My Wife, My Boss

My Wife, My Boss
Minta di Lamar



Setelah turun dari mobil Tama, Nabila langsung masuk kerumahnya, dan ternyata Mamanya sudah menunggu diruang tamu.


"Bagus, tepat waktu kamu pulang, berarti Tama laki-laki yang baik," ucapan Mamanya mengagetkan Nabila.


"Ah Mama, masih jam segini, kalau pun telat sedikit nggak apa-apa dong, Nabila bukan anak kecil lagi Ma." Ucapnya sambil melepaskan flat shoesnya dan meletakkan ke rak sepatu.


"Iya, tapi kamu kan masih tanggung jawab Mama, kalau terjadi apa-apa sama kamu, siapa yang repot? Mama kan?" Mamanya masih saja nyerocos.


"Iya Ma, Iya." Nabila mengiyakan berharap Mamanya berhenti mengomel.


"Tapi Mama yakin sepertinya Tama itu laki-laki yang baik, dia nggak mungkin macam-macam sama kamu, iya kan?"


"Nggak macam-macam apanya Ma," Nabila mengingat sudah berapa kali Tama selalu berusaha mencari kesempatan untuk menciumnya.


"Eh sebentar, maksud kamu?"


"Enggak Ma, Nabila masuk ya," setelah berada di dalam kamar, Nabila menghela nafas kasar, kok bisa keceplosan sih. ah ceroboh. sambil memukul kepalanya.


Setelah berganti pakaian, dan menghapus makeup nya, Nabila menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur. Setelah kembali dari kamar mandi, Nabila membuka laptopnya, dan melirik ke arah jam dinding di kamarnya, menunjukkan pukul 23.10.


Masih jam segini, nonton dulu ah.


Tak lama kemudian, Ting. Ponselnya berbunyi ada chat masuk, ia segera meraihnya. Sebenarnya Nabila sudah tahu siapa yang mengirim chat kepadanya di jam segini, siapa lagi kalau bukan..


Satrya Tama F


kamu lagi apa?


Nabila mulai membalas, hingga akhirnya mereka asyik berbalasan chat seperti anak remaja yang lagi kasmaran,


(Aku mau nonton drama Korea, kamu udah nyampe rumah?)


(Udah, tapi aku nggak bisa tidur)


(Kenapa?)


(Karena nggak dapet 😘)


(Apa yang ada di dalam pikiranmu hanya itu?)


(Iya, apalagi saat berdua denganmu 🤪)


( aku nggak nyangka punya pacar se agresif ini )


(setelah menikah nanti kamu akan tahu aku se agresif apa, dan kamu harus siap!)


Nabila menggeleng dan memilih tidak membalas lagi chat itu, dia melanjutkan niatnya sebelumnya.


"Nonton yang mana ya?" Nabila sambil memilih judul drama yang belum pernah ia tonton, saat sedang asyik memilih, ponselnya berdering.


--- Dalam panggilan ---


"Hallo,"


"Kenapa nggak balas lagi?"


"Hem, males. ternyata semua laki-laki sama aja ya?"


"Apa ada laki-laki lain yang seperti itu terhadapmu selain aku?"


"Nggak, cuma kamu."


"Hem, aku semakin nggak sabar,"


"Menikah denganmu,"


"Kenapa kamu terlalu terburu-buru?"


"Karena aku nggak mau penantianku yang menahun itu sia-sia."


"Benarkah? kalau begitu lamarlah aku."


"Apa kamu sedang menantangku sayang?"


"Iya, lebih tepatnya aku perlu bukti dengan semua ucapanmu."


"Oke, kamu harus siap ya."


"Iya. udah ya, aku mau nonton dulu,"


"Love you sayang,"


"Love you too."


--- Panggilan berakhir ---


Kenapa malah aku yang minta di lamar sih, padahal kan dia yang menggebu-gebu. Nabila, ini memalukan.


***


Tama merasa kering pada tenggorokannya, sehabis berbincang ria dengan kekasihnya tadi via telepon, ia membuka kulkas mini yang ada di kamarnya, "kosong, oh iya pada abis."


Lalu ia keluar dari kamarnya, kemudian turun ke bawah menuju dapur, hendak mengambil minuman dingin di kulkas, dan ia mendapati Mamanya.


"Ngapain Ma?" ucapnya sambil membuka kulkas.


"Papamu minta di masakin mi instan lapar katanya."


"Kok nggak bangunin Bi Ijah aja?"


"Kalau cuma ini Mama bisa, kasihan dia udah seharian kerja kalau di bangunin, Mama nggak tega."


"Ehm, bagaimana tanggapan Mama mengenai Nabila?"


"Dia cantik, sopan, sepertinya pintar juga." Kata Bu Irin sambil mencicipi mi di hadapannya.


"Benar Ma, dia punya satu kesamaan loh dengan Mama."


"Oh ya? apa itu?" Bu Irin mengerutkan dahinya.


"Sama-sama nggak bisa masak. haha"


"Ih kamu ya."


"Sayang, kenapa lama sekali? Papa tungguin dari tadi loh." tiba-tiba Pak Darwin menyusul ke dapur.


"Pa, jaga kesehatan dong, Papa udah tua. jam segini makan mi instan," ucap Tama sambil berlalu hendak meninggalkan dapur.


"Sejak kapan kamu perhatian sama Papa?" Tanya Pak Darwin, namun Tama tak menjawab ia hanya membalas dengan senyum kecil, dan langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.


***


Bersambung ❤