mendengar ucapan Nabila.
"Iya Pa, hati-hati."
Kini mereka berdua duduk bersebelahan di sofa, Nabila mengambil salah satu box dan ia serahkan pada suaminya.
"Kamu, tau aja aku lagi pingin ini," Tama tersenyum ke arahnya.
Kemudian mengambil box makanannya, "Kamu makan apa?" Tanya Tama.
"Oh, ini salad sayuran. Aku lagi nggak pingin nasi," jawab Nabila sambil membuka kemasan makanan itu.
"Kok akhir-akhir ini, selera makan kamu aneh ya?" Tama bertanya sambil mengunyah makanannya.
"Nggak paham juga sih," Nabila sendiri tak mengerti mengapa. "Oh iya, aku baru liat tadi yang rambut pendek, baru ya disini?" Nabila bertanya dengan hati-hati, saat menyadari ada wajah baru di kantor suaminya.
"Oh, Marsha? iya baru, anak magang."
"Oh..." Nabila hanya menjawab satu kata sambil membulatkan mulutnya.
"Tapi dia pintar loh, ide-idenya tuh selalu bisa membantu kalo aku lagi buntu." hati Nabila sedikit tergores mendengar pujian dari suaminya, untuk wanita lain.
"Oh ya? emang kasus yang lagi kalian tangani sekarang berat ya?" Nabila meletakkan lunch box miliknya dan meraih beberapa lembar kertas yanh masih berserakan diatas meja.
"Gitulah, aku aja kadang pusing mikirnya," Jawab Tama.
"Aku baca ya? siapa tau aku bisa bantu kamu," ucap Nabila dan mulai membaca kalimat demi kalimat namun tiba-tiba saja Tama menarik kertas dalam genggamannya secara paksa.
"Nggak usah Nabila, biar aku sama tim aku aja yang nyelesaiin ini," jawab Tama dengan nada yang sedikit kasar.
"Aku cuma niat bantu loh, kok kamu marah?" Nabila heran dengan sikap Tama saat ini.
"Aku nggak marah, kalau kamu bantu aku, aku ngerasa rendah aja dimata kamu, aku tau kok kamu itu pintar... hebat, pengacara andalan. Tapi benar, aku nggak butuh bantuan kamu!"
Nabila terdiam kaku mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Tama, ia menelan salivanya kasar tak menyangka Tama akan sekasar ini dengannya hanya karena masalah kecil.
"Ka-kamu nganggap aku saingan? aku tuh istri kamu Tama, aku cuma pingin bantu--"
"Nggak usah sayang, makasih. Aku bisa sendiri tanpa bantuan kamu," Tama bangkit dari duduknya dan membereskan lembaran-lembaran kertas itu, merapikan kembali, menyimpannya tanpa tersisa.
Nabila tidak meneruskan makannya, seleranya hilang seketika. Ia hanya terdiam dengan posisi yang masih sama, duduk di sofa. Sementara Tama sedang sibuk di meja kerjanya.
Tama kembali duduk disampingnya, "kenapa makannya nggak diterusin?" tanya lelaki itu.
"A-aku..." dada Nabila masih terasa sesak mengingat kata-kata dan nada kasar yang diucapkan Tama padanya.
"Aku mau pulang, kayaknya aku perlu istirahat." Nabila bangkit dari duduknya, namun Tama menahannya. "Kamu marah sama aku? karena kata-kata aku tadi?"
"Nggak kok, aku cuma butuh istirahat," langkah Nabila tertahan dan gontai karena kaki kanannya terasa sakit saat digerakkan.
"Kaki kamu kenapa?" Tama mengikuti langkahnya.
"Nggak apa-apa," Nabila masih berjalan tanpa menghiraukan suaminya.
"Sayang, sorry kalau kata-kata aku..."
"Aku nggak apa-apa kok," sangkal Nabila.
"Sini kaki kamu biar aku liat," Tama masih memaksa, namun Nabila tetap bertahan berjalan dengan sedikit pincang.
Tiba-tiba asisten Tama menghampiri mereka, "Maaf Pak nggak bermaksud mengganggu, tapi... ada klien yang mau ketemu sekarang."
Nabila langsung menghempaskan tangannya dari cengkeraman Tama. Dan ia pun kembali berjalan menuju lift. Siang hari yang cerah, namun kelabu untuk Nabila.
--------------------------
Hai jangan lupa pencet like dan komentarnya ya 😂😂😂